Jatuh Bangun Pengusaha Keripik Singkong Saat Pandemi Covid-19

IST/BERITA SAMPIT - Proses pembuatan keripik singkong Sintesa Chips, di tempat produksinya di Jalan Jati ujung RT. 06 RW. 08 Kelurahan Panarung, Kecamatan Pahandut, Kota Palangka Raya.

PALANGKA RAYA – Agus Rifa’i merupakan seorang pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang bergerak di bidang kuliner yaitu keripik singkong. Nama usaha yang digunakan oleh Agus Rifa’i ialah Athlas Sintesa, yang berproduksi di Jalan Jati ujung RT. 06 RW. 08 Kelurahan Panarung, Kecamatan Pahandut, Kota Palangka Raya.

Agus mulai memproduksi keripik sejak bulan November 2019, namun Bulan Maret sampai Juni sempat stop produksi karena ada pandemi dan mulai aktif lagi pada Bulan Juli 2020.

“Kripik singkong yang saya bikin ini memiliki rasa jeruk purut, yang dimana rasa tersebut memiliki dua varian rasa asin dan pedas,” kata Agus kepada media siber beritasampit.co.id melalui sambungan telepon, Jumat 19 Februari 2021.

Dalam memproduksi keripik singkong kendala yang pertama dia alami ialah alat produksi, karena masih manual, sehingga proses produksi membutuhkan waktu yang cukup lama dan hasil produksinya masih terbatas. Untuk bahan baku, awalnya dibeli di pedagang singkong yang berlokasi di pasar besar. Karena sekarang sudah rutin produksi sehingga Agus ada langganan dari petani singkong.

BACA JUGA:   Gubernur Kalteng : Pelayanan Kesehatan Harus Merata

“Saat ini rata-rata produksi kita sekitar 20 kg singkong mentah per hari, namun terkadang bisa sampai 40 kg singkong per hari, tergantung permintaan dari konsumen. Sebelum masa pandemi rata-rata produksi kita 30 kg perhari, dengan penjualan 80 bungkus perhari. untuk saat setelah pandemi ini rata-rata produksi kita 20 kg perhari dengan penjualan 50 bungkus perhari,” ucapnya.

Agus menjelaskan, bahwa dirinya mendistribusikan kripik singkongnya ke agen-agen toko sembako, rumah makan, dan minimarket, serta toko oleh-oleh. Dia sudah bekerja sama dengan 50 outlet di Kota Palangka Raya dan satu outlet di Kota Samarinda.

Sebenarnya pad bulan Januari kemarin Agus sudah bekerja sama dengan toko oleh-oleh di Banjarbaru dan Martapura, namun pengiriman dipending atau terkendala musibah banjir di Kalsel.

“Kondisi pandemi ini sangat berpengaruh terhadap usaha kita, bahkan kita sempat stop produksi selama 4 bulan (Maret-Juni). Sehingga selama itu tidak ada proses jual beli. Sebelum pandemi, omzet saya 14 juta perbulan, dan setelah pandemi jadi 9 juta perbulan,” jelas Agus.

BACA JUGA:   Disdik Palangka Raya Belum Laksanakan PTM 100 Persen

Harga kripik singkong ini, Sintesa Chips yang kemasan alumunium voil, dengan full colour harga Rp. 15.000 perbungkus dengan berat 80 gr dan untuk Keripik Jeruk Purut yang kemasan plastik biasa harganya Rp. 10.000 perbungkus dengan berat 100 gr. Saat ini Agus memiliki dua pegawai produksi yang membantunya dalam mengolah kripik singkong.

“Inspirasi membuat kripik singkong ini bermula dari beberapa usaha saya sebelumnya gagal, dulu saya sempat buka usaha, warung makan nasi kuning, dan toko sembako. Selain itu saya juga melihat peluang kalau bisa produksi keripik sendiri tanpa harus menyewa tempat kita bisa berjualan dengan sistem konsinyasi, yang punya toko mendapat untung dari hasil jualan keripik, saya mendapat untung tidak menyewa tempat serta ditambah untung penjualan,” jelasnya.

Sementara itu, alasan dia membeli langsung ke petani singkong, adalah untuk membantu usaha dari petani singkong itu sendiri. (Hardi/beritasampit.co.id).