Rumah Warga Rusak Karena Pembangunan Gunakan Paku Bumi, Aksi Protes Warga Nyaris Ricuh

AKSI PROTES : ILHAM/BERITA SAMPIT - Sejumlah warga RT 34 RW 07 jalan Suprapto Selatan Sampit, yang melakukan aksi protes bersitegang dengan pengawas lapangan. Mereka tidak terima pembangunan rumah yang menggunakan cara penumbukan paku bumi di sekitar kawasan pemukiman mereka, Sabtu 8 Agustus 2020.

SAMPIT – Warga jalan Suprapto Selatan RT 34 Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Sampit Kabuaten Kotawaringin Timur (Kotim), melakukan aksi protes terhadap pembangunan rumah milik Ferryadi Cioko, yang melakukan pengerjaan dengan memancang atau menumbuk tiang pancang menggunakan alat berat jenis paku bumi, Sabtu 08 Agustus 2020.

Akibat getaran yang cukup keras dari penumbukan tiang pancang itu, sejumlah rumah warga yang berada di sekitar mengalami rusak dan retak-retak.

Aksi protes nyaris berujung ricuh, lantaran pihak dari pemilik bangunan tidak mengindahkan teguran warga yang meminta pelaksana proyek menghentikan pengerjaan penumbukan paku bumi.

Beruntung warga bisa ditenangkan setelah para tokoh masyarakat, serta Camat MB Ketapang, Sutimin beserta pihak Kepolisian dari Polsek Ketapang datang kelokasi kejadian.

Halik, salah seorang warga setempat menuturkan keberatan dengan kegiatan pembangunan yang menggunakan alat paku bumi itu, karena menimbulkan kerusakan dan sudah sangat merugikan warga sekitar.

BACA JUGA:   Anggota DPR RI Serahkan Bantuan Kepada RSUD dr Murjani Sampit

“Di sini sangat jelas pemilik bangunan ini melanggar perjanjian dan aturan, sebab dalam pertemuan mediasi pada bulan Juli lalu yang di Fasilitasi oleh pihak Kelurahan, bahkan tertulis untuk Izin Mendirikan Bangunan (IMB) bangunan ini sementara ditangguhkan sampai proses dilapangan selesai,” kata Halik.

Hal serupa juga diungkapkan Ketua RT 34, Muslim, yang membenarkan bahwa pemilik bangunan Ferryadi Cioko tidak memegang komitmen dari surat pernyataan yang ditulis langsung olehnya, bahkan sangat jelas menulis bahwa tidak menggunakan alat penumbuk paku bumi.

“Ini saya masih memegang bukiti copy dari surat pernyataan pemilik bangunan ini, sangat jelas bertanda tangan dibawah manterai Rp 6000, pada bulan April 2020 lalu,” terangnya.

Pada dasarnya menurut Muslim, warga tidak ada yang melarang maupun keberatan terhadap pembangunan rumah itu, dengan catatan pemilik bangunan tidak menggunakan penumbukan paku bumi.

BACA JUGA:   Wilmar Dituding Ingkar Janji

“Kami warga sangat senang dengan adanya pembangunan rumah lagi, tapi kalau dengan cara yang memberikan dampak merugikan warga sekitar, pastinya kami keberatan. Kami memberikan waktu 3×24 jam, kalau alat berat paku bumi itu tidak keluar, maka kami akan melakukan aksi protes lagi,” tandasnya.

Sementara itu, menanggapi apa yang dikeluhkan warga, Camat MB Ketapang, Sutimin, menengahi dengan meminta menghentikan sementara pengerjaan pada pihak pelaksana proyek pembangunan rumah tersebut.

“Sementara saya meminta mereka hentikan dulu pekerjaannya, dan menuntaskan permasalahan ini. Masalah ini akan kita tindak lanjuti dengan kembali melakukan mediasi, kemungkinan bisa langsung dari pihak Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kotim,” pungkas Sutimin.

Hingga warga membubarkan diri, pemilik bangunan rumah tidak muncul, dan dari pengawas di lapangan juga belum bisa memberikan jawaban mereka. (Cha/beritasampit.co.id).