BPS : Palangka Raya dan Sampit Kembali Alami Inflasi

IST/BERITA SAMPIT - Kepala BPS Kalteng Eko Marsoro saat menyampaikan rilis di Kantor BPS Kalteng

PALANGKA RAYA – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng Eko Marsoro menjelaskan selama Januari 2021, di Palangka Raya terjadi inflasi sebesar 0,09 persen atau mengalami peningkatan indeks harga dari 105,13 (Desember 2020) menjadi 105,22 (Januari 2021).

Terjadinya inflasi bulanan dan inflasi tahun kalender (0,09 persen) terutama dipengaruhi oleh peningkatan indeks harga pada peningkatan indeks harga pada kelompok pakaian dan alas kaki (0,85 persen), kelompok makanan, minuman, dan tembakau (0,76 persen), serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya (0,39 persen).

“Sementara besarnya laju inflasi tahun ke tahun (0,85 persen) merupakan dampak dari peningkatan indeks harga pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya (7,68 persen), kelompok penyedia makanan dan minuman/restoran (1,64 persen), serta kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya (1,64 persen),” kata Kepala BPS Kalteng Eko Marsoro.

Eko menambahkan sebagaimana yang terjadi di Palangka Raya, Sampit pun mengalami inflasi sebesar 0,09 persen selama Januari 2021 atau mengalami peningkatan indeks harga dari 105,50 (Desember 2020) menjadi 105,60 (Januari 2021).

Terjadinya inflasi dipengaruhi oleh peningkatan indeks harga kelompok penyedia makanan dan minuman/restoran (0,34 persen), kelompok makanan, minuman, dan tembakau (0,33 persen), serta kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga (0,32 persen).

“Sementara besarnya laju inflasi tahun ke tahun (1,44 persen) disebabkan oleh kenaikan indeks harga dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya (7,72 persen), kelompok makanan, minuman, dan tembakau (2,05 persen), serta kelompok transportasi (1,94 persen),” ucapnya.

Ia menambahkan indeks harga konsumen di level pedagang eceran di Provinsi Kalimantan Tengah, dikompilasi berdasarkan gabungan dua kota rujukan yakni Palangka Raya dan Sampit. Selama Januari 2021, terjadi inflasi sebesar 0,09 persen atau terjadi kenaikan indeks harga dari 105,21 (Desember 2020) menjadi 105,30 (Januari 2021).

Kelompok pengeluaran yang mendominasi pengaruh inflasi ini adalah peningkatan indeks harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau (0,57 persen), serta kelompok pakaian dan alas kaki (0,57 persen).

Laju inflasi tahun ke tahun (1,06 persen) secara umum dipicu oleh kenaikan indeks harga kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya (7,70 persen), kelompok penyedia makanan dan minuman/restoran (1,50 persen), serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau (1,39 persen).

BACA JUGA:   Menganggur?, Ikuti Program Ini Bisa Dapat Uang

Lebih lanjut dirinya menjelaskan selama Januari 2021, komponen energi relatif tidak berpengaruh secara signifikan terhadap sebagian besar perubahan tingkat harga kebutuhan bahan pokok, baik di Palangka Raya maupun di Sampit.

Hal ini terlihat dari rendahnya indeks harga komponen energi di Palangka Raya (96,31) dan Sampit (97,76). Sementara itu, komponen bahan makanan mendominasi andil terhadap inflasi, baik di Palangka Raya (0,85 persen) maupun Sampit (0,36 persen). Komponen energi relatif mengalami deflasi di kedua kota selama Januari 2021.

“Berbeda ditunjukkan oleh komponen bahan makanan yang tetap mengalami inflasi baik di Kota Palangka Raya maupun Kota Sampit. Jasa angkutan udara yang mempunyai andil terbesar memicu inflasi pada Desember 2020, baik di Palangka Raya maupun Sampit, mengalami perubahan terbalik pada Januari 2021 sebagai komoditas yang memberikan andil reduktif terbesar.

