SEGENGGAM SESALKU

Ilustrasi/Net.

(Cerpen, Karya : Moecicha)

Kesalahan terbesar dalam hidupku adalah pernah mengabaikan dan mengikhlaskanmu. Keheningan malam benar-benar telah menyelimuti sekujur tubuh kota Banjarmasin, seiring dengan pijaran lampu neon yang kian memerah, menebas di gedung-gedung, rumah-rumah dan toko.

Malam mulai menebarkan jubah hitamnya, namun tak juga menyebakkan tudung tidur dipelopak mataku.  Aku masih segar menepi dijendela kamarku bersekutu dengan malam yang tiba-tiba mengkhayalkan. Kau laki-laki di tiga tahun yang lalu.

Entah harus bagaimana ku lukis bayangamu, saat keindahan malam tak mampu menandingi secara persis sosokmu dengan segala keindahan itu aku kerap menggambarkanmu kedalam sebait puisi, lalu ku curi barisan diksi dari kerajaan para penyair, kurangkai kedalam udara malam yang syarat embun dan ku liat kau disana.

Ahmad Miqdad,…wajahnya tenang seperti embun yang jatuh dipucuk-pucuk daun, sepasang matanya adalah kemala yang dipenuhi peri kasih sayang, hatinya lurus umpama cahaya bulan yang menerobos masuk kedalam celah jendela, suaranya rendah dan santun.

Ahmad Miqdad,…dia selalu ada disaat suka dan dukaku, dialah penawar atas kesakitanku.

Ahmad Miqdad bukan sekedar masa laluku, tetapi dia juga sahabat dan malaikat dalam segala kebaikan, yang ada dalam dirinya. Karnanyalah untuk pertamakali dalam hidupku terasa amat sangat sedih dan hatiku sibuk mencari-cari sesuatu yang telah hilang.

***

Akhir Juli di tiga tahun yang lalu, saat matahari dengan gerang membakar pepohonan dan daun-daun gugur dalam pelukan taman kota, serta merta bunga Kamboja merunduk layu dan jatuh membawa aroma kepedihan. Disinilah lipatan-lipatan sesalku bermula.

Saat itu jam menunjukan pukul enam persekian menit dan matahari baru saja tenggelam kedalam daun-daun, sementara langit mengakalkan diri dilorong jingga.

Ditaman Kamboja, seperti biasa kita memilih bangku kayu itu untuk bisa duduk berdampingan menghabiskan akhir pekan berjam-jam sambil menikmati sekotak pisang keju coklat kesukaanku. Masih menggema ditelingaku suara tawa kita disela-sela percakapan konyol kita waktu itu, tak terasa sekotak pisang keju, semangkuk pentol kuah dan dua gelas cappuccino yang kita pesan kini tinggal sisanya.

Namun kita masih asyik mengobrol, pembicaraan kita yang tak bertuan seolah tak kunjung habis.

Idad,… biasanya aku memanggilnya, walaupun umurnya berjarak satu tahun diatasku, namun Idad yang begitu dewasa dan membuatku segan terhadapnya.

Aku bahagia dengan hubungan ini, bahagia karna Idad selalu ada untukku, walaupun terkadang dia sering bepergian karna kegiatan rutinnya itu. Kadang tiga hari, satu minggu, bahkan pula 40 hari lamanya.

Ach,…aku sudah biasa dengan kepergiannya. Namun, saat ia disisihku tak pernah sedikitpun ia melewatkan waktu tentang ku. Sungguh aku bahagia karna Idad selalu ada untukku, walaupun begitu semuanya tak mengubah benang-benang sayang yang sudah berbulan-bulan terjalin ini menjadi air mata.

Aku menyayanginya karna ia kekasihku sekaligus sahabat saat itu.

Dalam banyak hal aku sangat menyukai Idad, terutama sikapnya.

Aku juga suka Idad yang bawel, bahkan ketika diajak bicara idad adalah lawan bicara yang cocok. Namun, lain halnya ketika kami berbicara tentang perasaan aku merasa sedikit risih bahkan terganggu, seperti halnya malam itu untuk yang kesekian kalinya Idadi mengatakan lagi.

BACA JUGA:   Pembelajaran Tatap Muka Kembalikan Psikologis Anak

“Maaf, aku cuman bercanda…” Tiba-tiba suara Idad menepi lembut.

Aku hanya diam, entah kenapa rasa benci muncul dan memuncak saat kata cinta itu keluar dari mulut Idad. Kata cinta yang selalu saja diulang.

Malam baru menunjukkan angka pukul sembilan, lebih awal dari biasanya aku pulang dan tak ada alasan yang dapat membuatku bertahan disini.

Saat pembicaraan itu seolah terasa membuatku seperti diderai salju, tanpa terasa aku langsung pergi dan tak berkata apapun, aku beranjak meninggalkan idad.

Aku menghidupkan sepeda motorku dan pergi berlalu begitu saja. Disepanjang jalan Idad masih berusaha menelponku. “Apa? “ tanya ku sinis

Ketika itu aku sudah sampai di rumah.

“Please, maaf ya, jangan marah dan menangis lagi. Aku janji ini yang terakhir kali oke?“ Miqdad terdengar begitu lembut namun tak juga melunakkan amarah dan tangisku.

Aku mematikan telpon dan ku lemperkan ke atas kasur. Entahlah mengapa aku begitu marah ketika itu.

Kesal sekali seolah hatiku rasa sakit saat Idad berkata dia mencintaiku dan ingin menyudahi akan hubungan ini disaat aku sangat menyayanginya, terlebih saat ia berkata dengan alasan ingin fokus untuk pendidikan. Padahal meski LDR tak masalah bagiku, namun berbeda dengan Idad dia tetap inginkan itu. Ah aku benar-benar benci bahkan sampai ingin muntah rasanya.

