Laut China Selatan Memanas, Wakil Ketua MPR Minta Pemerintah Kedepankan Pendekatan Diplomasi

Wakil Ketua MPR RI Syarief Hasan. (dok pribadi).

JAKARTA– Salah satu isu perbatasan yang tidak memiliki dasar hukum namun selalu menjadi perhatian adalah isu Laut China Selatan.

Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi Demokrat, Syarief Hasan mendorong Pemerintah untuk tetap siap siaga di Perairan Natuna Utara. Pasalnya, Laut China Selatan yang bersentuhan dengan Laut Natuna Utara kian hari kian memanas lewat perseteruan China dan Amerika Serikat.

“Jadi pemerintah harus memberikan perhatian khusus terhadap Natuna Utara,” tutur Syarief, Kamis, (7/01/2021).

Syarief mengatakan militer di Natuna Utara secara khusus dan Indonesia secara umum harus ditingkatkan untuk mempertahankan wilayah Indonesia jika sewaktu-waktu terjadi perang terbuka.

“Jika terjadi perang terbuka di Laut Cina Selatan maka seluruh negara Asia Tenggara termasuk Indonesia akan merasakan dampaknya. Sehingga, Pemerintah Indonesia harus memberikan perhatian khusus dalam membangun kekuatan militer untuk meminimalisir bahkan mencegah dampak apabila terjadi perang terbuka,” imbuh Syarief.

BACA JUGA:   Bertemu Dubes Maroko, Bamsoet Harap Kerjasama Ekonomi Terus Ditingkatkan

Anggota Komisi I DPR RI yang membidangi Pertahanan ini menyebutkan, perseteruan ini tidak boleh dianggap remeh. China yang membuat klaim sepihak terhadap Laut China Selatan berdasarkan nine dash line menyebabkan Amerika Serikat juga turut ikut campur.

“Kondisi ini akan berpotensi menjadi perang terbuka dua negara besar di Perairan Cina Selatan,” kata dia.

Potensi itu memang semakin terlihat ketika pesawat perang terbesar Cina Y-20 dikabarkan mendarat di pulau buatan bernama Fiery Cross Reff. Apalagi, China yang sejak awal mengklaim Laut China Selatan tengah membangun pulau buatan yang menjadi pangkalan militer.

Sebelumnya, Amerika Serikat juga telah mengirim dua kapal induknya, USS Nimitz dan USS Ronald Reagan ke Laut Cina Selatan untuk menjalani latihan tempur pada 23 juli yang lalu. Tak cuma dua kapal induk, Angkatan Laut Amerika Serikat juga mengerahkan dua kapal penjelajah dan dua kapal perusak dalam latihan tersebut.

BACA JUGA:   Ajang IGA, Pemkab Kobar Meraih Penghargaan Kabupaten Sangat Inovatif

Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat, Syarief Hasan juga mengungkapkan, Indonesia juga harus membangun kekuatan militer untuk memberikan rasa aman, daya gertak, dan menguatkan pertahanan Indonesia terutama di perbatasan.

Meski demikian, Syarief Hasan berharap Indonesia harus mengedepankan diplomasi untuk menghindari potensi perang yang mungkin saja terjadi, terutama di Laut China Selatan yang berbatasan dengan Perairan Natuna Utara.

“Pemerintah mengedepankan pendekatan diplomasi, sebagaimana yang pernah ditunjukkan pada Pemerintahan SBY yang membangun diplomasi dengan semangat million friends and zero enemy. Akan tetapi, jika memang terpaksa ada perang terbuka, maka Indonesia juga harus memperkuat militernya untuk menjaga keamanan nasional dan melindungi wilayah Indonesia,” pungkas Syarief Hasan.

(dis/beritasampit.co.id)