Tiga Hari Terjadi Dua Kali Serangan Buaya di Sampit

ILHAM/BERITA SAMPIT - Komandan Pos Jaga BKSDA Sampil Kalimantan Tengah, Muriansyah, bersama Kepala Desa Pelangsian, Ismail, petugas Polsek Ketapang dan ketua RT setempat, saat memeriksa lokasi serangan buaya di belakang rumah Bahriah, di dekat pelabuhan pasar pelangsian, Sabtu 02 Januari 2021 kemarin.

SAMPIT – Hanya dalam kurun waktu 3 hari, telah terjadi serangan buaya didua Kecamatan yakni Kecamatan Seranau dan Mentawa Baru Ketapang, yang berada diwilayah dalam Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Kalimantan Tengah.

Serangan pertama terjadi di Desa Ganepo Kecamatan Seranau, yang mana korbannya Aditya (11) seorang anak yang sedang berenang pada pukul 09.00 Wib pagi, Rabu 30 Desember 2020.

Beruntung nyawa anak ini selamat, setelah ditolong kedua saudaranya yang memukul serta menebas buaya tersebut menggunakan kayu dan parang. Akibat gigitan itu, Aditya mengalami luka dibagian pinggang dan kaki.

Hanya berselang tiga hari, serangan hewan berdarah dingin tersebut kembali terjadi, kali ini Bahriah (74) seorang nenek warga Desa Pelangsian Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, pada jumat 01 Januari 2021, sekira pukul 23.30 Wib malam.

Akibat serangan buaya tersebut, Bahriah mengalami luka yang cukup parah dengan kehilangan lengan kiri, dan kaki kiri patah terjepit tangga saat berupaya bertahan dari tarikan buaya yang ingin menyeretnya kedalam sungai.

BACA JUGA:   Gudang Penyimpanan Vaksin Dijaga Petugas Gabungan Dan Diawasi Cctv

Bahriah berhasil diselamatkan oleh iparnya Jumbri (70) dan anaknya Bahrun (40), yang pada saat itu terkulai lemas diatas air sambil berpegangan ditangga belakang rumahnya.

“Dari pengakuan Bahriah, buayanya besar hitam dan panjang,” kata Jumbri.

Sementara itu, Pos Jaga Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Sampit, Kalimantan Tengah, telah menerima dua laporan tersebut, dan langsung menindaklanjutinya.

Untuk dilokasi di Desa Ganepo, petugas BKSDA telah memasang perangkap buaya tersebut. Sedang di Desa Pelangsian, masih dalam proses pembuatan perangkap dan dalam waktu dekat ini juga akan dipasang.

“Kita sudah mencek lokasi serangan di Desa Pelangsian, memang untuk memasang jenis perangkap cukup sulit dilokasinya, karena banyak kayu-kayu bekas tebangan, kalau kita taruh kemungkinan bisa merusak perangkap. Kita mungkin akan menggunakan perangkap jenis pacing. Dan ini kami meminta kerjasama warga sekitar memantaunya, sebab jika terkena pancing harus cepat di tangkap, karena kalau terlalu lama kemungkinan besar bisa mengakibatkan buaya itu mati,” jelas Komandan Pos Jaga BKSDA Sampit Kalteng, Muriansyah, Minggu 03 Januari 2021.

BACA JUGA:   BUM Desa Aktif di Kotim Hanya 60 Persen, Arahkan Kerja Sama Pihak Ketiga

Sehubungan dengan munculnya buaya yang telah memasuki kawasan pemukiman penduduk, terutama di wilayah pinggiran sungai di Kota Sampit.

Permasalahan ini harus menjadi perhatian serius oleh Pemerintah Daerah, sebab munculnya buaya ke pemukiman warga diduga akibat habitatnya terganggu dan mulai rusak.

“Untuk Pemerintah Daerah, marilah kita bersama-sama menghadapi dan memecahkan persoalan ini. Kejadian ini merupakan akibat dan dampak, dari kerusakan alam dan rusaknya ekosistem yang kita alami saat ini,” pungkasnya.

(Cha/beritasampit.co.id)