Perbaikan Jembatan Mentaya, Warga Desa Bajarum Berharap Pendapatan Meningkat

Berita Sampit
Harapkan Hikmah : JMY/BS - warga dan pedagang di desa bajarum harapkan hikmah dari pengerjaan jembatan mentaya.

SAMPIT – Pasca di tabrak oleh tongkang pengangkut biji bisi pada 21 Desember 2013 lalu. Jembatan mentaya, di desa bajarum kecamatan kota besi, kabupaten kotawaringin timur (Kotim) yang hampir ambruk pada saat itu kini akan di uji beban dengan metode buka tutup. Kejadian 7 tahun lalu itu ternyata masih meninggalkan bekas pada konstruksi bangunan sehingga harus dilakukan pengujian.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Bina Marga Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional XI menjadwalkan penutupan pada Sabtu, 14 Maret 2020 pukul 22.00 – 24. 00 WIB. Hingga Minggu, 15 Maret 2020 pukul 00.30 – 02.30 dan pukul 03.00 – 05.00 WIB.

Kepala Desa Bajarum Hadriansyah mengatakan, jika berkaca dengan kejadian beberapa tahun lalu pada jembatan tersebut. Masyarakat setempat mendapatkan hikmah dari peristiwa itu. Pasalnya, antrian pengguna jalan dengan panjang puluhan kilometer membuat pendapatan warga meningkat dari sebelumnya.

BACA JUGA:   Fraksi PKB Dukung Pemekaran Provinsi Kotawaringin

“Jika memang nanti hasil dari uji beban di jembatan mentaya waktu penutupannya sama seperti beberapa tahun lalu. Maka pasti ada dampaknya kepada masyarakat, tapi semoga tidak separah dulu penutupannya. Antri satu jam saja pengendara, sudah luar biasa dampaknya kepada masyarakat,” kata Hadriansyah, Senin, 2 Maret 2020.

Ia melanjutkan, antrian tersebutlah yang membuat pengguna jalan berbelanja di sekitar kawasan desa bajarum. Sehingga omset pedagang meningkat jauh lebih besar dari biasanya.

Walaupun nantinya penutupan jembatan hanya sebentar saja, tetapi jika antrian cukup panjang maka akan berdampak kepada kita. Mengingat jembatan ini adalah satu-satunya akses pengguna jalan.

BACA JUGA:   Pantau Situasi Keamanan, Polres Seruyan Gelar Patroli Skala Besar

Sementara itu, seorang penjual rujak, ketupat yang berada di bawah jembatan mentaya menyebutkan pada tahun 2013 lalu saat jembatan di tutup. Ia mendapatkan hasil yang melebihi hari-hari biasa. Ia menceritakan bahwa saat itu kondisi di desa nya tidak seperti sebelumnya, karena banyak pengguna jalan yang memadati dermaga penyeberangan di desa Bajarum Jalan Sepakat.

“Sambil mengantri nunggu ferri untuk menyeberang. Banyak orang yang beli makan di tempat saya. Sehari saja bisa dapat satu juta, harapannya semoga jembatan tidak apa-apa dan nanti bisa lagi menikmati imbas dari perbaikan jembatan,” demikian penjual rujak ketupat yang biasa di panggil Bibi.

(jmy/beritasampit.co.id)