Tempa Kualitas Diri Di Organisasi

    INGIN berubah menjadi pribadi yang cerdas nan berkualitas, merupakan tekad seseorang perempuan yang bernama Fiana Putri Inanda.

    Sejak tahun 2012 lalu, ia mendaftarkan diri di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Kuala Kapuas, dengan mengambil fakultas tarbiyah program studi (prodi) pendidikan agama Islam (PAI), dan lulus pada tahun 2016 kemarin.

    Mulanya, kelahiran 24 April 1995 tersebut, mengikuti orientasi pembekalan mahasiswa baru (orpemba) STAI Kuala Kapuas pada tahun 2012 silam. Di sana ia diperkenalkan dengan berbagai organisasi, baik intra kampus maupun ekstra kampus. Salah satunya, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

    “Karena diajaki teman, saya pun ikut-ikutan memilih HMI. Tapi memang ketika itu ada ketertarikan untuk bergabung, karena melihat anggota-anggotanya berkualitas, dan kelihatan pintar waktu diorpemba itu,” ungkapnya.

    Ternyata, kata dia, step by step (selangkah demi selangkah) dirinya mulai ditempa, dengan aktif mengikuti jenjang training HMI yang formal, maupun non formal. 

    “Seperti basic training, intermediate training, latihan khusus kohati, hingga pelatihan jurnalistik,” katanya.

    Selain itu, menurut mantan bendahara umum HMI Komisariat STAI periode 2013 – 2014 tersebut, disitulah ia juga disuguhkan dengan forum ilmiah atau kajian strategis, baik di seputaran remaja, pemuda, kampus, daerah hingga nasional.

    Serta, tambah dia, untuk pengembangan diri pun tak luput disuguhkan.”Seperti diajarkan mengaji, menjadi moderator, menjadi narasumber, membuat makalah, persentase makalah, hingga berorasi,” ungkap alumni MTsN Selat Kabupaten Kapuas tersebut.

    Yang jelas, kata mantan Ketua Umum Korps HMI-Wati (KOHATI) HMI Cabang Kuala Kapuas periode 2015 – 2016 itu, di HMI dirinya diajarkan untuk melakukan proses pendewasaan diri.

    “Maksudnya, mampu menyikapi permasalahan-permasalahan yang ada dengan benar dan baik, agar saya menjadi pribadi yang berguna untuk lingkungan, baik dilingkungan keluarga, kampus dan seterusnya,” ujar Fiana sapaannya.

    Kemudian, dirinya juga ditempa menjadi pribadi yang selalu siap dengan tugas, dan mampu mempertanggungjawabkannya.

    Ia yang sekarang menjabat sebagai Bendahara Umum Badan Koordinasi Korps HMI-Wati (Badko Kohati) Kalimantan Selatan dan Tengah periode 2016 – 2018 tersebut, menambahkan, secara praktik dirinya juga dilatih untuk bisa mencari solusi walau dalam keadaan terhempit sekali pun.

    “Harus mampu memahami orang-orang yang dengan karakter berbeda tapi harus tetap seirama untuk tujuan yang sama,” papar peringkat kedua intermediate training tingkat nasional di Banjarmasin tersebut.

    Dikatakan, alumni SMKN 2 Kapuas tersebut, dirinya juga dididik untuk bergaul (berteman) dengan siapa saja. Tentunya pergaulan tersebut membawa faidah (asas kebermanfaatan) baik terhadap dirinya, maupun orang lain.

    “Dengan seperti itu kita menjadi pribadi yang matang dan dewasa,” ujarnya.

    Terkait masalah yang ada di organisasi, ia menjadikan masalah itu menjadi sebuah tantangan yang harus diselesaikan.

    Karena dengan demikian, Ia akan lebih mudah menyelesaikan setiap permasalahan yang ada, dengan cara menurunkan ego masing-masing demi kebaikan dan tujuan bersama.

    “Itulah tantangan di organisasi, bagaimana kita harus mampu mengeyampingkan kepentingan pribadi untuk kemaslahatan bersama,” tekannya.

    Sehingga, dengan seperti itu, setiap kegiatan bisa dilaksanakan, dengan tulus, ikhlas, serta tuntas.

    Selain itu, Fiana juga mulai paham, ternyata di organisasi juga mengajarkan memanjemen waktu. 

    “Kapan kuliah, berorganisasi, dan aktivitas lainnya, sehingga setiap waktu selalu berirama dalam proses pengembangan diri,”tegas Fiana (hd/beritasampit.co.id)

    (Visited 2 times, 1 visits today)