Tambak Ikan Desa Lampuyang Kok Gunakan Terpal, Kenapa?

    SAMPIT – Kolam tambak ikan menggunakan terpal ternyata sangat efektip di desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur(Kotim), Kalteng. Selain mudah dan peraktis, pembuatan kolamnya tak banyak memakan biaya.

    Ditambah air sungai yang payau rupanya serasi dengan jenis Ikan Patin dan Nila yang mereka budidayakan. Ternyata, persentase keberhasilannya juga sungguh sangat mengejutkan. Selain itu, tidak ada bibit ikan yang mati selama ditebar dikolam buatan ini.

    Tumbuh kembang ikan juga cepat dengan pakan buatan sendiri. Kini kolam ikan buatan warga Desa Lampuyang ini sudah berumur 3 bulan. Sekitar satu bulan lagi ikan-ikan tersebut akan siap dipasarkan.
    Pengelalaan ikan budidaya tambak oleh Kelompok Usaha Bersama(KUB) Desa Lampuyang yang menerima bantuan dari Kementrian Sosial pada September 2016 lalu telah mengembangkannya.

    Masing-masing menerima bantuan sebanyak Rp 20 juta. Dikawasan sekitar sungai Lampuyang Kecil ada tiga KUB yang mengembangkan perikanan tambak bantuan Kemensos itu. Yakni, Sumber Rejeki, Laut Biru dan Angkasa Raya, yang berada di Jalan Padat Karya 1 dan 2 Desa Lampuyang.

    Sugito, salah satu petani tambak dan pendamping KUBE ketika ditemui beritasampit, Rabu(15/2/2017) sore mengatakan, setelah menerima bantuan dari Kemensos, pihaknya langsung mengerjakan pembudidayaan ikan tambak dengan menggali lahan yang tersedia.

    Dengan ukuran galian kolam yang tidak terlalu dalam dan di0asangi terpal sekitar 10 x 20 meter dan ada yang 6 x 20 meter ikan akan nyaman didalamnya dengan mengambil air sungai di saat air pasang.

    “Kita menabur bibit patin kemaren sekitar Desember 2016 sebanyak 4.000 ekor, sudah berumur 3 bulan yang beratnya sekitar 3-4 ons,” ujarnya ketika memberi makan ikannya. Dia juga mengatakan, ikan patin yang mereka budidayakan sangat serasi dengan air yang ada di sungai sekitarnya. Tak ada bibit ikan yang mati selama ditempatkan dikolam.

    Pakan ikannya buatan sendiri. Kalau pakan yang dijual dipasaran pertumbuhan ikan lambat. Kita bikin pakan sendiri,” Hanya membawa bahan, mengolahnya ke desa Sei Ijum Raya, Kecamatan MHS Samuda yang punya mesin pengolahnya,” ujarnya.

    Hal senada dikatakan, Zakaria, anggota KUBE Angkasa Raya, ada lima kolam tambak budidaya yang mereka kelola dan menurutnya, sangat menjanjikan. Kita menabur bibit ikan nila dan patin ke kolam juga tak ada yang mati. Ikan tampak lebih sehat dan semakin membesar. Kita katanya, merawat ikan itupun mudah. Hanya cukup mengganti air kolam setengah bulan sekali menggunakan mesin pompa.

    “Ikan semakin tumbuh besar karena airnya yang cocok,” ujarnya. Lanjutnya menambahkan, menaruh bibit ikan di kolam sekitar Desember 2016 lalu, untuk ikan nila sebanyak 2.000 ekor dan ikan patin sebanyak 10.000 ekor.

    Perkembangan ikan tambak budidaya disini sambung Zakaria, meskipun baru dikelola, namun prospeknya sangat menjanjikan. “Dari awal bibit yang kita tabur keberhasilannya sudah bisa diprediksi. Harapan kami lebih memaksimalkan keberhasilan KUBE disini, setidaknya memiliki mesin pembuat pakan sendiri,” pinta Zakaria. (mar/beritasampit.co.id)