Perusahaan Sawit Garap Lahan Warga, Poktan Basirih Hulu Pasang Pelang Nama

1575
PEMILIK LAHAN : ARIFIN/BS – Puluhan warga Desa Basirih Hulu Kecamatan MHS Kabupaten Kotim kumpul bersama usai memasang pelang nama karena lahannya digarap perusahaan sawit. 

Editor: Maulana Kawit

SAMPIT – Puluhan anggota kelompok tani (poktan) Maju Bersama dan Rukun Makmur serta Pengurus Sungai Rambutan Desa Basirih Hulu, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan (MHS), Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), memasang pelang nama dilahan panjang sekitar 1500 meter dan lebar 700 meter. Salah satu tujuannya, mengantisipasi lahan yang sudah digarap sejak 2002 silam itu dicaplok perusahaan sawit.

Sekretaris Pengurus Sungai Rambutan Desa Basirih Hulu Ahmad Suciadi membenarkan bahwa warga Desa Basirih Hulu telah memasang pelang nama di atas lahan pertanian untuk antisipasi lahan tersebut digarap perusahaan sawit.

Baca Juga:   Legislator Minta Penambahan dan Pemerataan Tenaga Medis untuk Daerah Terpencil

“Kami turun memasang pelang nama karena ada lahan milik kami yang sudah digarap oleh perusahaan sawit, kami terpaksa mengambil hak kami sebagai warga masyarakat Desa Basirih Hulu karena sebelumnya lahan sudah kami kerjakan,” ucapnya kepada wartawan beritasampit.co.id saat dilokasi, Rabu (17/7/2019) sore.

Ditegaskannya, selama ini perusahaan sawit “siluman” tidak pernah ada sosialisasi ataupun rapat kepada para poktan maupun masyarakat di Desa Basirih Hulu.

Menurut Adi, perusahaan dinilai tidak menghargai. “Seakan-akan kami tidak dihargai,” keluhnya.

Senada diungkapkan anggota Pengurus Sungai Rambutan Zulhairat.

Baca Juga:   Pariwisata Jadi Sumber PAD

Dia menjelaskan bahwa ada beberapa pihak mengklaim bahwa lahan yang berada di atas jarak sekitar 6 kilometer tidak bertuan, sehingga perusahaan sawit “siluman” mengambil lahan tersebut diduga semaunya.

“Saya sebagai Pengurus Sungai Rambutan menegaskan bahwa tidak ada anggota kami maupun dari poktan khususnya di Jalan Rambutan yang menjual lahan. Apabila ada terbit surat keterangan tanah (SKT) itu berarti fiktif,” tegasnya.

Meskipun perusahaan sawit “siluman” bersikukuh menggarap lahan tersebut, sambungnya, pihaknya akan mempertahankan.

“Kami tetap pertahankan kepemilikan karena tanah ini warisan nenek moyang,” pungkasnya.

(ifin/beritasampit.co.id)