Kapan Corona Berakhir? Ini Jawaban Anis Matta

JAKARTA— Kepala Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, berharap pandemi virus corona akan berakhir dalam waktu kurang dari dua tahun.

Menanggapi pernyataan WHO tersebut, Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Muhammad Anis Matta menilai kemungkinan ada krisis pangan dalam dua tahun ke depan.

Pasalnya, kata Anis, sebagian besar dari musibah-musibah yang saat ini dihadapi faktornya adalah perubahan iklim, terlepas perdebatan perubahan iklim teori konspirasi atau tidak.

“Faktanya, jumlah bencana alam lebih banyak, banjir lebih banyak, tsunami lebih sering, kekeringan, kebakaran hutan dan seterusnya. Misalnya  terjadi kebakaran  luar biasa di Australia kemarin. Artinya jumlah ini lebih banyak dan mendisrupsi secara ekonomi, sosial, dan secara politik,” ucap Anis, Sabtu, (22/8/2020).

BACA JUGA:   BPJS Kesehatan Cabang Sampit Bahas Isu Terkini Pogram JKN-KIS

Anis berujar konflik geopolitik, terutama konflik Amerika-China tersebut sangat memiliki dampak multidimensi. Istilahnya perang supremacy yang menyebabkan kematian lain.

“Sampai kapan berakhirnya kita tidak tahu. Tapi mereka berperang menggunakan semua sarana, perang dagang, teknologi, hingga budaya,” ujarnya.

Anis mengatakan faktor teknologi saat ini semua dipaksa berhijrah ke sistem digital, dan hal itu telah dilakukan Partai Gelora dengan sukses menyelenggarakan ‘Gelora Digifest 2020’ dan ‘Gelora Kemerdekaan 2020’, serta event-event lainnya beberapa waktu lalu.

Namun, soal hijrah ke sistem digital ini ternyata banyak instansi pemerintahan yang tidak siap dengan digitalisasi, karena tidak didukung dengan infrastruktur yang memadai.

“Ketika kita hijrah ke situ korbannya berapa banyak. Jadi keempat faktor ini adalah faktor disrupsi, yang sekarang ini terjadi sekaligus. Krisis ini bersifat sistemik, multidimensi, dan berlarut, lama waktunya,” kata Anis Matta.

BACA JUGA:   Terbesar di Indonesia, SMSI Diminta Sehatkan Demokrasi Lawan Hoax

Anis Matta juga yang dikenal sebagai pakar geopolitik internasional ini mengatakan, dalam satu analisa sistem global, dikatakan setiap 80 hingga 100 tahun ada perubahan dalam sistem global, sementara saat ini sistem tersebut usianya sudah mencapai 75 tahun.

“Misalnya abad ke-16 itu abadnya Portugis, abad ke-17 yang dominan Belanda, Abad ke-18 dan ke-19 itu yang dominan Inggris, abad ke-20 itu Amerika. Sekarang dominasi ini akan bertahan atau tidak, kita tidak tahu. Pandemi akan mempercepat perubahan tersebut,” pungka Anis Matta.

(dis/beritampit.co.id)