Bikin Haru, Begini Perjuangan 3 Pemuda Desa Menjadi Prajurit TNI

Muhammad Al-Kahfi (Kiri) bersama Muhammad Fuadi Hakim (Tengah) dan Reza Adiansyah (Kanan)

PALANGKA RAYA – Menjadi seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) memanglah impian banyak orang terutama pemuda saat ini. Untuk mencapai hal itu bukanlah perkara yang mudah. Ketatnya persaingan dan tes masuk yang tidak sembarangan untuk mendapatkan calon prajurit terbaik, menjadikannya sebagai salah satu profesi yang diidamkan banyak orang.

Terkadang kesulitan itu bukan hanya terdapat pada tes dan seleksinya saja, latar belakang si calon prajurit pun juga bisa menjadi hambatan lain lagi. Seperti keadaan ekonomi yang kurang mampu atau bahkan tempat tinggal yang jauh dari kota tempat seleksi dilakukan.

Inilah yang sedang dilalui oleh Muhammad Al-Kahfi, pemuda kelahiran Pagatan, 06 Oktober 2001 ini merupakan pejuang tangguh yang bertekad untuk menjadi prajurit TNI sejati. Menjadi TNI merupakan cita-citanya sejak kecil. Menjaga keutuhan NKRI dan membantu masyarakat menjadi motivasinya untuk terus berjuang menggapai cita-cita tersebut.

“Saya sudah bertekad dan bekerja keras untuk mewujudkan mimpi menjad seorang prajurit TNI. Semua untuk mengabadikan diri kepada negeri,” ujar Kahfi.

Dalam perjalanan menggapai cita-cita itu tidaklah mudah. Ia menjelaskan jika dirinya harus menyusuri sungai disebabkan hanya jalur tersebutlah yang menghubungkan desanya ke pusat kota. Perjalanan yang ditempuh pun tidaklah sebentar, perlu 6 jam perjalanan untuk dapat sampai ke pusat kota Sampit. Tidak sampai disitu ia harus berangkat lagi menggunakan Travel untuk dapat sampai ke kota Palangka Raya ibu kota Kalimantan Tengah, disitulah tempat ia mengikuti seleksi tes calon prajurit TNI pada Selasa, 1 September 2020 kemarin.

BACA JUGA:   Cegah Penyalahgunaan Narkoba, KIPAN Kalteng Sukseskan Kolaborasi Kemenpora dan BNN RI

Sama halnya yang dialami oleh pemuda asal pegatan Muhammad Fuaidi Hakim (18), walaupun orang tua hanya berprofesi sebagai pedagang tidak menyurutkannya untuk tetap berjuang meraih impian menjadi prajurit loreng hijau coklat tersebut. Karena menurutnya dengan menjadi TNI akan membuat orang tua bangga dan mengangkat derajat orang tua dan keluarganya.

“Saya selalu bekerja keras dan latihan. Tak lupa minta do’a dan restu dari kedua orang tua, semoga jalan hidup ini dipermudah karena usaha dan ridho mereka semua,” ucap Fuadi.

Perjalanan menuju tempat tes TNI pun tidak mudah. Butuh waktu 10 jam perjalanan untuk sampai ke kota Palangka Raya dan itu dilalui dengan gigih demi menggapai cita-citanya. Walaupun orang tua hanya seorang pedagang tidak menyurutkan anak muda no ini untuk tetap menjadi abdi negara. Karena hal ini yang menjadi motivasinya untuk tetap meraih mimpi setinggi-tingginya agar mampu memperbaiki kehidupan keluarganya.

Sama ceritanya dengan 2 pemuda asal pegatan tadi, pemuda satu ini juga berasal dari pegatan, sebut saja Reza Adiansyah (20) namanya. Anak dari seorang nelayan ini juga berkeinginan menjadi seorang Prajurit TNI, meskipun orang tua hanya bekerja sebagai nelayan ia tetap bertekad meraih cita-citanya sejak kecil.

BACA JUGA:   Dengan Semangat Isen Mulang, Gubernur Kalteng Berangkatkan Atlet Untuk Ikuti PON Papua

“Tak mengapa orang berkata apa tentang kita. Tapi saya selalu berusaha keras untuk membuktikan jika kita bisa dan Tuhan selalu mendengar do’a hambanya,” lanjut Reza.

Namun kisah perjuangan 3 pemuda asal Desa Pegatan, Kecamatan Katingan Kuala, Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) ini tak berjalan mulus. Tangisan air mata keluar dari 3 pemuda tangguh ini.

Diketahui mereka gagal mengikuti tes seleksi saat penerimaan calon prajurit TNI tersebut. Usaha yang keras dan sungguh-sungguh itu ternyata tak berhasil menaklukkan hati panitia seleksi.

“Saya tidak lolos seleksi karena alasam tidak membawa KTP asli orang tua dan rapot asli dari kelas 1 sampai 3. Untuk tes lainnya saya lolos. Tapi tak mengapa, walau harus pulang dengan tangis air mata, yang pasti saya telah berjuang,” ucap Fuadi.

Berbeda dengan Fuadi, Kahfi punya cerita lain. “Kalau saya tidak lolos karena ada varises katanya. Tapi saya tak menyerah, walau tangis air mata mengalir deras, tapi ini perjuangan saya,” lanjut Kahfi.

Akan tetapi, mereka yakin jika di balik kegagalan ini akan hadir kemenangan lain yang lebih besar bagi mereka dan keluarga serta bangsa dan negara tercinta. (Aris/beritasampit.co.id)