Selamat Hari Guru, Ini Cerita Guru SLB Mengajar di Tengah Pandemi

Hardi/BERITA SAMPIT - Guru di SLBN 1 Palangka Raya Apriyati Y Rampay

PALANGKA RAYA – Semangat dan kegigihan para guru yang tak kenal lelah mengajarkan dan membimbing patut dicontoh dalam kehidupan, seperti diketahui setiap tanggal 25 November diperingati sebagai hari Guru Nasional. Guru merupakan pahlawan bagi siswanya yang tidak pernah lelah memberikan ilmunya.

Seperti cerita seorang Apriyati Y Rampay guru kelas 10 Tuna Rungu di SLBN 1 Palangka Raya saat menceritakan pengalamanya mengajar diacara yang digagas Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Kalteng dalam acara inovasi literasi yang berkerja sama dengan Euroweek Indonesia.

Mengajar para anak didik yang mengalami keterbatasan dan kondisi fisiknya, anak-anak berkebutuhan khusus di Sekolah Luar Biasa (SLB) tetap semangat. Sejumlah siswa dan siswi SLB tiap harinya nampak bergembira di sekolah dan menjadi penyemangat para guru.

“Dalam mengajar Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) itu caranya berbeda-beda, karena karakteristik anak itu berbeda-beda, sehingga dalam mengajar itu kita harus mengenal siswa kita dari karakternya, dan kemampuannya. Sehingga sebelum mengajar itu kita selalu melakukan assessment pada saat awal tahun pembelajaran,” cerita Apriyati.

BACA JUGA:   Tim Gugus Covid-19 Kembali Lakukan Penyemprotan Disinfektan Ke Sejumlah Tempat

Ia juga menjelaskan ketika penerimaan siswa baru, ada siswa lama daftar ulang jadi dilakukan assessment oleh tim khusus yang sudah dibentuk di SLBN 1 Palangka Raya yang mempunyai keahlian dibidang itu untuk masuk kekelas mana. “Sehingga untuk selanjutnya guru kelasnya yang akan melakukan assessment untuk mengatur kursi siswa tersebut,” kata Guru di SLBN 1 Palangka Raya Apriyati Y Rampay.

Apriyati mengatakan dalam melakukan assessment pihakya memperhatikan kognitif (Pengetahuan) calon peserta didik seperti keterampilan dan fisiknya. Sehingga dasar dari assessment itu merupakan bekal untuk mengajarkan kepada siswa tersebut.

“Untuk kelas yang saya ajar itu siswanya ada enam orang, kalau pun lebih dari 10 maka kelas itu akan dibagi dua. Karena di SLBN 1 Palangka Raya itu kebanyakan Tunagrahita atau iq dibawah rata-rata, karena setiap siswa itu memiliki karakternya masing-masing sehingga apabila di kelas itu siswanya lebih dari delapan maka akan kesulitan dalam proses mengajarnya,” ucapnya.

BACA JUGA:   Donasi Lintas Komunitas Untuk Korban Banjir di Kalsel Akhirnya Sampai

Selain itu terkait pembelajaran dimasa pandemi Apriyati menjelaskan pihaknya lebih menekankan kearah keterampilan, dan program khusus untuk anak berkebutuhan khusus. Untuk kendala mengajar pada saat pandemi ini ialah menyampaikan materi praktek, seperti contoh menjahit.

Di tengah pandemi ini siswa tidak diperbolehkan pergi kesekolah, sehingga kegiatan pembelajaran seperti praktek akan susah dijelaskan secara langsung melalui daring.

“Susah memahami materi praktek kalau hanya melalui video dan daring, apalagi mereka yang berkebutuhan khusus tentu mereka akan lebih sulit memahami materi tersebut, apalagi materi tersebut berkaitan dengan keterampilan, sehingga pembelajaran tidak tuntas. Selain itu siswa juga terkendala masalah jaringan, dan kouta internet di tempat mereka, karena yang bersekolah Di SLBN 1 Palangka Raya itu kebanyakan dari daerah lain yang tidak mempunyai SLB,” lanjutnya.

(Hardi/Beritasampit.co.id)