Kominfo: Negara Butuh Digitalisasi Televisi

Henri Subiakto (tengah) dalam diskusi forum legislasi di Media Center Parlemen Senayan Jakarta, Selasa, (11/8/2020). Foto: beritasampit.co.id/Adista Pattisahusiwa

JAKARTA— Staf ahli bidang hukum Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemkominfo RI) Henri Subiakto mengatakan bahwa negara sangat membutuhkan digitalisasi televisi analog ke digital atau (analog switch off/ASO).

Henri Subiakto mengatakan hal itu dalam diskusi forum legislasi di Media Center Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa, (11/8/2020).

Dialog bertajuk “RUU Penyiaran, Bagaimana Masa Depan Digitalisasi Penyiaran di Indonesia” itu dihadiri Anggota Komisi I DPR RI fraksi PPP Syaifullah Tamliha dan Komisioner KPI Pusat, Hardly Stefano.

Namun, kata Henri proses digitalisasi televisi yang telah masuk dalam inisiatif Rancangan Undang-undang Cipta Kerja Sektor Penyiaran tersebut hingga kini mandek di DPR RI.

BACA JUGA:   Korupsi dan Dilema Penegakkan Hukum

Padahal, menurut Henri, proses digitalisasi televisi merupakan salah satu dari perkembangan teknologi komunikasi lewat efisiensi frekuensi. Itu juga menjadi sangat bermanfaat dari penggunaan televisi digital.

“Walaupun penyiaran itu udah mulai Sunset bisnis. Tapi negara masih sangat butuh dengan frekuensi yang dipake dari teman-teman KPI,” ujarnya.

Henri berujar ASO penting karena berpengaruh terhadap kecepatan internet di Indonesia. Namun, proses RUU Cipta Kerja Sektor Penyiaran tersebut yang masih mandek di DPR itu malah justru semakin membuat kecepatan internet tambah lemot.

BACA JUGA:   Daftar Wilayah di Seruyan yang Belum Diizinkan Melakukan Pembelajaran Tatap Muka

“Ibarat jalan tol. Yang namanya internet itu udah sangat penuh, semakin penuhnya lalu lemot. Di beberapa tempat lemot, karena over capacity. Maka harus dibuatkan tol yang baru supaya lebih longgar,” tandasnya.

Henri bilang digitalisasi penyiaran adalah kebijakan untuk kepentingan masyarakat. Tapi tampaknya ada sebagian pihak yang tak mau agar proses digitalisasi televisi tersebut direalisasikan.

“Maka harus disingkirkan demi rakyat. Demi masyarakat orang banyak. Singkirkan dengan teknologi yang lebih bagus yakni televisi digital  Saya gregetan juga, saya mau pensiun digitalisasi Tv belom selesai,” pungkas Henri Subiakto.

(dis/beritasampit.co.id)