Anda Bagian dari Kelompok Pemakan Daging Anjing, Anda Perlu Tau Ini Bahayanya..?

449
FOTO:IST/BS-Tampak seorang pedagang daging anjing saat berinteraksi dengan calon pembeli.

BS.KESEHATAN-Mengkonsumsi daging B1 atau RW atau Anjing menjadi kegemaran sekolompok orang karena rasa dagingnya empuk dan nikmat, dibanding daging binatang lainnya.

Gemar makan daging binatang peliharaan ini tak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga terjadi dibelahan dunia lainnya.

Seperti di Vietnam dan Korea Selatan. Sekarang pemerintah di dua negara itu melarang warganya memakan daging ajing.

Dilansir dari cnninonesia.com, Selasa (6/11/2018), berdasarkan data yang dihimpun beberapa tahun terakhir, sebanyak 7 persen masyarakat Indonesia masih menjadikan daging anjing sebagai bahan pangan mereka. Padahal, sesungguhnya anjing tak layak dikonsumsi.

Kasubdit Peningkatan Mutu dan Kecukupan Gizi Kementerian Kesehatan, Galopong Sianturi, mengatakan bahwa daging anjing memiliki kandungan natrium yang tinggi. “Dia (daging anjing) bisa menjadi pembawa cacing pita,” ujarnya dalam selebrasi sejuta tanda tangan untuk petisi Dog Meat Free Indonesia di Hotel Morrissey, Jakarta, Senin (5/11).

Kandungan natrium yang tinggi, disebut Galopong, dapat memicu hipertensi. Dalam 100 gram daging anjing, terdapat 1,06 miligram natrium.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan konsumsi natrium tak lebih dari 2 miligram per hari. Artinya, konsumsi daging anjing ditambah asupan natrium dari sumber makanan lain per hari yang tinggi bisa meningkatkan risiko hipertensi.

Layaknya daging babi, daging anjing juga merupakan pembawa cacing pita. Cacing jenis ini merupakan salah satu parasit buat tubuh manusia. Cacing yang juga dikenal dengan nama Cestodes ini memiliki tubuh rata, menyerupai pita, dan beruas-ruas. Cacing pita dewasa dapat tumbuh hingga 25 meter.

Baca Juga:   Duhh...Pengawasan Izin Perusahaan Sangat Lemah

Cacing pita dapat mati jika daging dimasak sempurna. Namun, bukan berarti risiko buruk berhenti mengintai. Sebab, bisa saja daging anjing diolah dengan cara yang tidak higienis.

Cacing pita yang masuk ke tubuh bisa menimbulkan infeksi pada usus. Sedangkan cacing yang dapat keluar dari area pencernaan dapat masuk ke jaringan tubuh atau organ lain dan menyebabkan infeksi.

Di luar area pencernaan itu, cacing bakal membentuk ‘markas’ di jaringan baru. Komplikasi pada jaringan di luar usus seperti ginjal, jantung, dan otak inilah yang berbahaya.

Kesadaran akan kesejahteraan hewan

Di balik bahaya kesehatan ini, ada hal yang musti dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk mengonsumsi daging anjing. Anjing tak sekadar hewan peliharaan, tapi juga kawan manusia.

Karin Franken, pendiri Jakarta Animal Aid Network sekaligus salah satu inisiator gerakan DMFI mengatakan bahwa proses yang harus dilalui anjing sebelum sampai ke piring jauh dari kata manusiawi.

Pihaknya sempat melakukan investigasi terhadap penyuplai daging anjing di Jakarta. Dalam sepekan, ada 2-3 kali pengiriman anjing-anjing untuk dikonsumsi yang terdiri dari 30-40 ekor anjing dalam sekali kirim.

“Kami lihat cara potongnya, bagaimana cara mereka memperlakukan anjing sangat kejam. Sisanya yang tidak terpakai dibuang ke got. Tak ada standar kebersihan,” ujar Karin dalam kesempatan serupa.

Dengan cara sedemikian rupa, kesejahteraan anjing terenggut. Dewan Penasihat Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia, dr Wiwiek Bagja, menuturkan bahwa seseorang perlu memperhatikan kesejahteraan hewan, termasuk anjing. Kesejahteraan, lanjutnya, tak melulu soal hewan yang dipelihara.

Baca Juga:   Dinkes Gelar Lomba Balita Sehat

Terminologi kesejahteraan hewan sudah disepakati secara global oleh World Animal Health Organization (WAHO).

“Ada lima prinsip untuk hewan, yakni bebas dari rasa haus dan lapar, bebas dari ketidaknyamanan atau penyiksaan fisik, bebas dari sakit, bebas untuk mengekspresikan perilaku alami, dan bebas dari rasa tertekan,” papar Wiwiek.

Konsumsi daging anjing, kata Wiwiek, jelas telah melanggar prinsip-prinsip kesejahteraan hewan. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan bahkan tak menyebut daging anjing ke dalam kategori pangan.

Menurut Wiwiek, ada tiga hal yang perlu diperjuangkan dalam hal ini. “Payung hukum, manusia yang beretika, dan pendekatan ilmiah,” katanya.

Pendekatan ilmiah diperlukan untuk menggaungkan bahwa konsumsi daging anjing tak terbukti secara medis mampu meredakan beberapa jenis penyakit.

Sebagaimana diketahui, banyak orang beranggapan bahwa konsumsi daging anjing mampu mengatasi asma, beberapa alergi, hingga meningkatkan gairah seksual.

Tapi, bagi Wiwiek, kabar-kabar itu cuma mitos belaka, sebab daging anjing justru berbahaya bagi tubuh. “Banyak pengaruh mitos karena ingin jualannya laku,” kata dia.

(net/gra/beritasampit.co.id)

Komentar Facebook

comments