Polda Metro Catat Setiap Hari Ada 4000 Kenderaan Baru di Jakarta

Ilustrasi Macet Jakarta. Dok: Istimewa

JAKARTA— Kemacetan adalah situasi tersendatnya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan. Itu sering terjadi di DKI Jakarta.

Kapolda Metro Jaya Komjen Pol Gatot Eddy Pramono mengatakan bahwa yang perlu pemecahannya secara lintas sektoral adalah permasalahan transportasi dengan kondisi tingkat kemacetan yang sangat tinggi, dimana rasio volume kenderaan dibandingkan kapasitas jalan sangat tidak berimbang dan perlu penanganan secara simultan.

“Kemacetan juga disebabkan masih belum sempurnanya pembangunan sistem angkutan massal (busway, monorail), sehingga keluhan kemacetan masih terus berlanjut,” ujar Gatot saat jumpa pers akhir tahun pada Jumat 27 Desember 2019.

Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya mencatat pengajuan kenderaan baru setiap harinya sebanyak 4.000 ribu unit. Jumlah itu terdiri dari 3.000 ribu kendaraan roda dua dan 1.000 ribu unit mobil. Pengajuan tersebut mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Khususnya untuk kendaraan roda dua,kalau sebelumnya hanya 1.500 unit dan 800 unit roda empat, kini mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

BACA JUGA:   Pupuk Indonesia Dukung Penuh Kejaksaan Berantas Oknum Mafia Pupuk

Sedangkan untuk pertumbuhan jalan di DKI Jakarta dari data yang dimiliki Polda Metro Jaya, jumlah perjalanan harian semakin meningkat setiap tahunnya. Seperti pada tahun 2002 tercatat rata-rata 620.702 jumlah perjalanan dan pada tahun 2012 naik menjadi 1.791.295 jumlah perjalanan. Di tahun 2019 ini naik menjadi 15.482.528 jumlah perjalanan.

Untuk jumlah kenderaan sampai saat ini yang terdaftar ada 16.008.168 unit. Jumlah tersebut belum termasuk angkutan umum yang berjumlah 76.022 unit. Sedangkan untuk jarak tempuh kenderaan di Jakarta rata-rata hanya 40km/perjam. Perjalanan ini tentunya belum termasuk di kawasan macet yang terkadang hanya 10-20km/jam.

Sementara panjang jalan di Jakarta hanya 7.650 Km dan luas jalan 40,1 Km atau 0,26 persen dari luas wilayah DKI Jakarta.

Gatot menyebut jumlah sepeda motor di jalan semakin dominan, sementara peran angkutan umum masih rendah. Persebaran dari total pergerakan masyarakat di Jabodetabek didominasi oleh sepeda motor yakni sebesar 75 persen, kenderaan pribadi sekitar 23 persen dan angkutan umum hanya 2 persen.

BACA JUGA:   Pemerintah Harus Segera Sahkan RUU TPKS Jadi Undang-Undang

Menurut Gatot, berbagai terobosan sudah ditempuh oleh pemerintah daerah dan Kepolisian Polda Metro Jaya seperti penerapan aturan ganjil genap peningkatan pelayanan dan kondisi kendaraan angkutan umum serta peningkatan sarana dan prasarana jalan.

“Namun hal itu belum maksimal apalagi dibarengi dengan tingkatan kesadaran masyarakat yang masih rendah,” tandas Jenderal bintang tiga itu.

Untuk itu, Gatot berharap di tahun 2020 nanti persoalan itu menjadi tantangan tugas kedepan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya untuk lebih meningkatkan kesiapan dalam mendeteksi dan mengantisipasi setiap dinamika perkembangan situasi Kamtibmas yang terjadi serta mampu meningkatkan kinerjanya dalam rangka memberikan perlindungan pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat.

“Mari kita tingkatkan kesadaran tertib dalam berlalu lintas karena pembangunan sarana dan prasarana transportasi tidak akan berarti jika tingkat kesadaran masyarakat masih rendah,” pungkas Komjen Pol Gatot Eddy Pramono.

(dis/beritasampit.co.id)