Kisah Boden, Salah Satu Warga yang Hidup Miskin di Daerah Kaya

TERPENCIL - Kondisi Rumah berada di wilayah terpencil yang jauh dari pemukiman warga lainnya.

Daerah yang kaya dengan sumber daya alam, tidak menjamin warganya hidup layak. Salah satunya adalah Boden, yang masih hidup di bawah garis kemiskinan meskipun tinggal di kabupaten Gunung Mas yang kaya dengan sumber daya alam.

Oleh: Novia Adventi

Menyusuri jalan setapak berliku-liku, sempit dan becek melewati perkebunan karet dan sawah yang nampak tidak terawat ada secercah kehidupan yang tersembunyi dari hingar bingar keramaian masyarakat Kecamatan Tewah, Kabupaten Gunung Mas tepatnya di Jalan Sakata, Tumbang Lambaing.

Gunung Mas merupakan kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah dengan sumber daya alam yang melimpah ruah. Gunung Mas adalah salah satu dari tiga wilayah di Kalteng yang adalah bagian segitiga emasnya Indonesia.

Kabupaten Gunung Mas juga memiliki Hutan Raya atau Tahura Lapak Jaru yang merupakan satu – satunya tahura yang terdapat di Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, SK.240/Menlhk/Sekjen/PKTL.2/3/2016/tanggal 24 Maret 2016 seluas 4.119 Hektar.

BACA JUGA:   Ini Perhatian dan Komitmen Pemprov Kalteng Terhadap Dunia Pendidikan

Sebuah ironi yang menggugat kemapanan berpikir kita bahwa benar ketika ingin melihat kemiskinan, maka lihatlah wilayah yang kaya akan sumber daya alam.

Kami tiba disebuah rumah di ujung jalan setapak yang untuk sampai ke sana kita harus menempuh jalan berliku dengan jarak sekitar 1 Km dengan jalan sempit dan berlumpur. Pemilik rumah yang sebenarnya tampak seperti pondok tersebut bernama Boden (40 tahun) seorang ayah satu orang anak yang sudah tinggal di sana sekitar 8 tahun lama nya.

Boden tinggal di rumahnya bersama istri dan satu orang anak perempuan yang sekarang menempuh pendidikan di sekolah dasar (SD). Tidak ada listrik yang menerangi rumah kecil Boden dan keluarga kecilnya tidak ada barang-barang berharga yang menghiasi rumah kecilnya, tempat mandi keluarga ini adalah sumur gali, dengan jamban yang berada di luar rumah.

Boden dan keluarga tidak mendapatkan bantuan sosial dalam bentuk apapun dari pemerintah Kabupaten Gunung Mas. “KTP saya Gunung Mas, sudah 8 tahun tinggal di sini, belum mendapatkan bantuan,” ungkap Boden.

BACA JUGA:   Polres Gumas Kembali Bagikan Baksos kepada Masyarakat Terdampak Kenaikan BBM

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari Boden biasa melakukan pekerjaan serabutan, berjalan kaki berjualan sayur keliling Tewah. Sayur yang dijual nya beragam antara lain kalakai, rebung, singkong, keladi dan lain sebagainya, alam memang menjadi tumpuan harapan bagi Boden dan keluarga untuk tetap bertahan hidup.

Uang yang dia dapat dari hasil berjualan sayur keliling akan dibelanjakan kebutuhan pokok bagi keluarga nya seperti beras, minyak goreng, mie, telur dan kebutuhan penting lainnya.

Boden nampak tak banyak berharap, dia nampak tegar menghadapi hidup yang tak semua orang mampu untuk menerima dan menikmati apa yang Boden hadapi sekarang, baginya hidup adalah perjuangan.

Ditengah kesibukan kita hari ini untuk menyambut tahun yang baru kita diingatkan bahwa disudut-sudut negeri ini masih ada segelintir orang yang hidup dalam kesepian dan kepedihan hati.
(NA/ beritasampit.co.id)

(Visited 6 times, 1 visits today)