Miris, 6 Guru Tinggal Dalam Satu Bangunan Tak Layak Huni di Mentaya Hulu

M Abadi Anggota DPRD Kotim bersama Kepsek SDN 1 (pakai jilbab), Kades Baampah dan tokoh masyarakat saat menunjukan dan berkomunikasi dengan para guru di Rumah Dinas yang suadah tua tersebut baru ini

SAMPIT – Rumah dinas guru Sekolah Dasar Negeri 1 Desa Baampah, Kecamatan Mentaya Hulu kembali menjadi sorotan anggota DPRD Kotawaringin Timur saat melakukan reses di desa setempat pada Jumat 21 Februari 2020 sore lalu.

Pasalnya, selain sudah dalam keadaan rusak parah, enam orang guru yang mengajar di SDN 1 Baampah tersebut harus tinggal didalam satu bangunan yang sudah terlihat rapuh dan atap maupun plafonnya sudah dalam keadaan rusak parah.

Pantauan dilapangan, kediaman para guru yang mayoritas bukan pendudukan asli desa Baampah itu terpaksa menempati rumah yang terbuat dari bahan material kayu tersebut dan mirisnya mereka tinggal didalam satu bangunan sedangkan rata-rata guru sudah berkeluarga dan memiliki anak.

BACA JUGA:   Dukung Penuh Langkah Pemkab, Wakil Ketua DPRD Minta Tindak Tegas Pelaku Usaha THM Bandel

Dikonfirmasi hal ini Kepala Sekolah SDN 1 Baampah,Yossie Vina Alsa mengakui merasa terbebani dengan hal ini. Namun dirinya menjelaskan tidak bisa berbuat banyak untuk mensejahterakan para guru yang tak lain merupakan rekan kerjanya di Desa Baampah itu.

“Bapak lihat sendiri keadannya,dan tanyakan sendiri kepada para guru yang menempati rumah dinas ini, saya tidak bisa berbuat banyak karena harapan kami dengan kedatangan bapak M Abadi ini selaku wakil rakyat dari dapil Lima ini memperjuangkan aspirasi masyarakat,” ungkap Wanita yang mengaku sudah sejak tahun 2009 mengajar di sekolah tersebut.

M Abadi yang juga hadir bersama Kepala Desa, tokoh masyarakat dan ketua BPD Desa Baampah itu menyampaikan akan memperjuangkan rumah dinas guru desa tersebut supaya tidak lagi tinggal dalam satu bangunan mengingat bangunan itu sudah sangat lama dan sangat perlu pembangunan rumah Dinas baru.

BACA JUGA:   Rapat Ranperda DPRD Kotim Diskors, Ini Alasanya

Bahkan saat dibincangi beritasampit.co.id Sabtu (22/2/2020) tadi siang ia juga berharap agar instansi terkait khususnya dinas pendidikan memperhatikan kesejahteraan para guru yang berada di pedalaman tersebut.

“Sangat tidak layak lagi ditempati kalau kita lihat fisiknya, dan fatalnya lagi mereka sebanyak 6 orang yang sudah berkeluarga dan ada yang punya anak harus tinggal dalam satu bangunan tua seperti ini, kenapa tidak dibangunkan kembali selayaknya dan dibuat terpisah, lagian luasan lahan sekolah SD itu saya lihat masih besar,” tutupnya.

(Drm/beritasampit.co.id)