Tingkat Kesulitan Rehab Jembatan di Daerah Terisolir Cukup Tinggi

SAMPIT – Kegiatan Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) di daerah terisolir yaitu Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah bukanlah persoalan yang mudah, apalagi sasaran fisiknya adalah rehab tiga buah jembatan yang cukup panjang.

Melihat dari kondisi geografisnya, wilayah Kecamatan Pulau Hanaut hanya dapat ditempuh melalui jalur sungai. Itu artinya distribusi logistik untuk rehab jembatan pasti lebih sulit. Apalagi lokasi rehab masing-masing jembatan terpencar cukup jauh, logistik atau material harus dibawa dengan perahu kecil menyusuri sungai yang sempit dan bahkan berbuaya. Sebab, daerah perairan Kecamatan Pulau Hanaut merupakan habitat buaya muara Sungai Mentaya yang terkenal ganas.

BACA JUGA:   Dandim 1015/Spt Berterima Kasih Kepada Masyarakat Pulau Hanaut

Kesulitan-kesulitan tersebut belum ditambah dengan kondisi cuaca yang sering tidak bersahabat. Hujan lebat dan angin kencang merupakan tantangan yang harus dihadapi.  Sehingga untuk menyelesaikan sasaran fisik rehab tiga jembatan ini memang memerlukan kondisi fisik yang prima.

Komandan Kodim 1015 Sampit Letkol Czi Akhmad Safari SH mengungkapkan, pihaknya memang sudah memperhitungkan berbagai kendala dan kesulitan yang akan dihadapi dalam pelaksanaan program TMMD di Kecamatan Pulau Hanaut ini.

BACA JUGA:   Sosialisasi Protokol Kesehatan Juga Digalakkan Satgas TMMD

“Makanya kami membuat perencanaan yang matang, agar kegiatan TMMD Reguler ke-109 di Kecamatan Pulau Hanaut ini bisa berjalan lancar dan sesuai rencana,” jelasnya, Senin 5 Oktober 2020.

Dia juga menyampaikan, bahwa suksesnya kegiatan TMMD ini juga tidak lepas dari dukungan masyarakat yang sangat antusias bergotong royong dengan TNI. (Rls/beritasampit.co.id).