Mati Karena Corona atau Mati Kelaparan di Rumah

Oleh: Akhiruddin

USAI shalat magrib berjamaah di rumah, seperti biasanya saya memantau berita yang masuk ke dapur redaksi. Memantau untuk memastikan saja kalau tidak ada kendala dalam proses hingga berita tersebut tayang.

800

Sambil memantau berita saya juga sesekali melihat media sosial saya sebagai bahan informasi yang lagi trending di masyarakat. Hampir semua status orang-orang di media sosial membicarakan soal kondisi bangsa ini karena terpapar virus Corona.

Ada yang membicarakan soal rencana pemerintah daerah yang me-lockdown daerahnya sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran virus Corona. Ada juga yang membahas sejumlah penyataan elit negeri yang dianggap kontroversi.

Tidak sedikit juga yang menyebarkan informasi yang diragukan kebenarannya soal informasi Corona, seperti cara menangkal virus yang dianggap berbahaya ini. Ya, itulah liku-liku bermedia sosial, semoga kita bijak dalam menggunakannya.

BACA JUGA:   PERSPEKTIF HUKUM : Dampak Covid-19 terhadap Debitur pada Perusahaan Pembiayaan/Finance

Sebuah video yang diunggah di media sosial tiba-tiba menarik perhatian saya. Sebuah video yang cukup mengetuk hati saya sebagai orang yang juga harus mengikuti protokol penanganan virus Corona.

Video tersebut memperlihatkan seorang warga yang memprotes kebijakan pemerintah untuk ‘merumahkan’ warganya. Di video tersebut warga ini minta solusi dari pemerintah jika harus berada dalam rumah selama 14 hari.

Sebuah ucapan dari warga ini yang membuat saya terharu. ‘Kalau saya diluar saya dituduh akan mati karena Corona. Tapi kalau saya di rumah tanpa ada penghasilan saya juga bisa mati kelaparan di rumah’.

Sebuah ungkapan yang wajar bagi seorang yang menggantungkan hidupnya dari berjualan (pedagang kaki lima). Karena ketika dia berdiam di rumah, maka akan tidak berpenghasilan lagi seperti halnya pegawai kantoran apalagi yang berstatus ASN.

BACA JUGA:   Covid-19 dan Kuliah Daring

Sejatinya memang, pemerintah lebih awal mensosialisasikan apa saja kompensasi yang akan didapatkan warga jika harus dirumahkan. Setidaknya warga yakin bahwa selama dirumahkan masih bisa makan atau menjanggal perut.

Setidaknya dengan adanya gambaran kompensasi itu bisa menenangkan warga yang saat ini dilanda kepanikan.

Namun Alhamdulillah, di hari yang sama, Gubernur Kalimantan Tengah, Sugianto Sabran mengeluarkan statement lewat videonya juga kalau pemerintah yang dinahkodainya akan menanggung sembako bagi warganya yang dirumahkan.

Sebuah statement yang cukup menyejukkan bagi warga yang saat ini dalam kepanikan. Semoga apa yang dilakukan oleh Gubernur Kalteng bisa menjadi contoh bagi pemerintah yang lain. Amin. (*)
(Penulis adalah Pemimpin Redaksi www.beritasampit.co.id)