Roh Leluhur Dipanggil Amankan Palangka Raya

    PALANGKA RAYA – Warga Dayak Kota Palangka Raya menggelar ritual ‘pembersihan’ wilayah, tepat di pagi hari pertama tahun 2018, atau Senin (1/1/2018). Ritual yang disebut Mamapas Lewu ini ditandai dengan pemberian sesajen berupa kepala kerbau untuk memanggil roh para leluhur agar terus menjaga dan mengamankan masyarakat maupun alam Kota “Cantik”.

    Kegiatan tersebut dilakukan di kawasan Bundaran Besar, Palangka Raya dihadiri Walikota Palangka Raya HM Riban Satia, tokoh adat Dayak Lewis KDR, tokoh masyarakat Rizky R. Badjuri, sejumlah tokoh Agama Kaharingan, elemen pemuda, unsur pemerintahan daerah, dan lainnya.

    Walikota HM Riban Satia, menyebut, ritual ini merupakan kegiatan tahunan yang biasa dilaksanakan secara bersama oleh elemen masyarakat, didukung oleh Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya.

    Dijelaskan Riban, sepanjang hampir 10 tahun terakhir pemerintahannya, kegiatanMamapas Lewu ini rutin dilaksanakan, dimulai dimulai sejak januari 2009 lalu.

    Adapun waktu pelaksanaannya memang dipilih pada pagi hari pertama setiap awal tahun, dengan lokasi berpindah-pindah di seluruh wilayah Kota Palangka Raya, sesuai petunjuk para tokoh adat dan Agama Kaharingan selaku pelaksana ritual.

    “Melalui ritual ini, kita sama-sama berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa agar daerah kita, baik masyarakatnya maupun lingkungannya dijauhkan dari marabahaya, dapat hidup damai, tenteram, dan sejahtera,” ujar pria yang terpilih menjadi walikota dua periode ini.

    Seiring dengan momentum pergantian tahun ini, dia juga mengajak masyarakat sama-sama berdoa dan membangun Kota Palangka raya agar semakin maju, sehingga layak menjadi alternatif ibukota negara, sebagaimana amanat Bung Karno tatkala bersama tokoh-tokoh lokal mencanangkan pembangunan Kota Palangka Raya, tahun 1957 silam.

    Di kesempatan yang sama, tokoh adat Dayak yang juga tokoh Kaharingan Lewis KDR, menyebut, ritual Mamapas Lewu ini merupakan tradisi turun-temurun Suku Dayak di Kalimantan Tengah. Di daerah lain di Indonesia, ujarnya, ritual ini memiliki kemiripan tujuan dengan ritual “sedekah bumi”.

    Pada pelaksanaan yang bertepatan dengan momentum tahun baru ini, kegiatan Mamapas Lewudiawali dengan ritualManggantung Sahur, yakni berdoa sekaligus memasang niat melakukan kebajikan sehingga memperoleh keberkahan hidup di periode waktu yang akan berjalan.

    Ritual diisi dengan penyiapan sesajen berupa hasil alam seperti beras, nasi ketupat, kelapa, kue, rokok, dan kepala hewan yang kemudian dikubur di tanah. Ritual diiringi tabuhan suaraKatambung atau gendang khas Dayak Kalimantan Tengah, sebagai pengiring doa dan panggilan kepada roh para leluhur.

    “Kita memanggil (roh leluhur) yang sejak dulu menjaga Kota Palangka Raya, untuk terus melindungi manusia dan alam yang ada di daerah ini,” kata Lewis.

    Adapun kepala kerbau yang ditanam di tanah, terangnya, merupakan bentuk balasan kepada bumi yang telah menganugerahkan aneka kekayaan alam untuk dinikmati manusia yang hidup di atasnya.

    “Kita menikmati, hasil bumi, dan ini yang kita berikan kembali untuk bumi,” tambah Lewis. (sar/beritasampit.co.id)

    (Visited 1 times, 1 visits today)