Jadikan Tahun Baru 2021 Sebagai Momentum Kebangkitan Kehidupan Berbangsa

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat. (dok pribadi)

JAKARTA– Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat (Rerie) mengingatkan bahwa momen pergantian tahun 2021 tidak dirayakan dengan acara yang berpotensi mengumpulkan banyak orang atau kerumunan.

Lestari justru berharap momen pergantian tahun baru 2021 dijadikan refleksi terhadap apa yang telah terjadi sepanjang 2020.

“Hampir sepanjang 2020 kita dihantam badai pandemi. Bukan hanya berdampak pada satu aspek seperti kesehatan, tapi juga pada sektor ekonomi, seperti perlambatan ekonomi, pemutusan hubungan kerja, aspek pendidikan, dan sebagainya,” ujar Lestari, Kamis (31/12/2020).

Pada sisi kesehatan, mengutip data Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 per 31/12, Indonesia saat ini mencatat terjadinya 743.198 kasus positif Covid-19 sepanjang 2020 dengan catatan 22.138 orang meninggal dunia dan
611.097 orang sembuh.

Data www.worldometers.info menyebutkan catatan 21.944 orang meninggal akibat terpapar Covid-19 pada 30 Desember 2020 di Indonesia itu menempati peringkat 17 dunia.

“Dari catatan itu, dalam semangat pergantian ke tahun 2021, saya berharap masyarakat semakin mampu menerapkan norma-norma baru agar bisa beradaptasi di masa pandemi ini,” kata Rerie.

Bagi seluruh pemangku kepentingan, Rerie menyambung, masa pandemi yang hampir setahun kita alami harus menjadi pengalaman untuk diambil satu pelajaran.

BACA JUGA:   Peduli Sesama, Kagama Kalteng Galang Donasi Untuk Korban Bencana di Kalsel dan Sulbar

Menurut Rerie, perbaikan tata kelola penanganan pengendalian Covid-19 yang belum menunjukkan arah dan strategi yang jelas dan terintegrasi antarlembaga pemerintah, harus segera dilakukan.

“Jadikan momen pergantian tahun 2021 ini sebagai batu lompatan untuk bisa bersama bangkit untuk kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik,” ujarnya.

Rerie yakin, dengan penguatan pemahaman warga negara terhadap nilai-nilai kebangsaan yang kita miliki antara lain seperti persatuan dan kesatuan, kebhinnekaan, gotong-royong dan toleransi, bisa menjawab tantangan di masa depan.

Di sisi lain, upaya membangkitkan sektor ekonomi juga tidak kalah penting. Selama 2020, berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) pertumbuhan ekonomi terkikis dari 4,97% pada kuartal IV 2019 menjadi minus 3,49% pada kuartal III 2020.

Sejumlah usaha gulung tikar yang mengakibatkan badai PHK. Bahkan, BPS mencatat 29,12 juta penduduk usia kerja di Indonesia terdampak pandemi sepanjang 2020 dalam bentuk PHK, pengurangan jam kerja dan tidak terserap di dunia kerja.

BACA JUGA:   Jelang HPN 2021, Ketua PWI Pusat : Pers Harus Tetap Hidup Meski Ditengah Pandemi

“Ke depan, upaya membangkitkan ekonomi lewat sejumlah program insentif dan semangat gotong-royong yang dilakukan masyarakat harus dilanjutkan. Libatkan semakin banyak stakeholder pada bidang ekonomi untuk bisa segera keluar dari resesi,” ujar Rerie.

Rerie mengatakan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, ujarnya, juga harus dilakukan untuk mengatasi masalah di sektor pendidikan dan masalah sosial lain.

“Pandemi berpotensi menciptakan masalah sosial lain bila kita tidak bisa mengendalikan penyebarannya. Upaya mengatasi kendala di sejumlah sektor itu tidak bisa lepas dari keberhasilan pengendalian penyebaran Covid-19 di Tanah Air,” tegas anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu.

Disiplin menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan memakai sabun, merupakan upaya efektif dalam mencegah penyebaran virus korona.

Meski begitu, Rerie bilang upaya pengendalian penyebaran Covid-19 tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tanpa dukungan penuh masyarakat.

“Melihat tren penambahan kasus positif Covid-19 yang terus meningkat, penerapan disiplin protokol kesehatan harus menjadi norma keseharian kita. Strategi dan langkah konkret, tegasnya, harus segera dilakukan bersama,” pungkas Lestari Moerdijat.

(dis/beritasampit.co.id)