Abrasi Pantai di Desa Keraya Kumai Ancam Rumah Warga, Solusinya Maukah Warga Dipindahkan?

Penulis: Maman Wiharja

Oleh : Maman Wiharja (Wartawan beritasampit.co.id).

ABRASI pantai akibat gelombang pasang sudah sejak lama menjadi momok keresahan warga Desa Keraya, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalteng, pasalnya setiap musim gelombang besar sejumlah rumah di tempat pemukiman pinggir pantai rusak akibat abrasi pantai.

Pengamatan penulis, setelah rusak seperti biasa sejak dulu Bupati dan Wakil Bupati Kobar meninjau lokasi sejumlah rumah warga di pinggir pantai yang rusak akibat abrasi, karena sering diterjang gelombang pasang.

Saat Bupati dan Wakil Bupati Kobar sampai di lokasi, seperti yang telah penulis ikuti, tampak sejumlah relawan dari beberapa kalangan sedang giat melaksanakan pekerjaan, ada yang sedang masukan pasir ke karung untuk menahan abrasi ada pula yang sedang memancangkan tiang kayu, juga sama untuk menahan gelombang pasang jangan sampai abrasi.

Setelah Bupati dan Wakil Bupati selesai berkunjung, kemudian pulang bersama rombongannya ke Pangkalan Bun. Dilaksanakan kegiatan menumpukan pasir dalam karung, atau memasang Drum serta Ban Bekas maupun menanamkan kayu-kayu untuk menahan abrasi selesai.

Tapi, beberapa hari atau minggu dan bulan kemudian, datang lagi gelombang laut besar menerjang pantai dan kembali terjadi lagi abrasi yang mengakibatkan sejumlah rumah warga yang berdiri di pinggir pantai rusak parah.

BACA JUGA:   Orangutan yang Belum Dilepasliarkan, Perlu Divaksinasi Covid-19?

Pengamatan penulis karena saat ini banyak warga yang punya HP, maka tak ayal lagi pemandangan rumah yang rusak parah karena abrasi akibat diterjang gelombang, langsung direkam oleh warga, kemudian di share, di FB dan diviralkan lagi oleh sejumlah nitizen. Akhirnya, momen hanya beberapa rumah yang rusak akibat abrasi tersebut menjadi ‘heboh’, seperti satu kampung kena abrasi.

Setelah heboh, seperti biasa lagi Bupati atau Wakil Bupati berkunjung ke lokasi rumah yang rusak akibat abrasi, seperti yang telah menjadi langganan abrasi yakni di Desa Keraya. Dari tahun ketahun, ya begitu, bibir pantai diperbaiki, direnovasi, dibangunkan pelindung pantai, tapi tetap saja ada abrasi.

Melihat fenomena alam di pinggir pantai, sebut saja pantai Desa Keraya yang setiap sekian bulan atau tahun, sering terjadi abrasi maka solusinya pengamatan penulis, sejumlah rumah warga harus dipindahkan ke tempat yang jauh dengan pantai. Karena sekarang di Desa Keraya tidak sampai puluhan rumah yang kena abrasi, paling-paling 7 rumah.

Memang benar, untuk memindahkan sejumlah rumah warga agar terlindungi dari ancaman abrasi tidak semudah membalikan telapak tangan. Perlu pengorbanan dari kedua belah pihak yakni warga dan pemerintah.

BACA JUGA:   Huma Betang, Kearifan Lokal Kalteng untuk Mencegah Terorisme

Dari Pemerintah, pengorbanannya bangunkan mereka rumah baru masukan dalam program ‘bedah rumah’ atau program lainnya di Dinas Perumahan. Masalah tanahnya, tidak akan sulit di Desa Keraya mencari tanah Desa/Pemerintah masih luas melimpah. Entah, kalau sekarang diam-diam tanah Desa/Pemerintah ganti fungsi jadi tanah milik swasta?.

Kemudian pengorbanan yang terakhir, dari warganya itu sendiri harus menyadari bahwa membangun rumah pinggir pantai banyak risikonya bakal terancam abrasi pantai yang landai saat gelombang besar datang.

Apa lagi sekarang seiring dengan dunia sudah ‘tua renta’, yang namanya manusia kalau sudah tua renta sering pikun. Sama juga dengan alam dunia ini, karena sudah tua renta cuaca alam pun ikut pula ‘pikun’, alias saat ini cuaca alam sulit untuk diprediksi.

Jadi idealnya, pengamatan penulis kalau hanya beberapa rumah di pinggir pantai di Desa Keraya warganya mau dipindahkan maka tidak bakalan lagi terjadi musibah rumah-rumah warga yang rusak akibat abrasi.

Namun tentunya, setelah rumah warga dipindahkan ke lokasi lain, Pemerintah Desa Keraya harus memperbaiki pinggiran pantai yang abrasi, dengan sejumlah ikon/patung misal patung ikan yang terkenal di mata nelayan Desa Keraya. Semoga. (***).