PAD Semakin Menipis, Yu.. Kita Gali dan Kembangkan Obyek Wisata di Kabupaten Kobar

77
Salah satu contoh Busana Kerajaan Pagaruyung yang disewa pengunjung wartawan Maman Wiharja dan Wartawati Yuliantini dari PWI Kobar,saat acara HPN/PWI 2017 berkunjung di Obyek Wisata Istana Pagaruyung Bukit Tinggi Padang. ( Dody Rafliansyah ).

GUNJANG-GANJING, kini semua Kabupaten dan Kota di Indonesia sedang agak prihatin, lantaran Pemasukan Asli Daerah (PAD) semakin menipis. Gara-gara biaya perizinan seperti membuat IMB, HO dan sebagainya, menyusul oleh pemerintah pusat semuannya di hapus.

Tapi pengamatan penulis, khusus untuk Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), dengan dihapusnya biaya perizinan nampaknya Kobar masih bisa bernapas panjang.

Karena Kabupaten Kobar, yang luas wilayahnya sekitar satu setengah luas Jawa Timur, banyak menyimpan obyek wisata diantaranya obyek wisata yang telah mendunia, yakni Taman Nasional Tanjung Putting (TNTP) satu-satunya didunia sebagai koloni orangutan.

Selain TNTP, juga obyek wisata lainnya yakni Wisata Religi, seputar Istana Kuning yang berada di Kota Pangkalan Bun, telah menjadi tujuan wisata local dan mancanegara, termasuk obyek wisata Masjid Kyai Gede serta Danau Gatal di Kecamatan Kolam.

Dan yang tidak kalah dengan panorama pantainya yang indah, yakni Pantai Kubu,Tanjung Keluang, Bogam Raya dan Pantai sesuai, juga telah menjadi kunjungan wisata local dan mancanegara.

Namun, pengamatan beritasampit.co.id,hamper semua lokasi obyek wisata yang ada di Kobar, sampai sekarang belum ada perkembangan yang signifikan untuk menambah PAD. Dalam artian obyek wisata itu perlu lebih digali dan dikembangkan, agar bisa meningkatkan PAD, yang sudah ‘menipis’, sehingga tidak ada anggapan, kalau memprogramkan APBD ingin besar, tapi pemasukannya kecil.

Baca Juga:   Pentingnya Nilai Independen Sebagai Penolakan Kepentingan Politik oleh Kelompok Elit (Bagian I)

Bahkan, sejumlah dinas terkait yang tugasnya pengembangan sektor pariwisata, kini nampaknya monoton.Padahal saat membuat APBD berlomba ingin anggaran yang besar. Tapi ujung-ujungnya setelah sarana dan prasarana obyek wisata dibangun, tidak ada kelanjutannya untuk digali dan dikembangkan.

Seperti di lokasi Pantai Kubu,yang sekarang sudah agak cantik ada Kolam Renangnya, nampaknya tidak ada perkembangan bagaimana caranya agar pengunjung lebih tertarik dan meningkat datang ke pantai Kubu. Untuk lahan parkir saja, duit parkirnya sering rebutan dengan warga setempat.

Padahal kalau lahan parkirdi Pantai Kubu dikelola dengan baik, dan lokasi wisatanya ditingkatkan, maka bisa diandalkan untuk PAD.

Kemudian pantai Tanjung Keluang, yang memiliki pasir putih indah dan sekarang sudah ada pengembangan ternak Kura-kura (Penyu), kalau terus dipromoasikan juga akan semakin banyak dikunjungi pengunjung.

Baca Juga:   Kenakalan Anak Remaja Menjurus Kejahatan Semakin Meningkat, Ada Apa?

Kita lihat obyek wisata di Provinsi Padang-Sumatera Barat, ternyata semua obyek wisata,sampai sekecil apa pun bisa digali dijadikan ‘uang’ untuk PAD dimasing-masing Kabupatennya. Ini bukti beritasampit.co.id menghadiri HPN/PWI 2017 di Padang, saat berkunjung kebeberapa lokasi wisata, semuanya dijadikan uang.

Masuk kesebuah air terjun kecil Baburai pinggir jalan saja, harus bayar Rp 5000,-,kemudian masuk kehalaman Istana Pagaruyung Bukti Tinggi baru masuk kehalamannya diminta uang Rp 15.000,- untuk tiket masuk.

Hebatnya lahi semua petugasnya mengenakan pakain adat. Bahkan dibawah istananya, pengunjung bisa menyewa baju adat Kerajaan Minang,Rp 25 ribu s/d Rp 50.000,-.

Nah Kabupaten Kobar, juga sama memiliki Istana Kuning milik Kerajaan Kotawaringin yang kali pertama berdiri di Kalimantan Tengah.

Lokasi Istana Kuning kalau ditata dan digali serta dikembangkan pengelolaannya, misal disediakan Busana Keraton Istana Kuning, untuk disewakan kepada para pengunjung, kemudian difoto, seperti di lokasi Istana Pagaruyung Bukti Tinggi Padang. Insya Allah bisa membantu menambah PAD Kobar. SEMOGA.

(Maman Wiharja).

Komentar Facebook

comments