Badan Ekonomi Kreatif RI Sambangi Sampit Beri Ilmu bagi Pelaku UMKM

349
WORKSHOP : ARIFIN/BS - Narasumber dari BEKRAF RI (berdiri) sedang menyampaikan materi bagaimana mendesain produk dan kemasan agar mampu bersaing dalam skala luas.

Editor: Irfan

SAMPIT – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Republik Indonesia mengunjungi Kota Sampit, Kalimantan Tengah, Kamis (14/3/2019), guna mengisi workshop pengembangan desain kemasan dan brainding produk ekonomi kreatif.

Dalam kesempatan itu, Kasubid Informasi dan Pengolahan data Bekraf RI Maman Rahmawan mengatakan, jumlah pelaku Usaha Makro, Kecil, Menengah (UMKM) khususnya di Sampit cukup banyak. Kendalanya, selain pemasaran juga mengenai desain kemasan dan mutu yang belum standar.

“Kami berusaha menjangkau pelaku ekonomi kreatif hingga ke daerah. Sampit belum pernah dan baru kali ini,” ujarnya.

Lanjut Maman menjelaskan, Bekraf RI merupakan himpunan data melalui website dan aplikasi online agar pelaku UMKM seluruh indonesia bisa terhubung. Untuk website yakni, www.bisma.bekraf.go.id. sedangkan aplikasi bisa diunduh melalui play store untuk android dan app store untuk iOS.

Baca Juga:   Pengertian UKM & UMKM? Bagaimana Usaha Kecil Menengah di Indonesia

Masih kata dia, manfaat bergabung dengan para pelaku UMKM seluruh Indonesia guna mengetahui agenda atau kegiatan, bahkan mendaftar gratis. Selain itu, mendapatkan bantuan permodalan pengembangan usaha kreatif.

“Apabila terdaftar maka akan terhubung atau jejaring dengan pelaku UMKM seluruh Indonesia,” ucap pria berkacamata ini.

Hingga kini, tambah Maman, jumlah pelaku usaha kreatif yang sudah tergabung di seluruh Indonesia sebanyak 29700 dan khusus di Kalimantan Tengah sekitar 36 pelaku usaha kreatif.

Sementara itu, Tenaga Ahli Produk dan Kemasan sekaligus narasumber Sugeng Untung mengakui bahwa produk UMKM di Sampit dari segi produk maupun rasa sudah bagus, anya saja belum kreatif.

Baca Juga:   Mereka yang Ketiban Rezeki di Temu Akbar 1000 UMKM se Kalteng

“Kekurangan dari produk UMKM di Sampit belum ada keterangan label halal dan kedaluwarsa,” ujarnya.

Disamping itu, lanjut Sugeng, produk yang dihasilkan sama dengan produk di daerah lain. Misalnya, kerupuk rasa ikan Jelawat. Padahal yang diinginkan ada perbedaan dalam artian bukan memproduksi kerupuk tapi kreasi lainnya dengan bahan dasar ikan.

“Untuk pangsa pasar daerah setempat tidak ada masalah. Kalau merambah lebih luas perlu diperbaiki,” tegasnya.

Seorang peserta workshop Suprapto menyambut baik kegiatan karena tujuannya untuk menambah pengetahuan dan wawasan baru dalam hal pengolahan kemasan, desain dan pengembangan pemasaran bagi pelaku UMKM di Sampit kedepannya.

(arifin/beritasampit.co.id)