​Mediasi Tak Sesuai Harapan, Poktan Desa Penyang Siap Portal Kembali Lahan Sengketa PT. MAP

    SAMPIT – Mediasi yang dilaksanakan di Hotel Idola, Jalan MT Haryono,Kecamatan MB Ketapang,pada Sabtu (16/9/2017) pukul 08.00 WIB pagi lalu antara management PT. MAP dengan Poktan Karya Itah dan Pembudidayaan Tanaman Rotan berujung runyam.

    Pasalnya pihak management PT MAP bersikeras enggan memenuhi permintaan dua Kelompok Tani Desa Penyang,Kecamatan Telawang tersebut yang menuntut ganti rugi atas tanah bersengketa di areal PT setempat yang berkeluasan hampir 1000 Hektar itu.

    Bahkan Pihak Management PT. MAP (Mulia Agro Permai) yang dampingi beberapa pihak, yang sebenarnya bukan orang management perusahaan itu menuding tanah yang dimaksud oleh warga di Kelompok Tani tersebut sudah di ganti rugi, dengan memperlihatkan surat hasil putusan pengadilan di tengah mediasi.

    Mediasi yang di iringi adu argument antada dua pihak, yang mana saat itu juga hadir Camat Telawang, dan perwakilan Camat MB Ketapang, berujung pada deat locknya putusan. Camat Telawang dan perwakilan Camat Ketapang meminta pihak management PT MAP untuk menyerahkan data-data mereka terkait pembebasan lahan yang di sengketakan tersebut.

    “Kita tidak mau tau dengan siapa perusahaan membayar, yang jelas Uwar (selaku ketua kelompok tani) tidak pernah menerima ganti rugi atas lahan itu, pertanyaannya mampukan pihak perusahaan PT. MAP membuka secara jelas siapa penerima uang ganti rugi atas lahan itu,” ungkap Ahmad Yani selaku koordinator dan penerima kuasa poktan tersebut Minggu (17/9/2017) tadi siang.

    Bahkan Ahmad Yani dengan tegas mengatakan, jika pada hari Rabu mendatang pihak PT. MAP tidak menyerahkan data-data yang dimilikinya terkait pembebasan lahan itu, pihaknya akan tetap pada perjanjian awal mediasi,” Kita akan lakukan pemortalan kembali, itu sudah pasti apabila tidak ada hasil yang sesuai harapan masyarakat, pihak Mangement PT. MAP sudah diminta menyerahkan berkas putusan pengadilan,data siapa yang menerima uang ganti rugi atas lahan sebesar itu,” timpalnya.

    Bahkan dalam hal ini, Uwar yang merupakan pemilik lahan, yang sebelumnya menyatakan pernah melakukan pengukuran dengan pihak manaement PT MAP ditemani Kepala Desa dan Sekertaris Desa beberapa waktu lalu,dalam surat pernyataannya tidak pernah satu persenpun menerima uang ganti rugi atas tanah 349 Hektar yang di ukur sebelumnya itu.

    “Waktu itu si Uwar ini menemui Pak Lubis (Manager Estate) PT MAP itu,setelah dilakukan pengukuran, ternyata pihak perusahaan menyatakan sudah pernah membayar uang ganti rugi itu dengan soudara Uwar ini,karena dia merasa tidak pernah menerima, hal ini dia bantah melalui surat pernyataan yang dibuatnya itu,” timpal Yani.

    Ditempat terpisah Yono yang juga merupakan penerima kuasa atas sengketa lahan tersebut, sempat menyatakan dirinya siap mengembalikan lahannya yang sebelumnya diduga kuat merupakan Hutan Lindung yang mana saat ini juga sudah di garap dan ditanami pokok sawit oleh PT MAP tersebut.

    “Saya akan kembalikan tanah itu pada Negara apabila benar lahan itu sebelumnya merupakan Hutan Lindung, tidak masalah hak saya hilang,tapi asal kembali pada negara, karena hal saya juga sudah dirampas oleh PT. MAP, nanti kalau ke lapangan akan saya tunjukan lahan saya yang digarap itu,” ujar Yono.

    Sampai saat ini kedua pihak yang bersengketa tersebut masih menunggu hasil mediasi lanjutan yang akan dilaksanakan pada Hari Rabu mendatang. Dalam mediasi nanti pihak management perusahaan diminta membawa dan menyerahkan data-data mereka terkait siapa yang menjual,dan putusan pengadilan tersebut.

    (drm/beritasampit.co.id)

    (Visited 1 times, 1 visits today)