Menengok Makam di Wisata Religi Ujung Pandaran, Peziarah Datang dari Kalsel, Bayar Cuma 250 Ribu

BERDOA DI KUBAH : ARIFIN/BS - Rombongan Kades Ujung Pandaran saat berdoa di kubah makam Buyut Datuk Kalampayan Albanjari.

Laporan : ARIFIN

UJUNG PANDARAN – Destinasi wisata ujung pandaran di Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), tidak hanya menyuguhkan keindahan pantai. Disisi lainnya, terdapat sebuah makam yang hampir setiap hari dikunjungi para peziarah.

Peziarah tidak hanya datang dari penduduk lokal khususnya di Kotim, bahkan dari luar Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) yakni Kalimantan Selatan (Kalsel).

Mereka rela meluangkan waktu demi berkunjung ke makam Al’alimul Allaamah Syekh Haji Abu Hamid bin Al’alimul Allaamah Mufti Syekh Muhammad As’ad (buyut datuk kalampayan) Al-Banjari.

Hanya saja, waktu untuk berziarah dibuka pagi dan sore. Sedangkan malam para motoris tidak berani mengantarkan penumpang dikhawatirkan terjadi sesuatu. Sebab, dilokasi ketika malam tidak ada lampu penerang karena jaraknya lumayan jauh dari permukiman penduduk.

BACA JUGA:   Warga Harap Tidak Ada Penggalian Susulan Usai Jalan Diaspal
Menuju Lokasi menggunakan Perahu (kelotok)

Akses menuju makam hanya bisa ditempuh menggunakan transportasi air sejenis perahu atau biasa disebut kelotok (bahasa lokal). Lamanya jarak tempuh untuk mencapai lokasi diperkirakan sekitar 10 menit.

“Biaya ke makam pulang pergi hanya 250 ribu per rombongan, jumlah rombongan disesuaikan dengan kapasitas kelotok,” ucap Kepala Desa Ujung Pandaran Aswin Nur kepada wartawan beritasampit.co.id, saat berziarah ke makam, Jumat 14 Februari 2020.

Biasanya para peziarah datang ke makam Buyut Datuk Kalampayan untuk berdoa. Doa yang dipanjatkan sesuai dengan niat awal masing-masing.

Selain berziarah wisata religi, pada peziarah juga bisa menikmati keindahan panorama pantai ujung pandaran.

Disekitar makam terdapat beberapa sarana yang telah disiapkan pemerintah menggunakan dana APBN seperti, musala dan fasilitas untuk berwudhu. Namun, para peziarah tidak diperkenankan menginap disekitar makam.

BACA JUGA:   Kado Pahit Awal 2020, 14 Desa di Kecamatan Ini Gelap Gulita

“Wisatawan yang datang hampir setiap hari tidak hanya lokal bahkan ada yang dari Banjar Kalsel,” kata Aswin yang juga bakal calon wakil bupati Kotim melalui jalur partai politik ini.

Wisatawan yang ingin menginap, lanjutnya, di sekitar destinasi terdapat beberapa penginapan. Lokasinya tidak jauh dari dibibir-bibir pantai. Para pengunjung akan dimanjakan dengan makanan laut. Sebab, penduduk Desa Ujung Pandaran profesinya rata-rata nelayan.

“Kekayaan ikan laut cukup berlimpah, hal ini salah satu keunggulan destinasi pantai ujung pandaran, para wisatawan bisa langsung makan ikan laut segar,” ujar pemuda yang juga menjabat Bendahara Apdesi Kabupaten Kotim ini. (***)