Ini Alasan kenapa Cak Imin Tak Pilih Capres 2019

300

JAKARTA – Cak Imin panggilan akrab Ketua umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) juga Waket MPR saat memberi kuliah umum di Universitas Kristen Indonesia (UKI) ketika acara tanya jawab salah satu peserta bertanya kenapa Pak Imin tidak main di capres saja bukan cawapres pada 2019.

Muhaimin menjawab sekarang ini partainya berkoalisi dengan pemerintah dan dipercaya ada kader PKB menjabat menteri empat orang. Jika saya pilih capres sedangkan Pak Jokowi capres juga, maka empat menteri di partai saya pasti dicopot,” kata Cak Imin, Senin (21/5/2018)

Empat menteri yang dimaksud Cak Imin dari PKB ialah Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir; Menteri Ketenagakerjaan Muhammad Hanif Dhakiri; Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo; dan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi.

Baca Juga:   TNI Selamatkan Warga Tenggak Tinta Pilkada

Menurutnya sekarang masih berharap dari Jokowi untuk jadi pasangan wapres.

“Jika gak diajak, ya, baru jadi capres dengan merasakan sendiri,” ujarnya.

Diakuinya jika berkeras untuk Capres juga dari partainya belum memenuhi syarat Presiden Threshold.

Dalam kuliah umum di depan ratusan mahasiswa dan mahasiswi serta dosen UKI, selama satu jam berdiri di podium, Cak Imin membeberkan tentang mempertahankan nasiolissme untuk NKRI, dia merasa prihatin tentang. terguras nasionalisme pada generasi muda terutama remaja.

“Liberalisme merasuk kehidupan mereka. Saya tanya kepadap beberapa remaja yang gemar dengan android tentang kenal tidak dengan Bung Karno mereka menjawab rasa kenal nama itu. Kan, ketahuan mereka tidak kenal Proklamator kita,” ucapnya.

Baca Juga:   Haedar : Tidak Mudah Lanjutkan Kepemimpinan Din Syamsuddin

Dia juga mengingatkan tentang ancaman NKRI yaitu rasa keadilan di bidang ekonomi yang hanya dikuasai segelintir orang. Juga adanya kelaparan dan kamiskinan.

Lanjutnya, radikalisme muncul dari benturan agama dan ideologi barat, sehingga melahirkan ada yang berniat merubah ideologi bangsa dengan khilafah yang akhirnya mau diperjuangkan oleh organisasi HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) tapi akhirnya dibubarkan setelah melalui proses peradilan.

Diingatkannya Indonesia kuat bersatu karena ragam suku agama dan antar golongan.

“Jika terjadi saling mengutamakan suku agama dan antar golongan, maka Indonesia terancam NKRI,” tegasnya.

(jan/beritasampit.co.id)

EDITOR : MAULANA KAWIT

Komentar Facebook

comments