Pengamat: Pidato Pertama Presiden Jokowi Normatif, Tidak Ada Ide Baru

1614
PIDATO: IST/BS-- Joko Widodo melakukan pidato sebagai Presiden terpilih di Sentul Internasional Convention Center, Bogor Jawa Barat, Minggu, (14/7/2019).

JAKARTA— Pengamat Politik dari Universitas Telkom, Dedi Kurnia Syah menilai pidato politik pertama presiden Joko Widodo sangat bagus, baik intonasi maupun pilihan kata yang digunakan sepanjang berpidato di Sentul Internasional Convention Center, Minggu, (14/7/2019).

Menurut Dedi, dari sisi komunikasi politik sangat baik, karena adanya relasi antara momentum dan konten.

Sementara, beber Dedi, konten secara keseluruhan, tidak ada hal baru, ide reformasi birokrasi, pembangunan infrastruktur, bahkan terkait sumber daya manusia, nyaris sama dengan yang presiden Jokowi sampaikan pada periode 2014-2019 lalu.

Baca Juga:   Panglima Kodam XII/Tanjungpura, Lepas Satgas Pamtas Yonif 123/Rajawali

“Beberapa diantaranya tidak terjadi sepanjang lima tahun ini. Jadi, ini bisa menjadi pengingat bahwa visi dan misi presiden masih sama dengan 5 tahun lalu,” tutur Dedi dalam keterangan yang diterima, Senin, (15/7/2019).

Dedi bilang, pembangunan infrastruktur yang diharapkan menyambungkan sumber-sumber ekonomi, juga terkait keterbukaan investasi, presiden telah sampaikan sejak lima tahun lalu, terutama upaya menghilangkan kerumitan-kerumitan birokrasi.

“Hasilnya justru ironi dengan adanya kebangkrutan usaha, baik milik negara maupun swasta. Iklim ekonomi semacam ini seharusnya tidak terjadi jika apa yang presiden nyatakan lima tahun lalu benar-benar terimplementasi dengan baik,” tandas Dedi.

Baca Juga:   Danrindam : Tumbuhkan Cinta Tanah Air Sejak Dini

Dedi menyampaikan bahwa tiga tema utama pidato yakni infrastruktur, sumber daya manusia, dan persatuan Indonesia. Ketiganya sangat normatif, tidak ada penanda dari presiden bagaimana semua itu dapat terwujud oleh pemerintahan kedepannya.

“Secara keseluruhan, pidato Presiden membawa angin segar perubahan, andai saja sepanjang lima tahun kedepan benar-benar terjadi, bukan tidak mungkin Indonesia sangat maju dan sejahtera,” pungkas Dedi Kurnia Syah.

(dis/beritasampit.co.id)