Sidang Lanjutan Yantenglie, Penasihat Hukum: “Keterangan Saksi Hendrawan Menyesatkan”

891
PEMERIKSAAN SAKSI: AULIA/BS-Sidang lanjutan Ahmad Yantenglie di Pengadilan Tipikor, Pn Palangka Raya dengan agenda JPU menghadurkan saksi, Kamis (16/5/2019).

Editor: A Uga Gara

PALANGKA RAYA-Sidang lanjutan kasus tindak pidana korupsi (Tipikor) APBD Kabupaten Katingan dengan terdakwa mantan Bupati Katingan, Ahmad Yantengli kembali digelar di Pengadilan Tipikor, Pengadilan Negeri (PN) Palangka Raya, Kamis (16/5/2019).

Agenda sidang masih mendengarkan fakta yang disampaikan saksi yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Katingan, yakni Hedrawan alias Monyin, teman dekat terdakwa Ahmad Yantenglie.

Pada saat memberikan kesaksiannya dihadapan Majelis Hakim, saksi Hendrawan kerap kali memberikan keterangan yang tidak sesuai dengan kebenaran menurut penasehat hukum (PH) terdakwa. Sehingga terjadi keributan hingga sidang kembali ditunda.

PH terdakwa Antonius Kristiano menerangkan, pada saat dipersidangan saksi Hedrawan ini mengatakan tidak ada hubungan kerja dengan terdakwa pada saat itu, padahal pada BAP saksi ini bisa merincikan secara terperinci seolah-olah itu sudah diatur dan menyesatkan pokok perkara.

Baca Juga:   Penggiat Anti Narkoba Minta Polisi Ungkap Pemilik Ribuan Butir Zinet

“Nah yang jadi pertanyaan kita adalah dengan pernyataan saksi yang menyebutkan tidak dilibatkan terlalu jauh dan ngotot makanya tidak dilibatkan dalam pebincangan, kenapa dia ngotot tadikan bahasanya masalah bunga 12 persen sekarang kita bicara logika, seorang bupati berkonsultasi dengan saksi kapasitas dia apa disini karena saksi ini hanya teman biasa terdakwa,” tambahnya.

Menurut PH terdakwa, saksi tersebut sudah memberikan keterangan yang tidak benar dipersidangan, sebab berulang kali sudah majelis hakim mengatakan kepada saksi untuk memberikan keterangan yang sebenarnya bahkan JPU pun demikian apakah keterangan itu berdasarkan khayalan atau fakta namun saksi mengatakan itu fakta.

“Fakta yang bagaimana nantinya kita buktikan, jadi setelah pemeriksaan saksi ini habis kita akan laporkan beberapa orang yang menurut kita telah memberikan keterangan palsu dalam persidangan,” ucapnya.

Baca Juga:   Berkedok Sembako, Toko Penjual Miras Digerbek Polisi

Saat disinggung berapa orang yang telah memberikan keterangan palsu selama menjadi saksi dipersidangan kasus ini, dia mengatakan ada tiga orang dan ada dua orang yang melakukan pelanggaran pasal 32 nomor 2014.

Sementara itu Yantenglie menuturkan hal yang sama dengan PHnya, menurut dia keterangan saksi tersebut 80 persen tidak benar, dan hanya sedikit saja yang benar.

“Kalau dia (saksi, red) berbicara seperti itu siapa saja juga bisa kalau dalam konteks mau menyakitkan orang lain dan menjerumuskan,” tuturnya.

Saksi seharusnya, lanjut dia berbicara harus ada daya dukung sehingga jika memberikan keterangan itu harus sesuai dengan fakta yang ada.

“Seperti yang PH saya katakan tadi kita akan mengambil langkah-langkah hukum kepada saksi-saksi yang memberikan keterangan palsu,” pungkas Yantenglie.

( aul/beritasampit.co.id)