Makna dan Keberuntungan Nomor Satu

Ilustrasi. Foto: SINDOnews

Oleh: Dr. H. Joni,SH.MH**

​BERDASARKAN pengundian pilkada Kotim yang puncaknya diselenggarakan akhir tahun ini, empat pasangan sudah diundi, dan nomor urut 1 yakni H Halikinnor-Irawati, beruntung memperoleh nomor pertama.

Pengundian yang berlangsung akrab dan kekeluargaan ini tercatat sebagai awal yang kemudian mengharuskan keseluruhan pasangan berkampanye, meyakinkan pemilih bahwa pasangannya adalah yang terbaik.

Satu hal yang kiranya relevan dikampanyekan atau sebagai bahan pengingat bagi pemilih adalah ketajaman dalam menganalisis nomer satu. Artinya tak hanya bertumpu pada program yang ditawarkan sat kampanye, kedudukan dan perolehan nomor satu menjadi penguat yang bisa dianalisis berdasarkan pespektif yang lebih luas.

Tataran Keagamaan

​Dalam bahasa agama, nomer yang diperoleh para peserta Pilkada ini adalah takdir. Takdir dari proses yang jika dibahasakan sejatinya mengandung satu ketetapan dari Allah Subhanahu Wata’ala. Pasti semua muslim mengenal dengan baik, dan menjadikan sebagai baaaan dalam salat yaitu surah Al-Ikhlas.

Surah yang menyatakan ke-Esaan Allah, yang di awal surah, menyatakan bahwa Allah itu satu, dan diakhir hayat menyatakan Allah yang Maha Satu itu, tidak ada yang bisa menyamai. Allah tunghgal, dalam semua sisi yang bisa dipahami manusia. Pada perspektif ini, surah Al-Ikhlas memberikan pemahaman bahwa Allah itu satu. Satu itu adalah Allah. Satu itu mutlak milik Allah. Dapat dikatakan Satu itu Allah, dan Allah itu Satu.

Pada perspektif ini, angka satu adalah angka yang memiliki keistimewaan. Keistimewaannya adalah berapapun angka dibagi dengan angka satu, hasilnya akan tetap kembali ke angka yang akan dibagi tersebut. Sebagai contoh, lima dibagi satu tetap lima. Enam dibagi satu tetap enam. Intinya bagaimanapun dan berapapun angka yang akan dikali oleh angka satu, pasti akan menghasilkan angka yang akan dikali tersebut.

Dalam perpektif ini, ada keunikan di atas adalah bahwa di dalam makhluk ciptaan Allah, ada zat Allah pada makhluk tersebut. Allah Yang Satu ada di setiap makhluk ciptaannya.

Dapatkan kita rumuskan, Makhluk Ciptaan Allah dibagi atau dikali angka satu = Makhluk ciptaan Allah. Allah tak terlihat ketika membagi dan mengali makhlukNya, oleh sebab itulah Makhluk ciptaannya saja yang tampak. Memang filosofis, tetapi sedemikian khas pemahaman mengenai angka satu dalam prspektif keagamaan ini, yang menjadikannya sebagai satu fenomena yang unik dan khas.

Lebih jauh, dphahami dalam ilmu hakekat manusia, bahwasanya dalam diri manusia, terdapat zat Allah. Kemampuannya untuk berjalan, berlari, berpikir dan apa saja yang ada pada manusia karena adanya zat Allah di dalam dirinya.

BACA JUGA:   Pererat Silaturahmi, Satgas TMMD Makan Bersama Masyarakat

Namun karena zat Allah itu satu, yang jika dibagi / dikali kepada manusia hasilnya tetap manusia itu sendiri. Manusia tak menyadari dan memahami ada zat Allah di dirinya. Ada peran serta Allah dalam kehidupannya. Akhirnya, timbul kesombongan pada manusia bahwa ia bisa ini dan bisa itu merupakan kemampuan dari dirinya sendiri.

Sehubungan dengan hal diatas, bahwa baik setelah pembagian ( / ) dan perkalian ( x ), dan ujungnya adalah pada aspek yang sifatnya penambahan (+), maka ujungnya menunjukkan bahwa satu itu adalah utama. Tanpa bermaksud untuk berpihak, kita dapat membuka Alquran pada surah Al Mujadilaah ayat 7, yang artinya: tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya.

Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada.

Dari arti yang ada pada surat Almujadilah tersebut dapat dimaknai bahwapada hakekatnya apapun di seluruh dunia ini dapat dihitung. Ada jumlah pastinya. Sesuatu yang kita anggap tak terhingga, ternyata ada jumlah pastinya.

