KKN 2020 Desa Bajarum; Lebih Dari Sekedar Rindu

JMY/BS - Mahasiswa peserta KKN STKIP Muhammadiyah Sampit 2020 Posko 3 Desa Bajarum Kecamatan Kota Besi saat berfoto bersama di sebuah persawahan desa.

Penulis: Rakhmad Jimmy

TAK pernah ada niat kami, datang lalu pergi tanpa meninggalkan manfaat bagi masyarak Desa Bajarum Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Pada pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) 2020 yang dilaksanakan oleh kampus tercinta sejak 13 Januari 2020 lalu, hingga 19 Februari 2020 kemarin. Ada banyak kenangan di desa yang berpenduduk 1.352 orang itu, desa yang terkenal dengan iconic jembatan Mentaya, (Bajarum) kata masyarakat menyebutnya.

Desa yang dipimpin oleh Kepala Desa bernama Hadriansyah adalah Kepala Desa beragama islam pertama di desa tersebut. Bermula pada pelepasan sejak 13 Januari lalu. Kami secara resmi menginjakkan kaki ke desa itu. Pada mulanya kami mencari sebuah rumah yang akan di kontrak selama kurang lebih satu bulan untuk digunakan sebagai posko. Datang dengan formasi sepuluh orang, terdiri dari tiga laki-laki dan tujuh perempuan, kami langsung disambut dengan hangat oleh warga setempat. Dengan menempati sebuah rumah di RT 3, yang suatu saat nanti akan menjadi saksi bisu kami dalam sebulan kedepan.

Ya, nampaknya suasana dengan semboyan Kotim, habaring hurung (gotong royong) di tempat itu masih kental terlihat. Kerukunan umat beragama dan antar dua etnis yang hidup berdampingan, menjadi tolak ukur kami dalam beradaptasi dilingkungan baru.

Benar saja, lingkungan yang berjarak 21 kilometer dari pusat kota sampit itu membuat kami lupa dengan hiruk pikuk kota. Ditambah lagi rencana program kerja yang harus kami garap dalam manivestasi catur dharma perguruan tinggi muhammadiyah, harus segera selesai. Mengingat waktu yang hanya kurang lebih satu bulan adalah waktu yang sangat singkat jika dilihat dari sudut pandang realisasi program kerja, namun sangat panjang jika di keluhkan.

Menulis kisah suka maupun duka KKN di Desa Bajarum punya kompleksitasnya sendiri. Namun kiranya, sepenggal kisah singkat ini bisa mewakili rasa yang kami jalani saat KKN hingga pasca pelaksanaannya. Disinilah, barangkali tertuang perasaan rindu.

BACA JUGA:   Refleksi Akhir Tahun 2020 : Membangkitkan Kompetensi Sosial Dengan Hati, Tapi Tidak Sesuka Hati

Rindu kepada sanak keluarga saat KKN, rindu pada kesibukan segala aktifitas pekerjaan saat berada di kota, dan terakhir. Rindu dengan segala apa yang ada di desa bajarum. Baik dinamika bersama kawan-kawan seposko, juga suasana kebersamaan dengan adik-adik yang masih mengeyam pendidikan dasar.

Kami sadar, kami bukanlah penulis yang pandai dalam menarasikan setiap cerita di memori kami dalam sebuah tulisan, namun sekali lagi kami berharap. KKN yang kami laksanakan akan menjadi kisah yang akan terus bisa diceritakan kepada kawan-kawan mahasiswa, masyarakat desa bajarum hingga siapa saja yang membacanya. Dengan demikian, ketidak sempurnaan kami dalam pelaksanaan KKN tadi menjadi catatan dalam perjalanan hidup kami.

Suasana kekeluargaan di desa itu membuat kami cepat untuk bersosialisasi dengan warga setempat. Teringat saat seruan pada acara haul, sehabis magrib. Saat itu kami baru saja usai melaksanakan ibadah salat tersebut, beramai-ramai warga desa ke sebuah rumah yang kabarnya melaksanakan haulan anggota keluarganya yang meninggal dunia, sebelum kami di sana. Di situlah kami mengenal lebih jauh warga setempat.

Rutinitas kami setiap hari adalah bergulat dengan diskusi antar rekan seposko dan membangun komunikasi kepada pemerintah desa serta tokoh masyarakat setempat. Pagi hari, sama seperti rutinitas di rumah sebelum KKN kami bergegas bangun lebih awal untuk membersihkan posko dan meapikan kendaraan. Maklum saja, kabar mendadak dari tim panitia KKN dan tim monitoring evaluasi (Monev) sidak ke posko. Juga suara riuh anak-anak desa bajarum yang tengah duduk di sekolah dasar sudah membuat bising telinga kami. Biasanya sebelum berangkat sekolah, mereka acap kali singgah ke posko kami untuk membanguni sekaligus bercengkrama.

BACA JUGA:   Covid-19 Itu Nyata Jangan Dianggap Sepele

Musim hujan yang mengiringi langkah kami di desa bajarum saat KKN menjadi salah satu pemacu semangat untuk terus melancarkan program kerja. Apalagi, canda dan tawa bersama anak-anak desa serta kawan-kawan seposko menjadi penawar rindu kami terhadap keluarga di rumah. Tentu hal tersebut membuat kami ‘agak betah’ untuk tetap berada di sana. Semakin hari, pergaulan kami dengan warga setempat semakin luas. Tak terasa kami juga merajut komunikasi dengan sejumlah guru di salah satu PAUD di desa tersebut.

Keakraban kami semakin kesini semakin dalam, namun tak terasa satu bulan berlalu telah kami lewati di musim hujan ini. Ya, musim hujan yang membuat kami kaku, kaku dalam berpamitan dan juga kaku untuk beranjak dari lokasi KKN. Harapan kami, dunia pendidikan di desa tersebut akan lebih baik. Karena banyak anak-anak yang masih lugu menggantungkan nasibnya pada pendidikan setempat. Kiranya, dalam menuangkan tulisan ini dalam membendung rindu kepada anak-anak dan rutinitas yang telah kami lewati di sana.

Saya membayangkan, suatu saat kami kembali kesana bukan dengan tangan kosong. Melainkan dengan membawa lebih banyak masa depan untuk desa tersebut. Sebuah kisah yang sempurna adalah kisah yang tak pernah dituliskan, begitu orang bijak pernah dikutip. Ketidak sempurnaan itu kami sadari. Demikianlah, tulisan ‘obat penawar rindu’ ini saya buat. Rasa hormat dan terimakasih kami kepada warga desa selalu kami curahkan.

Terimakasih, KKN 2020; Lebih Dari Sekedar Rindu ini belum usai. Sesampainya suatu saat kami melakukan yang terbaik untuk desa tersebut atau mungkin bukan desa bajarum.

Penulis: Rakhmad Jimmy adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi, Kampus STKIP Muhammadiyah Sampit.