GAWAT…Banjir Mulai Melanda Puluhan Desa Pelosok Kotim

    SAMPIT – Puluhan Desa yang ada di Kabupaten Kotawaringin Timur mulai dilanda banjir. Penyebabnya karena curah hujan yang tinggi dan berlangsung terus menerus dalam sepakan terakhir. Sehingga sungai kecil dan sungai besar tidak mampu menampung luapan air.

    Alhasil tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Benncana Daerah (BPBD) Kotim langsung diterjunkan untuk memantau guna mengetahui secara akurat berapa rumah yang terendam, berapa ketingian air di jalan dan masuk rumah warga.

    Kemudian apakah akses jalan masih bisa dan apa saja kerugian materil dan lainnya. Dari data yang diterima BPBD Kotim,  informasi sementara dari Camat Mentaya Hulu telah terjadi banjir di Desa Tangar dan Desa Baampah. Dari laporan tersebut, diprediksi akan semakin meluas akibat hujan lebat mulai jam 18.00 WIB, Kamis (2/3/2017).

    Dilokasi tersebut ada sekitar 15 buah rumahyang terendam RT 01 dengan ketinggian air kurang lebih 1 meter dari jalan. Untuk RT 04, ada 2 buah rumah yang terendam drngan ketinggian air kurang lebih 30 cm dari jalan.


    “Sementara belum ada yang masuk rumah, hanya akses jalannya terputus dan terpaksa harus memakai ces/perahu. Ini berdasarkan laporan Sekdes Tanggar,” ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kotim, Sutoyo, (3/3/3017).

    Dia melanjutkan untuk laporan Kecamatan Kota Besi khususnya Desa Hanjalipan juga sudah mulai banjir. Laporan sementara dari camat setempat, sudah ada 3 rumah yang terendam dan ketinggian dari lantai rumah mencapai 10-30 cm dan sebagian akses jalan sudah terendam.

    Begitu pula di desa Tumbang Tilap Kecamatan Bukit Santuai. Ketinggian air dari jalan 30-40 cm dan ini terjadi sejak satu minggu yang lalu. Selanjutnya Begitu juga di Desa Baampah 3-5 rumah sudah mulai banjir, bahkan air terus naik. Kemudian Desa Bajarau Parenggean juga mengalami hal yang sama.

    “Mereka beraktifitas mengunakan ces/perahu. Kami masih menunggu perkembangan selanjutnya. Tim TRC terus melakukan pemabtauan dan berkoordinasi dengan pihak kecamatan dan desa. Untuk logistik karena ini belum dikatakan darurat jadi masih belum dilakukan, pungkasnya. (raf/beritasampit.co.id)