Malam semakin larut, hatiku kelam. Berulang-ulang Idad masih mencoba menelponku namun ku abaikan.

***

Sinar matahari menyembul dipucuk-pucuk daun, menerobos masuk kecelah-celah jendela kamarku, aku menggeliat sambil mengedipkan mataku, ku lirik jam diatas meja belajar, pukul tujuh.

Owh masih begitu pagi aku bangun, akhir pekan biasanya aku bangun jam sembilan.

Dengan malasnya aku bangun dan membuka jendela, hembusnya angin pagi menebas wajahku.

Aku terkejut ketika ku lihat Idad tengah berdiri didepan pagar rumah kontrakanku.

Hah…sepagi ini.

Ku lihat ponsel ku barangkali dia mengirimkan pesan untuk datang sepagi ini, namun tak ada.

ach rasanya enggan untuk menghampirinya. Rasa kesal bekas tadi malam masih menyelimut diujung hatiku. Ku ambil switer hitamku dan melangkah keluar.

“Ini kamu perlu inikan, untuk menterjemahkan artikel temanmu?“ kata Miqdad sambil menyodorkan kamus bahasa arab yang aku pesan kemarin.

“…dan tugas fiqihnya sudah ku ketik tadi malam, tinggal diprint aja lagi…” tambahnya.

“Ini untuk siapa? “ tanya ku sambil menunjukkan sekotak roti coklat didalam plastik besar itu.

“Ooh itu,… untuk kamu juga, karna aku tau kamu sering lupa makan,” timpa Miqdad sambil mengelus-elus kepala ku seperti anak kecil.

“Ya sudah aku pulang dulu…” katanya lagi.

Miqdad menghidupkan sepeda motornya dan pergi meninggalkanku.

BACA JUGA:   UPR Jalin Kerjasama dengan Kampus UNTIRTA

Aku masih berdiri di depan pagar, ingin rasanya aku menangis terharu. Bagaimana mungkin atas segala perlakuanku dia masih saja perhatian. “Miqdad menyebalkan,”(bisikku didalam hati).

Miqdad memang begitu, selalu baik dan juga paling bisa membuatku tersenyum.

Pernah sesekali ku coba mencari-cari barangkali disudut hatiku ada segenggam cinta yang tersembunyi. Namun nyatanya nihil, aku tak menemukan itu.

Yang ada aku hanya menyukainya dan menyayangi miqdad dan aku takut harus berpisah dengannya. Entahlah,… sering aku berpikir mengapa tuhan begitu pelit membagi cinta dihatiku untuk orang sebaik Miqdad. Atau ini hanya bentuk keegoisanku yang tak ingin kehilangannya dan melepasnya pergi. Aku juga berpikir bahwa aku jahat seolah sedang memanfaatkan kebaikannya saja.

Aku benci jika mengingat bagaimana  sikap ku, benci ketika aku tak punya rasa cinta apapun. Berbulan-bulan kami terus bersama setiap kali itu pula ku lihat percikan luka dikedua bola matanya.

*

Waktu terus berganti menjemput dan melantunkan ku dari satu cerita kecerita lain. Musim semi dan alampun mulai berbicara lewat desiran angin ditaman Kamboja menebarkan semerbak wangi bunga-bunga. Aku duduk dibangku kayu itu seraya memandangi jalan yang dipenuhi lalu lalang kendaraan dan jajaran pohon akasia.

Paman penjual pisang keju itu kini telah digantikan dengan penjual lainnya.

Satu jam berselang aku lamunkan kenangan-kenangan yang mengumandangkan suara sesak.

Taman Kamboja daun-daunnya keteguhan wangi semerbak bunga-bunga namun mengapa seolah musim gugur kemaren lebih indah dari musim ini.

Hatiku terasa kosong, hilang dalam keheningan waktu.

“Tuhan,… kau telah membolak-balikan hatiku, kau juga telah menumbuhkan mawar digurun hatiku yang gersang dan menelantarkanku dilembah ini. Tuhan ,…rasa ini mengapa terlalu getar setelah kepergiannya, aku merindukannya. Rindu si pemilik wajah kemalaikatan itu. Dibalik bayang-bayangnya aku berjalan dan memperoleh pengertian-pengertian betapa berartinya dia,”

Malam ditaman Kamboja aku masih menyandarkan tubuh ku dibangku kayu itu sambil mengais-ngais kenangan dipundakku sementara sang bayu sayup menyanyikan kidung kerinduan.

Sinar ponselku yang ku genggam sejak tadi kini telah meredup, berat hati menerima kenyataan.

Kini enam bulan sudah yang tertinggal hanya kenangan-kenangan yang menggantung dan segenggam kesal.

Satu pesan dikotak masuk pesanku, Idad menghilang entah kemana dan ku baca pesan terakhir darinya waktu itu.

“Untuk perempuan ku Azeliyana, yang disetiap kali kau tersenyum, ku lihat fajar merekah dibibirmu.

Ya, kau tau bahwa aku mencintaimu dalam keindahan langit dihatiku hingga setiap saat aku hanya ingin selalu ada untukmu. Cintalah yang mengajarkanku mengindahkanmu. Cinta juga yang menghentikanku untuk tidak mengikutimu kelembah  yang lebih jauh,”…

“Ya,…jika esok kau terbangun dan matahari tak menghangatkanmu, maka berjalanlah sayang, berjalanlah dipangkuan cakrawala, menelusuri rahasia-rahasia waktu. Bahagiamu dan bahagiaku tanpa kita saling bersama itu adalah benar dan saat itu aku benar-benar telah pergi jauh” Wassalam Ahmad Miqdad. **HR (Muecica30)**

(jun/beritasampit.co.id)