Ikan gabus juga menjadi instrumen reduktif terhadap kenaikan indeks harga secara umum di kedua kota. Sementara terdapat kesamaan beberapa komoditas yang menjadi pemicu inflasi baik di Palangka Raya maupun Sampit, yaitu cabai rawit, cabai merah, rokok kretek filter dan tomat.

Dari 12 kota pantauan IHK di wilayah Kalimantan, 7 kota mengalami inflasi dan 5 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Tanjung Selor sebesar 0,49 persen, yang diikuti oleh Kotabaru (0,25 persen) dan Samarinda (0,24 persen).

Sementara deflasi tertinggi berada di Tarakan yakni sebesar 0,85 persen. Indeks harga konsumen cukup tinggi terjadi di Sintang yang mencapai 111,78, diikuti oleh Kotabaru (107,68) dan Tanjung (106,81).

Sementara indeks harga konsumen di wilayah Kalimantan Tengah berada di level moderat, sebagaimana terlihat di Palangka Raya (105,22) dan Sampit (105,60). Tanjung Selor masih menjadi kota yang memiliki indeks harga terendah di wilayah Kalimantan yaitu sebesar 102,97.

Ia juga menjelaskan Nilai Tukar Petani (NTP) gabungan dari lima subsektor pertanian di Kalimantan Tengah selama Januari 2021 mencapai 109,43, atau lebih rendah 1,41 poin dibandingkan nilai tukar usaha rumah tangga pertanian (NTUP) di periode yang sama yang sebesar 110,84.

BACA JUGA:   Raker ASDEKSI, Ini Kata Walikota Palangka Raya

Selisih antara NTP dan NTUP, mencerminkan tingkat reduksi terhadap nilai tukar, sebagai dampak dari naiknya tingkat harga kebutuhan konsumsi rumah tangga petani produsen, termasuk peternak dan nelayan.

“Dibanding Bulan Desember 2020, terjadi peningkatan NTP sebesar 1,33 persen. Peningkatan ini akibat kenaikan indeks harga yang diterima petani (1,46 persen) yang lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan indeks harga yang dibayar petani (0,14 persen),” kata Kepala BPS Kalteng Eko Marsoro.

Meningkatnya NTP secara keseluruhan juga dipengaruhi oleh meningkatnya nilai tukar pada semua subsektor, yakni subsektor hortikultura (2,19 persen), tanaman perkebunan rakyat (1,54 persen), tanaman pangan (1,03 persen), perikanan (0,73 persen) dan peternakan (0,55 persen).

“Selama Januari 2021, terjadi peningkatan indeks harga yang diterima petani maupun indeks harga yang dibayar petani. Indeks harga yang diterima petani mencapai 117,28, lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang dibayar petani yang sebesar 107,18. Selama periode tersebut, indeks harga yang diterima petani mengalami peningkatan sebesar 1,46 persen dan indeks harga yang dibayar petani juga mengalami peningkatan sebesar 0,14 persen,” ucapnya.

Peningkatan indeks harga yang diterima petani dipengaruhi oleh kenaikan indeks harga yang diterima pada semua subsektor, yaitu hortikultura (2,35 persen), tanaman perkebunan rakyat (1,70 persen), tanaman pangan (1,15 persen), perikanan (0,87 persen) dan peternakan (0,58 persen).

“Sementara itu, peningkatan indeks harga yang dibayar petani juga terjadi pada semua subsektor, yakni hortikultura (0,16 persen), tanaman perkebunan rakyat (0,16 persen), perikanan (0,14 persen), tanaman pangan (0,13 persen) dan peternakan (0,03 persen),” pungkasnya.

Dari kelima subsektor, nilai tukar tertinggi selama Januari 2021 berasal dari tanaman perkebunan rakyat (115,98), diikuti oleh peternakan (105,83), perikanan (101,98), tanaman pangan (100,17) dan hortikultura (99,55). Perkembangan nilai tukar dan indeks harga seluruh subsektor,

(Hardi/Beritasampit.co.id)