Aktivis Muda GMKI Angkat Bicara Soal Hari Perempuan Internasional

WAWANCARA : NA/BERITA SAMPIT - Deai dan Lika, aktivis perempuan Palangka Raya bicara tentang Hari Perempuan Internasional, Palangka Raya Rabu, 4 Maret 2020.

PALANGKA RAYA – Hari Perempuan Internasional atau Internasional Women’s Day dirayakan pada tanggal 8 Maret setiap tahunnya.

Merayakan hari Perempuan Internasional gerakan perempuan di seluruh dunia kini tengah mempersiapkan diri dalam berbagai aksi dan kampanye untuk memperjuangkan hak-hak perempuan, tidak terkecuali dengan gerakan perempuan di Indonesia khususnya di Palangka Raya Kalimantan Tengah.

Desi Sipitri dan Lika Lamulina Simanjuntak kedua aktivis perempuan ini pun sibuk mempersiapkan diri dan kegiatan untuk menyambut agenda besar kaum Perempuan tersebut.

Bagi mereka Hari Perempuan Internasional adalah moment yang tepat untuk melakukan aksi nyata dan memperjuangkan hak-hak kaum perempuan.

BACA JUGA:   AMP Kalteng Demo Tolak Pemekaran Provinsi Kotawaringin, Ini Respon Dewan

“Bagi saya hari perempuan Internasional menjadi moment yang penting untuk perempuan bicara tentang berbagai persoalan yang terjadi hari ini,” ujar Lika Lamulina Simanjuntak, mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Palangka Raya tersebut.

Ketika ditemui di kawasan Pujasera Palangka Raya, Rabu 4 Maret 2020, kedua kader Perempuan Gerakan Mahasiswa Kristen (GMKI) Palangka Raya ini sepakat bahwa saat ini perempuan belum sepenuhnya merdeka dan memahami betul esensinya sebagai perempuan.

Desi Sipitri menambahkan bahwa Hari Perempuan Internasional harus menjadi proses membangun kesadaran semua pihak agar melek terhadap kekerasan berbasis gender yang masih terus terjadi di kalangan masyarakat Indonesia.

BACA JUGA:   DAD Kalteng Tegaskan Jaga Keutuhan NKRI

“Banyak sekali hal yang terjadi dalam keseharian kita, tanpa disadari merupakan bentuk kekerasan, pelecehan, dan diskriminasi berbasis gender. Siapa yang paling rentan terhadap itu semua? Perempuan,” ujar Desi salah satu Pengurus Cabang GMKI Palangka Raya ini.

Menurutnya, perempuan dan laki-laki adalah mahluk utuh dengan hak-hak yang setara, mereka menilai harusnya di era sekarang sudah tidak zamannya lagi menjadikan perempuan sebagai kaum yang dinomor duakan karena era sekarang adalah era perjuangan bersama.

(NA/beritasampit.co.id)