Tokoh Kaharingan Harap Dilibatkan dalam Peradilan Asat Kasus Wilmar

109
Anggota DPRD Kalteng dari Fraksi Demokrat, Punding LH Bangkan.

PALANGKA RAYA – Prosesi sidang adat akan dilaksanakan oleh Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Tengah terhadap PT Mustika Sembuluh, anak perusahaan Wilmar Group. Pasalnya, kasus penyerangan yang dilakukan oleh oknum satuan pengaman (Satpam) PT Mustika Sembuluh tersebut, bukan hanya berkaitan dengan situs budaya, tetapi erat kaitannya dengan kepercayaan masyarakat setempat, yakni Agama Hindu Kaharingan.

Anggota DPRD Kalimantan Tengah, Punding LH Bangkan l, kepada wartawan, kasus pengrusakan terhadap Sandung, Sapundu, Bukung yang terjadi di Desa Pondok Damar, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kabupaten Kotawaringin Timur bukanlah kasus sembarangan.

Baca Juga:   Punding : Proses Hukum Kasus AKT dan MS Tidak Ada Pembedaan

Hal ini terjadi karena kasus tersebut sangat erat kaitannya kepercayaan masyarakat, khsusnya umat Hindu Kaharingan, sehingga dalam penyelesaiannya, sudah diharuskan melibatkan para tokoh Kaharingan yang ada di Provinsi ini.

“Kita meminta kepada pihak PT Mustika Sembuluh untuk bertanggung jawab atas insiden pengerusakan tersebut. Karena dalam kasus ini erat kaitannya kepercayaan masyarakat, khususnya umat Hindu Kaharingan, jadi penyelesaian permasalahan tersebut selain tokoh adat, juga harus melibatkan tokoh umat Hindu Kaharingan,” ungkap Sekertaris Komisi B DPRD Kalteng, Selasa (10/4).

Wakil Rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kalteng V meliputi Kabupaten Pulang Pisau dan Kabupaten Kapuas ini juga menjelaskan, ada kekeliruan apabila Sandung atau Bukung disebut sebagai situs budaya. Pasalnya Sandung merupakan sesuatu yang sangat sakral bagi umat Kaharingan.

Baca Juga:   Dukung Peningkatan PAD, Komisi A Kunker ke-Samsat Kabupaten Bantaeng

“Sebenarnya, pengerusakan yang dilakukan oleh oknum dari PT Mustika Sembuluh, bukanlah situs Budaya, tetapi yang namanya Sandung itu merupakan situs adat erat kaitannya agama yang telah ada sejak zaman nenek moyang suku Dayak yaitu Hindu Kaharingan. Sehingga apabila ada yang mengatakan Sandung itu situs Budaya, saya rasa itu keliru karena ada perbedayaan antara Budaya dan Agama,” tegasnya.

(nt/beritasampit.co.id)

Komentar Facebook

comments