Kasus Pembunuhan Nur Fitri Terus Bergulir, Begini Pengakuan Para Saksi

AMBIL SUMPAH :IM/BERITASAMPIT - Saksi yang di hadirkan kuasa hukum Binge Join Tjin alias Acin saat diambil sumpah sebelum memberikan kesaksian di hadapan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sampit.

SAMPIT – Sidang praperadilan atas kasus pembunuhan Nur Fitri hingga kini masih terus bergulir di Pengadilan Neger Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dimana keterangan saksi dari pemohon yakni Binge Join Tjin alias Acin telah didengarkan.

Bahkan untuk pembuktian lebih mendalam tidak tanggung-tanggung kuasa hukum Acin membawa istri Acin yakni Winda Wijaya turut dihadirkan dalam sidang, meski pihak termohon dalam hal ini kuasa hukum Polres Kotim menyatakan keberatan. Sehingga saksi tidak di ambil sumpah, namun Winda tetap memberikan keterangan.

Dari kesaksian Winda pada hari Kamis 8 Oktober 2020 saat suaminya ditangkap. Dirinya dan anak-anak sedang tidak dirumah karena pergi ke Sebabi sekitar pukul 13.00 Wib lalu pulang sekitar pukul 18.00 WIB.

“Saat sudah di rumah suami saya tidak di rumah. Saya telpon tidak ada jawaban, saya chat tidak dibalas. Saya dan anak-anak serta teman saya mencarinya ke kantor, bahkan keliling Sampit namun suami saya tidak ditemukan,” pengakuan Winda didepan hakim yang diketuai Doni Prianto, Rabu 30 Desember 2020

Lebih jelas disampaikan istri Acin, mereka ke Sebabi untuk mencari ikan asin untuk dijual oleh Supriadi, dan sewaktu mereka berangkat Acin masih di rumah memasak nasi dan pentol.

“Waktu kami pulang semua masakan masih utuh dan belum dimakan. Jam 3 subuh suami saya menelpon dan hanya bilang saya di Polres langsung dimatikan. Saat itu kami semua tidak tidur, lalu jam 09.00 Wib pagi kami langsung ke Polres menemui suami saya,” jelasnya.

Saat itu diutrakan Winda bahwa suaminya Acin mengatakan dia bingung kenapa dijadikan tersangka, dan dia mengaku dipaksa untuk mengakui telah membunuh almarhum Nur Fitri. Di sana ia menerima surat penahanan, dan tidak mau ia tanda tangani.

Pagi itu juga ia membawakan nasi untuk suaminya. Dan baru dua suap langsung disuruh cepat-cepat untuk melakukan rekontruksi. “Saya tidak diperbolehkan ikut proses rekonstruksi nya,” ungkap Winda.

BACA JUGA:   TPS 01 Belakang Golden Paslon Rudini-Samsudin "Bercahaya" Menang Telak

Tambah istri ACin pada Tanggal 10 Oktober 2020 pihaknya kembali ke Polres Kotim dan Acin sudah dimasukkan ke sel. Dirinya mengaku mengetahui bahwa 2017 Acin diperiksa hanya sebagai saksi.

“Selama tiga tahun itu suami saya tidak pernah meninggalkan Sampit sejak dijadikan sebagai saksi kematian almarhum Nur Fitri, dan saat dipanggil polisi selalu hadir,” tambahnya.

Saksi lain yang dihadirkan kuasa hukum Acin, Hermanto selaku Ketua RT di tempat Acin tinggal turut memberikan keterangan. Dirinya mengaku tidak mendapatkan laporan adanya penangkapan Acin dari pihak kepolisian.

“Saya tahu Acin sekarang ada di penjara dengan dugaan kasus pembunuhan, tapi saya tidak tahu kapan Acin ditangkap. Saya menjadi Ketua RT sudah hampir 5 tahun, dan sudah kenal lama dengan Acin,” sebutnya.

Dirinya juga mengaku tidak pernah diberi tahu saat penangkapan Acin. Dimana saat itu ia sedang di luar rumah, dan saat pulang tidak ada yang memberi tahu polisi ada datang untuk pemberitahuan penangkapan Acin.

“Saya tahu Acin ditangkap setelah beberapa hari ada warga saya yang memberi tahu. Jarak rumah saya dengan Acin kurang lebih 30 meter, saya kerja diluar dari jam 07.00 Wib pagi sampai jam 19.00 Wib malam. Ada jam istirahatnya pada pukul 12.00 sampai pukul 13.00 Wib,” tambahnya.

Ditambahkan juga oleh Audy Sepang juga menyebutkan, yang mana saat itu dirinya mengaku melihat Acin bersama beberapa orang saat dirinya hendak ke rumah Acin.

“Sekitar sore hari, saat saya mau masuk gang saya melihat Acin dibawa orang-orang yang tidak saya kenal dan saya langsung balik. Kemudian saya tahu Acin ditangkap setelah sekitar 5 harian,” ungkapnya.

BACA JUGA:   Polres Kotim Terima Tanah Hibah 3 Hektare untuk Bangun Kantor Baru

Tidak hanya itu, Supriadi yang saat itu ada di rumah Acin juga ikut memberikan kesaksian. Dimana menurutnya pada tanggal tersebut dirinya mau pulang ke Kalbar. Lalu mencari ikan asin untuk dibawa pulang.

“Saya menghubungi anak pak Acin menanyakan dimana mencari ikan asin. Lalu katanya ada di Sebabi, kemudian saya ke rumah pak Acin untuk menjemput. Jadi semua berangkat satu keluarga 6 orang, kecuali pak Acin saja yang tinggal,” ujarnya.

Saat pulang menurutnya di rumah sudah tidak ada Acin, dan yang lain juga mencari. Keluarga Acin bersama dirinya mencari ke kantor kerja Acin hingga keliling Sampit. Namun tidak ditemukan.

“Saya ada dirumah pak Acin sampai jam 01.00 malam. Dan pak Acin masih belum ada di rumah, yang lain juga tidak tahu pak Acin ada dimana. Saya tahu ditangkap setelah keesokan harinya,” sebutnya.

Waktu itu lanjutnya, istri Acin ke Polres untuk melaporkan kehilangan Acin dan disuruh menunggu sampai 1 kali 24 jam.

Setelah jam 3 subuh baru ada jawaban, Acin menghubungi istrinya mengatakan ada di Polres.

Saksi Dinda Fitriani yang waktu itu juga berada di rumah Acin mengatakan, dirinya saat itu sedang main ke rumah Acin lantaran berteman dengan istrinya.

“Saya kenal dengan istri pak Acin, dan waktu itu memang ada Supriadi yang datang. Waktu itu kami berangkat sama-sama ke Sebabi. Setelah pulang pak Acin sudah tidak ada, dan ternyata pak Acin ditangkap,” ujarnya.

Setelah besoknya, menurutnya mereka sama-sama ke Polres menemui Acin. Dan dirinya menunggu diluar, sedangkan istri Acin bersama anak-anaknya masuk ke dalam.

“Saya melihat istri Acin ditunjukkan surat oleh kepolisian. Tapi saya tidak tahu surat apa itu,” demikiannya.

(im/beritasampit.co.id).