Gelap Gulita, Taman Kota Sampit Rawan Aksi Kriminal

GELAP GULITA : JMY/BERITA SAMPIT - Suasana taman kota Sampit yang tidak diterangi lampu pada Senin 30 Maret 2020. Hal itu berpotensi memunculkan aksi kriminalitas di kawasan tersebut.

SAMPIT – Ditutupnya sejumlah objek wisata seperti Ikon patung jelawat, museum kayu, taman miniatur budaya, wisata pantai ujung pandaran, kawasan olahraga di stadion 29 November dan taman kota Sampit.

Membuat masyarakat di kota Sampit kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) bertambah enggan untuk melakukan banyak aktivitas di luar rumah.

800

Menyusul kebijakan pemerintah untuk mengurangi aktivitas di luar rumah demi pencegahan wabah Corona.

Menurut warga yang bermukim di dekat taman kota Sampit, sejak beberapa hari lalu sejumlah lampu atau penerangan di objek wisata itu padam saat malam hari.

“Beberapa hari kebelakang memang tidak hidup lampunya, mungkin karena di tutup akibat pencegahan Corona. Tapi beberapa waktu lalu menyala,” kata Aldi warga setempat.

BACA JUGA:   Peduli Covid-19, Gubernur Bagikan Bantuan Untuk Masyarakat Kotim
GELAP GULITA : JMY/BERITA SAMPIT – Suasana taman kota Sampit yang tidak diterangi lampu pada Senin 30 Maret 2020. Hal itu berpotensi memunculkan aksi kriminalitas di kawasan tersebut.

Terpantau, saat ini sejumlah lampu LED yang berjumlah empat tiang di dalam taman kota tidak menyala. Di sisi barat taman kota hanya beberapa Penerangan Jalan Umum (PJU) yang menerangi.

Disisi selatan, PJU tersebut padam total, sama dengan sisi timur serta sisi utara. Padahal semua sisi dikelilingi PJU.

Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Kotim, Ahmad Sarwo Oboi, mengatakan penyebab padamnya sejumlah PJU itu lantaran, akibat korsleting.

“Korsleting ternyata, kata petugas di lapangan,” ungkap Oboi saat dikonfirmasi, Senin 30 Maret malam.

Ia juga mengatakan, secepatnya PJU itu akan diperbaiki sehingga penerangan jalan normal kembali.

“Besok petugas pasti segera memperbaiki secepatnya. Selama objek wisata ini ditutup, kita tidak matikan penerangan saat malam hari,” tegas Oboi

BACA JUGA:   Kotim akan Terima Bantuan APD dari Pusat

Oboi sapaan akrabnya juga membantah jika selama objek wisata itu ditutup, penerangan dipadamkan.

“Tidak ada kita mematikan lampu selama ditutup. Itu karena ada kerusakan saja,” demikiannya

Ditempat terpisah salah satu Pedagang Eks Mentaya mengungkapkan dengan kondisi padamnya lampu penerangan, warga setempat yang melintasi jalan tersebut mengaku khawatir dengan hal tersebut.

“Kita takut aksi kriminal saja, apalagi setiap malam banyak orang nongkrong baik laki-laki maupun perempuan hingga subuh dini hari. Jadi rawan, apa lagi gelap gulita,” kata pedagang kawasan pasar eks mentaya.

(jmy/beritasampit.co.id)