Empat Orangutan Borneo Dikembalikan ke Alam Liar TNBBBR

437

Editor: A. Uga Gara

PALANGKA RAYA– Empat individu orangutan Borneo (Pongo pygmaeus) akan dilepasliarkan di alam liar Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah hari ini, Selasa (3/4).

Menurut CEO Yayasan BOS, Jamartin Sihite, pelepasliaran yang dilakukan merupakan bagian dari kampanye #OrangutanFreedom, dan diselenggarakan oleh Yayasan BOS bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah.

Selain itu juga bekerjasama dengab Balai TNBBBR, dan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) melalui program USAID LESTARI. “Ini adalah pelepasliaran yang kesembilan di TNBBBR,” jelas Jamartin melalui siaran pers yang diterima redaksi beritasampit.co.id.

Jamartin merinci, jumlah orangutan yang dilepasliarkan menjadi 79 individu di kawasan taman nasional tersebut. Pelepasliaran ini juga didukung oleh Blue Bird Group dan Save the Orangutan (STO). Empat orangutan yang dilepasliarkan terdiri dari satu individu jantan berusia 13 tahun bernama Meong dan tiga betina bernama Hayley (13), Nabima (18) dan Tari (5).

“Keempatnya telah menjalani proses rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng dan telah memiliki keterampilan dan perilaku yang memenuhi syarat agar bisa hidup mandiri di hutan,” jelasnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, keempat Orangutan tersebut selanjutnya akan dibawa dari Nyaru Menteng melalui perjalanan darat dan sungai selama 10-12 jam ke titik-titik pelepasliaran di TNBBBR. Setelah dilepasliarkan, orangutan akan dipantau penuh setiap hari selama dua bulan, dan setelahnya, pemantauan dilakukan dua jam per hari selama setahun.

Jamartin kembali menjelaskan, hingga saat ini lembaganya masih menerima bayi-bayi orangutan yang ditangkap dan dipelihara manusia dimana sejak Januari lalu, sudah ada 4 orangutan baru yang diterima dari dua pusat rehabilitasi orangutan, seperti Samboja Lestari dan Nyaru Menteng tempat merawat sekitar 600 orangutan saat ini. “Kami sangat menghargai semua laporan dan temuan dari masyarakat, namun ini juga berarti masih banyak orang tidak menganggap serius konsekuensi hukum akibat memelihara orangutan,” ucapnya.

Baca Juga:   Peduli Terhadap Masalah Gizi Anak, IMATELKI Usung "Aksi 5000 Susu Untuk Anak Negeri" di 12 Kota Indonesia

Dia menambahkan, dengan fakta masih maraknya penebangan ilegal di berbagai wilayah hutan, termasuk yang dilindungi, merupakan kondisi yang harus segera di perbaiki. Reforestasi memang dapat memperbaiki hutan-hutan yang rusak, namun itu butuh waktu yang sangat panjang.

Sementara kerusakan lingkungan telah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Oleh karena itu, pihaknya menegaskan perlunya penegakan hukum yang jelas dan tegas untuk mengubah persepsi masyarakat.

Menjelang Hari Bumi yang kita peringati setiap tahun di bulan April, mari kita bersama-sama mulai peduli dan merawat bumi tempat kita semua tinggal, bagi kita manusia dan juga untuk seluruh mahluk hidup lain di planet ini. “Konservasi adalah upaya bersama. Kita semua menanggung resikonya, kita semua menikmati keuntungan darinya, dan kita juga bertanggung jawab untuk melakukan perubahan menuju arah yang positif,” tukasnya.

Kepala BKSDA Kalimantan Tengah, Adib Gunawan menambahkan bahwa semua pihak harus memahami bahwa memburu, menangkap, memelihara, dan memperjualbelikan Orangutan ataupun satwa liar yang dilindungi lainnya adalah melanggar hukum dan harus dihentikan. Oleh karena itu dia menegaskan pentingnya upaya konservasi orangutan.

Menurut dia, saat ini masih ada ratusan orangutan yang berada di pusat-pusat rehabilitasi, menanti kesempatan untuk kembali ke alam. Kami bekerja sama dengan Yayasan BOS dan berbagai organisasi lain yang melestarikan orangutan dan habitatnya untuk melepasliarkan sebanyak mungkin orangutan yang sudah siap dilepasliarkan. “Hari ini, kami, Yayasan BOS, Balai TNBBBR dan USAID Lestari melepasliarkan 4 individu orangutan ke TNBBBR. Ini akan menambah jumlah orangutan di wilayah tersebut menjadi 79,” rincinya.

“Call Center kami masih menerima laporan baik secara langsung mengenai orangutan yang dipelihara warga. Kami perlu meningkatkan upaya penyadartahuan masyarakat terkait satwa yang dilindungi,” ucapnya menimpali.

Baca Juga:   Cuti, Fasiltas Negara Dikembalikan

Sesuai dengan SRAK (Strategi dan Rencana Aksi Konservasi) Orangutan lalu, jika kita memang berniat menjamin keberlanjutan populasi orangutan dan habitatnya melalui kemitraan para pihak, kita semua, baik itu pemerintah, masyarakat, organisasi nirlaba, dan pelaku bisnis harus segera mengambil langkah nyata melindungi habitat dan satwa liar yang masih tersisa secara berkelanjutan sejak hari ini. Jangan sampai terlambat.

Sementara itu, Kepala Balai TNBBBR Wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat Heru Raharjo mengatakan bahwa sejak 2016, TNBBBR di wilayah Kabupaten Katingan telah menampung 75 orangutan hasil rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng. “Kita akan terus menambah populasi tersebut. Sesuai survey, daya dukung hutan di kawasan tersebut bisa menampung tidak kurang dari 250 orangutan.

“Keamanan orangutan berada di habitatnya merupakan kunci untuk menjaga kelestarian program pelepasliaran orangutan dan menjamin terbentuknya generasi baru orangutan liar. Mengingat hutan di TNBBBR mendapatkan pengakuan global dengan ditetapkan sebagai kawasan konservasi Situs Warisan Dunia oleh UNESCO, tentu kita semua wajib menjaga kondisinya sebaik-baiknya. Upaya pelepasliaran ini merupakan salah satu upaya terbaik kita semua dalam menjaga kekayaan alam di TNBBBR,” ucapnya.

Koordinator USAID LESTARI di Kalimantan Tengah, Rosenda Chandra Kasih menggarisbawahi pentingnya kerja sama berbagai pihak untuk menyelamatkan orangutan dari kepunahan. “Kegiatan pelepasliaran ini merupakan bukti nyata kerjasama para pemangku kepentingan di Kalimantan Tengah untuk menyelamatkan orangutan, spesies kunci di Kalimantan Tengah.

“USAID LESTARI berkomitmen mendukung secara aktif program pelepasliaran orangutan di TNBBBR dalam periode 2016-2018. Kami sangat mendukung upaya pengelolaan lahan dan hutan yang lebih baik dan kami yakin bahwa dengan pendekatan tersebut, pelestarian satwa yang ikonik ini, akan bisa terwujud. Namun pelaksanaan ini membutuhkan kerja sama semua pihak,” jelasnya.

(rls/beritasampit.co.id)

Komentar Facebook

comments