Tekan Angka Stunting Dinkes Kotim Lakukan Langkah Ini

229
Foto : Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menggelar pelatihan komunikasi antar pribadi (KAP) dalam upaya perubahan perilaku.

SAMPIT – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menggelar pelatihan komunikasi antar pribadi (KAP) dalam upaya perubahan perilaku belum lama ini di Kota Sampit.

Kegiatan yang dilaksanakan di aquarius boutique hotel Jalan Jenderal Sudirman, Sampit itu. Diikuti 44 orang yang terdiri dari 21 orang pengelola, Program Promosi Kesehatan, 21 orang Petugas Gizi Puskesmas, 2 orang pengelola
program promosi Dinkes Kotim.

Kepala Dinkes yang diwakili Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Erdiana, SKM., M.Si. berharap, peserta pelatihan tersebut menjadi agent of change dan promotor perubahan perilaku di wilayah kerja Puskesmas.

Baca Juga:   Badan Usaha Wajib Daftarakan Karyawan di BPJS Kesehatan

“Angka stunting di Kabupaten Kotim merupakan tertinggi di Kalteng, yakni 48,8% melebihi Kalteng dan Nasional. Dalam hal ini perlu kontribusi tenaga kesehatan untuk mempengaruhi keluarga, masyarakat dan lintas sektor untuk peduli stunting dan masalah kesehatan lainnya,” ungkapnya saat sambutan

Dia menjelaskan, bahwa Kotim merupakan lokasi ke 3 yang melaksanakan pelatihan komunikasi antar pribadi secara nasional, untuk bisa bergerak cepat mengatasi stunting dan masalah kesehatan lainnya.

“Kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan pemahaman petugas kesehatan, khususnya pengelola program promosi kesehatan dan pengelola program gizi tentang komunikasi antar pribadi dalam upaya perubahan perilaku,” kata Erdiana

Baca Juga:   Kalau Tak Mau Didenda, Peserta Harus Tertib Bayar Iuran BPJS

Dilanjutkan, selain itu juga meningkatkan kemampuan petugas kesehatan, khususnya pengelola program promosi kesehatan dan pengelola program gizi dalam berkomunikasi non verbal yang memotivasi.

“Dari kegiatan ini, petugas diharapkan mampu untuk menjangkau sasaran dengan pendekatan komunikasi antar pribadi dalam upaya perubahan perilaku,” demikiannya.

Hal ini dilaksanakan mengingat kurangnya kemampuan petugas kesehatan untuk pelaksanaan komunikasi antar pribadi dalam upaya perubahan perilaku menyebabkan tingginya masalah kesehatan, terutama keluarga sehat dan stunting.

(jmy/beritasampit.co.id)