Ibnu Elmi Serahkan Bantuan Jurnal ke HMPS HTN, Ini Harapnya

SALAM KOMANDO : ARS/BS - Dr Ibnu Elmi AS Pelu menyerahkan secara langsung bantuan 70 Jurnal MK ke Ketua HMPS HTN

PALANGKA RAYA – Pergolakan pemikiran dalam ranah intelektual merupakan sebuah siklus daripada ilmu pengetahuan. Karena majunya suatu negara dapat diukur dari tingginya angka pendidikan dan berapa banyak tokoh intelektual yang dihasilkan.

“Kalian adalah harapan bagi supremasi hukum di masa mendatang”, ujar Dr Ibnu Elmi AS Pelu, saat memaparkan materi tentang Perbandingan Hukum Tata Negara (HTN) kepada mahasiswa Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya.

Pria kelahiran Buntok ini menjelaskan bahwa mahasiswa harus memiliki dasar keilmuan hukum yang kuat dan kemampuan analisis yang hebat untuk dapat bersaing di dunia luar nantinya.

BACA JUGA:   Universitas Palangka Raya Gagas Pusat Pendidikan Kedokteran

“Spesifikasi keilmuan kita harus jelas, saya hanya sebagai perantara dan kalian yang memegang kemudinya,” tambah pria yang pernah menjabat sebagai Rektor IAIN Palangka Raya periode 2015-2019 di Ruang 1.2 Gedung Triple Tower Fakultas Syari’ah.

Ibnu yang juga mengabdikan dirinya sebagai dosen di IAIN Palangka Raya ini berpesan agar mahasiswa yang menjadi anak asuhnya mampu menjadi orang baik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.

“Saya berharap jurnal ini bermanfaat, sukses buat kalian,” pesan Ibnu saat menyerahkan secara simbolis bantuan 70 jurnal Mahkamah Konstitusi (MK) kepada Himpunan Mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara (HMPS HTN) Fakultas Syari’ah IAIN Palangka Raya pada Kamis, 31/10/2019 pagi tadi.

BACA JUGA:   Ciptakan Inovasi Bertani Melalui SmartPhone, Mahasiswa asal Lamandau Raih Medali Emas di Singapura

Bantuan yang diterima langsung oleh Ketua HMPS HTN ini menuai apresiasi yang tinggi dari lembaga tersebut.

“Kita harus menjadi mahasiswa cerdas dan berkualitas, ini bekal yang Pak Ibnu berikan kepada kami,” ujar Aris Kurnia Hikmawan selaku Ketua HMPS HTN kepada beritasampit.co.id saat diwawancarai.

Aris juga menambahkan bahwa peran mahasiswa sebagai Agent of Change dan Agent of Control harus diimbangi dengan kemampuan akademik yang mumpuni.

“Aktivis itu kuliah prioritas, organisasi totalitas,” tutup Aris.

(Kawit/beritasampit)