Ratusan Hektar Lahan Terendam Banjir, Desa Ini Perlu Tanggul?

336
Istimewa - Nampak Aktivitas para petani menangkap ikan dengan alat tradisional sambil mengisi waktu menunggu air turun.

KASONGAN – Musim tanam padi telah tiba pasca panen di Desa Jaya Makmur Kecamatan Katingan Kuala Kabupaten Katingan beberapa waktu lalu.

Namun sebagian petani harus terhenti menanam padinya akibat mengalami kendala lahan banjir. Mengiat hal tersebut perlu perhatian serius dari pihak pemerintah terkait untuk melakukan langkah-langkah antisipatif.

Pasalnya lahan pertanian seluas 250 hektar sebelah timur itu terendam air atau banjir akibat intensitas curah hujan yang tinggi dan tidak adanya tanggul penghalang masuknya air ke lahan pertanian.

Sebagian lahan pertanian yang juga menjadi lumbung padi untuk wilayah Katingan ini dalam waktu dekat tidak bisa diolah dan diproduksi. Petanipun harus menunggu sampai air turun dan curah hujan berkurang.

Menurut Camat Katingan Kuala, H Surianto, SE mengatakan bahwa tingginya air yang masuk ke lahan-lahan pertanian para petani itu sebenarnya bisa diantisipasi.

Hal itu menurutnya apabila ada perhatian serius dari pihak terkait untuk melakukan normalisasi saluran air di sebelah timur, dengan mengolah tanggul sepanjang 3,2 Km sebagai penghalang masuknya air ke lahan pertanian dari hutan.

Baca Juga:   Semangat Hardiknas dari Sekolah Desa Pinggiran

“Lahan di sebelah timur Desa Jaya Makmur yang banjir itu penyebab utamanya karena intensitas curah hujan yang terlalu tinggi. Selain itu, juga karena saluran kolektor tersumbat sebab tanggul penghalang belum ada, sehingga air dari hutan bisa masuk yang mengakibatkan para Petani belum bisa menanam padinya”, jelas H Surya saat diwawancarai diruang kerjanya, Rabu, (1/5/2019).

Namun begitu tambahnya, petani untuk wilayah sebelah barat Desa Jaya Makmur tidak mengalami kendala dalam penanaman dan sudah mulai menanam sejak minggu pertama bulan April 2019 lalu.

Selain itu, Kepala Desa Jaya Makmur Ahmad Wahyudi juga mengungkapkan hal yang sama. Dimana di wilayah kerjanya yang sebagian besar warganya 95 persen berprofesi sebagai petani. Sebagiannya tidak bisa menggarap sawahnya akibat lahan banjir.

Baca Juga:   MANTAP...Progam Kemitraan Pertanian Desa Terus Digerakan

Menurutnya, sedikitnya ada 6 rey lahan pertanian yang tidak bisa diproduksi. Dimana 6 rey tersebut terdapat 700 hektar lahan dan yang sudah produktif ada 250 hektar.

“Lahan banjir itu akibat tidak dibuatnya tanggul penghalang masuknya air sebelah timur. Sehingga air hujan mudah masuk ke lahan pertanian. Selain itu juga kurang dalamnya saluran sekunder lahan pertanian,” terang Ahmad Wahyudi.

Pihaknya sudah seringkali mengusulkan kepada pihak pemerintah terkait agar dibuatkan tanggul sepanjang 3,2 km di sebelah timur tersebut. Baik lewat Musrembang maupun secara langsung. Namun, jelasnya sampai saat ini belum ada respon positif dari pihak terkait.

“Kita berharap dengan seringnya terjadi banjir pada setiap musim penghujan ini, ada perhatian serius dan tindakan cepat dari pemerintah untuk melakukan antisipasi. Supaya para petani bisa menanam sesuai waktu tanam yang normal,” harap Ahmad Wahyudi.

(Lna.Beritasampit.co.id)