Kapolres Katingan, Angkat Bicara Mengenai Pahlawan Putra Dayak Minum Dehen

1868
Keterangam foto : AR/BS - Kapolres Katingan, AKBP Elieser Dharma Bahagia Ginting S I K 

KASONGAN – Kapolres Katingan, AKBP Elieser Dharma Bahagia Ginting S I K mengatakan dalam rangka menyambut hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 73, Polres Katingan telah melaksanakan bakti sosial di areal sekitar makam pahlawan Minum Dehen, yang ada di desa Samba Danum, Kecamatan Katingan Tengah, Jumat (3/8/2018).

Menurutnya, bakti sosial ini mengingat bahwa makam tersebut salah satu makam pahlawan putra dayak Kalimantan Tengah yakni Minum Dehen, yang gugur pada 24 Agustus 1949 dalam pertempuran melawan tentara Belanda di Danau Mare, Kecamatan Katingan Tengah ketika perang untuk mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia, khususnya di Kalimantan Tengah.

“Dehen merupakan salah seorang pejuang anggota Gerakan Revolusi Rakyat Indonesia (GRRI) saat itu. Untuk itulah perlu kita mengingatkan kembali kepada penerus bangsa agar tidak melupakan sejarah dan menghormati jasa para pahlawan terdahulu yang ada di Kalimantan Tengah khususnya di Kabupaten Katingan,” terang Kapolres Dharma Ginting.

Baca Juga:   Katingan Diduga Jadi Target Aksi Terorisme, Begini Kata Kapolresnya

Ia menjelaskan, pada 24 Agustus 1949, sebanyak dua regu KNIL dari Sampit menuju Tumbang Samba. Dari Tumbang Samba melalui jalan setapak mulai dari tepi Danau Mare menuju Tewah.

“KNIL adalah singkatan dari bahasa Belanda, Het Koninklijke Nederlands-Indische Leger, atau secara harafiahnya Tentara Kerajaan Hindia Belanda,” ujarnya.

Lalu saat itu, pasukan GRRI di pos Tumbang Samba yang mengetahui rute perjalanan gerakan operasi KNIL tersebut lalu melakukan penghadangan di Danau Mare mengunakan perahu besar (dalam bahasa dayak ngaju perahu besar adalah Rangkan).

Nah, pasukan GRRI yang telah siap menyergap di Danau Mare itu ada 4 orang diantaranya, Muller J. antang, Samudin Aman, H. Oeman bin H. Dukarim dan Minun Dehen.

Ketika ingin melakukan penyergapan ketika itu Minun Dehen melakukan pengintaian di atas sebuah pohon di tepi Danau Mare dengan bersenjatakan granat yang siap dilemparkan ke rangkan atau kapal besar yang membawa pasukan KNIL.

Baca Juga:   Kapolsek Katingan Hulu Mengajak Generasi Muda Cerdas Mengunakan Medsos

Maka dengan begitu kontak senjata pun berlangsung seru. Namun sayang, granat yang dilemparkan Minun Dehen dari atas pohon Sangkuang di tepi danau, tidak mengenai rangkan yang disasarnya.

Sayangnya, pasukan KNIL melihat adanya goyangan daun dan ranting pohon Sangkuang serta sosok manusia (Minum Dehen), langsung saja menembak. Tak ayal, Minun Dehen pun terkena tembakan dan gugur sebagai pahlawan.

“Kemudian, Jenazah Minun Dehen kemudian dimakamkan di Samba Danum, Kecamatan Katingan Tengah. Dan pada tahun 1954, Minun Dehen di Tiwah kan (upacara adat dayak). Sandungnya berdiri pada pertigaan jalan raya, pusat Samba Danum-Samba Kahayan,” jelasnya, tentang sejarah singkat putra dayak Minum Dehen.

(ar/beritasampit.co.id)

EDITOR : MAULANA KAWIT