Kematian Hermanus Berbuntut Panjang, Kuasa Hukumnya Minta Otopsi Ulang

Ilustrasi

SAMPIT- Meninggalnya Hermanus alias Tompel di Rumah Sakit dr Murjani Sampit dalam masa tahan Polres Kotim berbuntut panjang. Pasalnya pihak keluarga Hermanus melalui kuasa hukumnya menduga kalau korban mendapatkan kekerasan fisik di dalam tahanan sebelum meninggal.

“Menurut keterangan dari Pak James Watt dan Didik mengatakan sekitar tanggal 24 April pak Hermanus mendapatkan kekerasan fisik di bagian kepala lalu tanggal 26 dinyatakan meninggal dunia dan saya punya rekamannya,” ungkap kuasa hukum Koalisi Keadilan Pejuang Lingkungan dan Agraria Desa Penyang, Videl dalam konferensi persnya Selasa 5 Mei 2020.

BACA JUGA:   Jembatan Penghubung Antar Kabupaten Ambruk
800

Dalam kesempatan itu Videl mengatakan kematian Hermanus harus diselidiki lagi terkait dugaan adanya kekerasan fisik. Bahkan dia meminta agara dilakukan otopsi ulang jika perlu.

Almarhum Hermanus adalah bagian dari 3 orang pejuang agraria dan lingkungan yang ditangkap atas laporan pihak perusahaan. Mereka ditangkap atas tuduhan pencurian buah sawit.

Padahal kata Videl, tanah tersebut sedang dalam proses sengketa dan berada di luar HGU Perusahaan PT Hamparan Mas Bangun Persada (HMBP).

“Sejak awal, Hermanus memang memiliki penyakit mag kronis dan sejak persidangan pertama yang dilaksanakan oleh Pengadilan Negeri Sampit sudah mengalami sakit dan harus menggunakan kursi roda saat mengikuti persidangan bersama dengan mulai terjadinya wabah covid – 19 di Kalimantan Tengah,” terangya.

BACA JUGA:   Pemdes Kandan Salurkan BLT-DD Tahap Pertama kepada Warga

Menurut Videl yang disesalkannya karena tidak adanya komunikasi antara pihak kejaksaan atau pengadilan dan polisi atas tahanan. Pasalnya dari pemeriksaan dokter bahwa almarhum harus dipisahkan dan mendapatkan asupan gizi.

“Namun hingga almarhum meninggal tidak ada pemindahan tahanan dan hanya dilakukan pemeriksaan lanjutan ke RS dr Murjani Sampit hingga meninggal,” pungkasnya.
(Dasi/beritasampit.co.id)