Bamsoet: Kita Butuh Pokok-pokok Haluan Negara Sambut Indonesia Emas Tahun 2045

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo dan Muhadjir Effendy dalam diskusi Empat Pilar MPR RI di Media Center Parlemen Senayan Jakarta, Rabu, (2/12/2020). Foto: beritasampit.co.id/ Adista Pattisahusiwa

JAKARTA— Ketua MPR Bambang Soesatyo mengatakan Indonesia memerlukan pokok-pokok haluan negara untuk memberikan arah pembanguan bangsa ke depan hingga memasuki 100 tahun Indonesia merdeka pada 2045 mendatang.

“Kami di DPR selalu berupaya kuat, agar kita memiliki pokok pokok haluan negara setidak tidaknya hingga tahun 2045,” kata Bamsoet saat diskusi empat pilar MPR RI di Media Center Parlemen Senayan, Rabu, (2/12/2020).

Dialog dengan tema ‘Mengoptimalkan SDM di Tengah Pandemi Covid-19’ itu dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia Muhadjir Effendy.

Politisi Golkar itu bilang penting Indonesia memiliki Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN). Sebab dalam pembangunan Indonesia sudah tidak ada kesinambungan lagi sejak GBHN diserahkan ke presiden untuk menyusun visi misinya.

BACA JUGA:   Regional Comprehensive Economic Partnership Harus Mampu Dongkrak Perekonomian Indonesia

“Masih ada pilpres 5 kali lagi, sehingga ini kita kunci dengan pokok-pokok haluan negara. Singapura yang kecil aja udah punya haluan negara sampai dengan 100 tahun, sementara kita belum,” imbuh Bamsoet.

Bamsoet sangat menginginkan pembangunan Indonesia seperti Turki yang hanya tinggal 15 persen, negara tersebut hanya memikirkan perumahan, apartemen bagi usia produktif rakyatnya.

“Nah, kita harus punya target. Orang Indonesia pada tahun 2045 itu sudah ada 8 persen rakyat kita memiliki kecukupan papan (rumah). Itulah yang harus dilakukan negara,” tandas Bamsoet.

BACA JUGA:   Soal Deklarasi Papua Merdeka, Hidayat: Pemerintah Harus Selamatkan NKRI

Mantan Ketua DPR RI itu juga bilang tahun 2045 merupakan jendela demografi yakni fase di mana jumlah penduduk yang tidak produktif di bawah 14 tahun atau di atas 65 tahun.

Pada tahun itu sekitar 70 persen penduduk Indonesia berada pada usia produktif. Hanya 30 persen saja yang tidak produktif.

“Agar bonus demografi tidak menjadi bumerang atau musibah, mestinya ada pokok haluan negara. Karena kita juga ingin bonus demografi menjadi berkah bagi kita. Nah, Jika pembangunan tidak terarah, maka bonus demografi akan menjadi petaka bagi kita semua,” pungkas Bambang Soesatyo.

(dis/beritasampit.co.id)