Jelang Natal, Harga Telur Mulai Meroket

    KASONGAN – Menjelang hari raya Natal dan Tahun Baru, harga telur ditingkat pasar Kasongan mulai melonjak naik. Dari harga Rp45 ribu perraknya menjadi Rp48 ribu. Kenaikan harga itu pun membuat masyarakat sangat kecewa. Pasalnya, imbas dari kenaikan itu membuat berbagai bahan makanan seperti kue, dan lain sebagainya akan melonjak juga.

    Dari pantauan beritasampit.co.id, di pasar tradisional Kelurahan Kasongan Lama, Jumat ( 8/12/2017), hampir seluruh pedagang kompak menaikan harga berbagai barang jelang perayaan Natal dan tahun baru 2018. Kenaikan yang paling menonjol yakni harga telur ayam.

    800

    Seorang pedagang telur, Oppie (29), menjelaskan, bahwa sekitar dua minggu lalu stok telur ayam di Kasongan sempat kosong. Akibatnya warga kelimpungan untuk mencarinya.

    “Normalnya harga telur satu tabak (rak) itu Rp45 ribu, sekarang sudah naik menjadi Rp48 ribu. Telur yang paling dirasakan naiknya, sedangkan harga bawang, cabai, dan sayur lainnya masih standar,” bebernya.

    Pedangang itu mengakui, kenaikan harga telur ayam selalu terjadi terutama menjelang hari-hari besar keagamaan yaitu seperti menjelang Hari Natal dan Tahun Baru. Menurutnya, kenaikan harga telur ayam terjadi dua kali sepanjang tahun 2017. Pertama jelang Hari Raya Idul Fitri dan perayaan Natal serta tahun baru 2018.

    “Untuk stok telur di Kasongan rata-rata didapat dari distributor di Banjarmasin, kadang sering juga dari Sampit. Apa daya kami juga tidak mau rugi. Intinya menyesuaikan harga saja, kalau naik ya ikut naik, begitu juga kalau harganya sudah turun,” katanya.

    Sementara itu, Nanang ( 24) warga Kelurahan Kasongan Lama, usai membeli telor, mengatakan, bahwa diduga meroketnya harga telur merupakan ulah permainan oknum di tingkat distributor. Disinyalir oknum itu sengaja menyimpan barang saat permintaan sedang tinggi, sehingga memicu kenaikan harga.

    “Ya, memang anek juga kan pak, kenapa setiap tahun kejadiannya seperti ini terus. Logikanya pasti ada orang-orang (oknum, Red) yang sengaja mengambil kesempatan untuk menaikan harga dengan cara menimbun telur. Nanti kalau harga sudah naik, baru dilepasnya ke pasar biar dapat untung besar,” ujarnya bernada kesal.

    Lanjut Nanang, usai peringatan hari-hari besar keagamaan harga telur ayam dan kebutuhan pokok lainnya akan kembali normal. Karena itu, dituntut perhatian pemerintah untuk memonitor pedagang agar tidak menyimpan barang yang berakibat pada kenaikan harga.

    “Kalau tahun lalu ada yang namanya sidak ke pasar-pasar untuk mengecek stok barang hingga potensi kenaikan harga oleh pemerintah,” pungkasnya. (ar/beritasampit.co.id)