Ahli Epidemiologi Ajak Masyarakat Untuk Ikut Divaksinasi

Ahli Epidemiologi Indonesia, Dr. dr. Hariadi Wibisono.

JAKARTA – Pemerintah Indonesia telah melaksanakan program vaksinasi tahap pertama, dengan Presiden Joko Widodo, sebagai orang pertama di Indonesia yang mendapat suntikan vaksin Sinovac pada pukul 09.42 WIB di Istana Negara, Jakarta Pusat,

Menyusul Presiden Joko Widodo, sejumlah pejabat negara dan tokoh masyarakat juga turut serta menerima vaksin pada hari ini, diantaranya Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr. Daeng M. Faqih, Panglima TNI Hadi Tjahjanto, Kapolri Idham Azis, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amirsyah Tambunan, dan Rais Syuriah PBNU KH Ahmad Ishomuddin.

Menurut Ketua Umum Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia, Dr. dr. Hariadi Wibisono, proses vaksinasi perdana yang disiarkan secara langsung tersebut merupakan cara yang baik untuk meyakinkan masyarakat akan keamanan vaksin yang digunakan.

“Ini adalah suatu momen yang sangat penting untuk meyakinkan masyarakat bahwa pemerintah tidak akan memberikan sesuatu yang bernilai mudharat ke masyarakat. Dengan menerima vaksin Covid-19 lebih dulu, para pemimpin kita ini telah memberikan contoh yang baik agar masyarakat tidak perlu lagi takut dan ragu untuk divaksinasi,” ungkap Dr. dr. Hariadi, melalui rilis yang diterima, Jumat 15 Januari 2020.

Sebelumnya Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) telah menjamin keamanan vaksin Covid-19 produksi Sinovac yang digunakan di tahap pertama program vaksinasi di Indonesia, dengan mengeluarkan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA).

BACA JUGA:   Ketua MPR Dorong Mahkamah Agung Maksimalkan Penerapan e-Court dan e-Litigation

BPOM juga telah mengumumkan hasil efikasi berdasarkan uji klinik fase 3 di Indonesia yang mencapai 65,3%. Angka efikasi ini lebih tinggi dari ketentuan WHO yang menetapkan syarat minimal efikasi vaksin COVID-19 sebesar 50%.

Dr. dr. Hariadi melanjutkan, bahwa isu efikasi erat kaitannya dengan seroconversion. “Seroconversion itu adalah seberapa jauh tubuh kita mampu bereaksi terhadap vaksin. Seroconversion bukan ditentukan oleh kualitas vaksin, tapi oleh kondisi tubuh seseorang. Ada orang-orang yang tubuhnya tidak mampu membentuk antibodi, sehingga sebagus apapun vaksin yang diberikan tidak akan berpengaruh terhadap tubuh mereka,” kata Hariadi.

Ia menambahkan, bahwa faktor kualitas rantai dingin (cold chain), yaitu sejak vaksin tersebut keluar dari pabrik hingga saat akan disuntikkan, juga akan menentukan baik tidaknya kualitas vaksin. Pengawasan rantai dingin yang baik juga akan mempengaruhi kualitas vaksin.

Vaksin Covid-19 dari Sinovac yang digunakan saat ini dibuat dengan metode inactivated virus. Indonesia telah memiliki pengalaman berpuluh tahun dalam membuat dan mengelola vaksin dengan model seperti itu. Dari sisi produksi, Hariadi yakin produsen sudah siap dan berpengalaman. Sedangkan dari sisi distribusi, infrastruktur kita juga sudah siap karena suhu penyimpanan vaksin harus dijaga di 2-8 derajat Celsius.

BACA JUGA:   Terima Panitia Kejurnas Sprint Rally 2021, Bamsoet Dukung Penggunaan Sirkuit Badak Tanjung Lesung

“Puskesmas dan dinas kesehatan provinsi kita sudah punya yang namanya rantai dingin itu tadi, yaitu lemari es, freezer dan alat lainnya yang mampu menjaga suhu di 2-8 derajat Celsius sehingga tidak perlu investasi tambahan,” jelasnya.

Sebagai upaya bersama membebaskan masyarakat Indonesia dari pandemi, Hariadi menekankan bahwa program vaksinasi bertahap ini membutuhkan partisipasi semua pihak, termasuk tenaga kesehatan yang menjadi kelompok pertama yang akan divaksinasi.

“Saya mengajak seluruh masyarakat, terutama para tenaga kesehatan, untuk ikut divaksinasi. Karena vaksinasi ini tidak hanya melindungi diri kita, tapi juga keluarga dan lingkungan, serta masyarakat luas. Percayalah bahwa pemerintah pasti sudah memilih yang terbaik untuk kita. Jangan sampai kita menjadi sumber penularan virus Covid-19, tapi jadilah pemutus rantai penularan tersebut,” pesan Hariadi.

Diakhir perbincangan, dia berpesan agar masyarakat tetap menjaga 3M yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. “Penyelesaian masalah pandemi ini tidak hanya dengan vaksin saja, namun tetap harus didukung dengan penerapan protokol kesehatan. Vaksin tidak menggantikan protokol kesehatan, tapi berjalan bersama,” tutupnya. (Rls/Man/beritasampit.co.id).