Jumlah apapun, jumlah berapapun, dalam bentuk yang bagaimanapun, senantiasa dimulai dengan nomor satu, dan nomer satu senantiasa mengandung keistimewaan. Keistimewaan yang sekali lagi dalam perspektif keagamaan merupakan takdir Illahy.

Mengandung Kerumitan dan Keberuntungan

Sebagai bentuk konket, kendatipun manusia tak kuasa menghitung, apalagi dengan kelkadar angka, maka jumlah bintang di langit ada jumlah pastinya. Juga beberapa tetes air yang ada di bumi ini ada jumlah pastinya.

Jumlah manusia yang hidup sekarang di dunia ada jumlah pastinya. Semua makhluk Allah ada jumlah pastinya. Hanya Allah yang Tahu. Allah akan menambah dengan zatnya Yang Satu kepada berapapun benda-benda yang di langit maupun di bumi. Alam semesta yang sangat dan maha luas ini, jumlahnya jug pasti, dan terhubung dengan yang satu, yaitu Allah yang Esa.

Dalam hal pengurangan, maka pengurangan ini pada pespektif yang logis adalah merupakan satu kepastian, bahwa seluruh makhluk ciptaan Allah, baik di dunia maupun di langit memiliki kekurangan dan kelemahan. Karena Allah akan mengurangi menjadi sebuah kelemahan semua makhluk ciptaannya. Di sini ada satu, yang tidak mengalami atau mengandung kekurangan yaituAllah yang Esa. Satu, tunggal dan tak dapat dibagi.

BACA JUGA:   Para Pelajar Antusias Ikuti LKJ TMMD Reguler ke-109

Maknanya bahwa artinya Allah tetap satu, tetap Maha Mulia dan tetap Maha Hebat. Meskipun semua manusia di dunia berbuat baik, berbuat positif dan mentaati Allah. Ketaataan semua manusia tidak menambah sedikit keMahaEsaan Allah dan keMuliaan Allah. Eksistensi Allah tetap satu, tetap Maha Mulia dan tetap Maha Hebat.

Meskipun semua manusia di dunia berbuat jahat, berbuat negatif dan mengingkari Allah. Kemaksiatan semua manusia tidak menambah sedikit keMahaEsaan Allah dan keMuliaan Allah. Allah tetap satu, tidak terbagi. Tidak ada sekutu bagiNya.

Oleh karena deskripsi kegamanaan begitu kompleks Ketika mendeskripsikan angka 1 (satu) maka dasar dari angka satu iktu hakekatnya adalah yang utama dan mengandungkeberuntungan. Ini bukan khayal dan bukan pula ilmu yang bersifat otak atik.

Tetapi eksistensinya memang seperti itu, bahwa angka satu mengandung keberuntungan yang secara kualitas mencerminkan keutamaan dan secara kualitas bersifat tunggal. Tak ada persamaan yang dijadikan dasar sebagai pembanding.

Angka 1 merupakan faktorial, pangkat dua, pangkat tiga (dan seterusnya), dan angka itu sendiri (karena 1 × 1 × … × 1 = 1). Angka 1 juga merupakan angka figurasi yang pertama untuk setiap jenisnya (baik itu angka segitiga, angka segilima, angka segienam beraturan, maupun yang lainnya). Oleh karena identitas perkalian yang dimilikinya, maka jika f(x) adalah sebuah fungsi perkalian, maka f(1) pasti hasilnya 1.

Angka 1 juga merupakan angka pertama dan kedua dalam deretan Fibonacci, dan merupakan angka pertama dalam banyak deretan-deretan yang lain di dalam matematika. Sementara itu pada sisi lain, angka 1 merupakan perkalian kosong.

Sementara bukan berarti pesimis, Angka 1 adalah bilangan bulat positif ganjil terkecil, yang justru di sini mengandung kesatuan dan oleh karena itu secara positif mengandung keberuntungan.

Angka 1 merupakan salah satu angka pembagi harmonis. Harmonisasi yang dijadikan sebagai dasar interaksi dan komunikasi yang berwujud dalam satu kesatuan yang tunggal.

Angka 1 sering kali juga dijadikan sebagai dasar untuk mewakili pernyataan ‘benar’ yang mereduksi ketunggalan yang mengeleminisasi kesalahan, sebagai bentuk anti kebenaran.

Oleh karena itu, beruntunglah yang di dalam undian memperoleh nomor satu, setidaknya mengandung harapan jumlah suara yang diraih nantinya juga nomer satu, atau memperoleh suara terbanyak. Amin.***