HMI Soroti Masalah Kekerasan Seksual Perempuan dan Anak di Katingan

ORGANISASI : IST/BS - Ketua Umum HMI Komisariat Katingan Rabuansyah

KASONGAN – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana atau (DP3AP2KB) memiliki tugas tidak hanya melakukan penyiapan bahan penyusunan program kerja dan rencana kerja bidang sinkronisasi saja.

Namun juga melakukan sosialisasi, pemberian bimbingan teknis dalam upaya pencegahan dan penanganan, perlindungan perempuan dan anak korban kekerasan.

Demikian disampaikan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Katingan, Rabuansyah, kepada beritasampit.co.id, Jumat (10/1/2020) di Kota Kasongan.

“Saya sarankan Dinas Pemberdayaan perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Katingan agar lebih aktif dalam melakukan kegiatan sosialisasi dalam rangka upaya menangani dan antisipasi tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak,” terangnya.

BACA JUGA:   KMHDI Mengabdi, Dorong Pemuda Kalteng Pantang Menyerah

Hal ini menurutnya, karena sering terjadi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak akhir-akhir ini terkhusus di Kabupaten Katingan.

Dari beberapa jenis kekerasan yang sering terjadi ternyata kekerasan pelecehan seksual, diikuti kekerasan psikis maupun kekerasan fisik.

“Apalagi jika di ukur melalui skala data nasional kekerasaan seksual pada anak di Indonesia menepati posisi teratas,” ucapnya.

Kemudian, Mahasiswa Universitas Muhammaddiyah Palangka Raya Kampus II Kasongan ini juga menjelaskan, dengan besarnya angka kasus kekerasan pada perempuan dan anak seharusnya berbanding lurus dengan hadirnya instansi pemerintah daerah untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang sering muncul agar segara adanya tindakan antisipasi dari tindakan kekerasan.

BACA JUGA:   Wisata Bukit Batu Kembali Dikembangan Melalui Dana DAK

Dengan demikian, Ia menyarakan pihak terkait melakukan upaya pencegahan tidak hanya dengan melakukan kegiatan sosialisasi. Namun juga dengan berbagai aksi kempaye dengan melibatkan keluarga, sekolah dan masyarakat.

“Buat kegiatan semenarik mungkin, yang memberikan edukasi dan kepedulian sosial pada persoalan kekerasan pada perempuan dan anak,” pungkasnya.

(nas/beritasampit.co.id)