Porang, Tanaman Umbi-umbian Bernilai Ekonomi Tinggi

UMBI PORANG - JUN/BERITA SAMPIT - Ketua DPD Aspeporin Kotim, Boyadiyanto, saat memperkenalkan tanaman Porang Di Kotim Fair, beberapa waktu lalu.

SAMPIT – Porang atau yang juga dikenal dengan nama iles-iles, adalah tanaman umbi-umbian dari spesies Amorphophallus muelleri. Pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari ialah sebagai bahan baku tepung, kosmetik dan penjernih air. Selain itu, juga sebagai bahan baku lem dan jeli, yang beberapa tahun terakhir ini diekspor ke beberapa negara seperti Cina, Jepang, Vietnam dan beberapa negara Asean bahkan Australia serta negara lainnya dengan nilai ekspor cukup tinggi.

Di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) tanaman Porang mungkin masih baru dan asing bagi warga. Namun ada belasan petani di Kotim yang mengembangkan tanaman ini dan hasilnya sangat menggembirakan.

Seperti yang dituturkan, Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Asuhan Pemberdayaan Porang Indonesia (Aspeporin) Kotim, Boyadiyanto, bahwa Porang dapat tumbuh pada jenis tanah apa saja di ketinggian 0 sampai 700 mdpl.

Bahkan sifat tanaman ini dapat memungkinkan dibudidayakan di lahan hutan dibawah naungan tegakan tanaman lain. Sedangkan untuk bibit yang biasa digunakan adalah dari potongan umbi batang maupun umbinya yang telah memiliki titik tumbuh atau umbi katak (bubil) yang ditanam secara langsung. “Dengan lahan yang masih sangat luas di Kotim, tanaman Porang sangat mungkin untuk dibudidayakan,” katanya.

BACA JUGA:   Fraksi PDI-P Kotim Berikan Catatan Terkait Tiga Ranperda

Pria yang membawahi puluhan petani Porang di Sampit ini bermaksud untuk memperkenalkan porang kepada masyarakat, sebab komoditas ini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, karena harganya yang cukup menjanjikan.

“Tanaman porang sangat bermanfaat, dan harganya cukup mahal. Namun, sebagian masyarakat belum familiar dengan jenis tanaman ini. Untuk itu kami dari Aspeporin Kotim ingin berbagi informasi serta memperkenalkan tanaman porang ini,” bebernya.

Diungkapkan Boya, bahwa tanaman porang memiliki nilai strategis untuk dikembangkan. Selain mempunyai peluang yang cukup besar untuk diekspor, umbi porang juga dapat dikonsumsi dan dijadikan produk pangan olahan yang saat ini sedang dikembangkan oleh kelompok petani yang bernaung dalam Aspeporin Kotim.

BACA JUGA:   PTM Terbatas Diperbolehkan, Praktisi Pendidikan Berikan Apresiasi

Diterangkan, bahwa Harga porang basah saat ini berkisar Rp.4.000/ kilogram (kg). Berbeda halnya setelah menjadi chip porang yang siap ekspor harganya bisa mencapai Rp.14 ribu/kg. Jika dalam satu hektar lahan, petani bisa menghasilkan delapan puluh ton porang basah, petani bisa meminimalisir risiko dalam pemasaran karena penerimaan yang akan diperolehnya mencapai ratusan juta rupiah. Hal ini menandakan produk olahan porang memiliki nilai jual lebih tinggi.

“Kami mengundang masyarakat, khususnya para pemuda, ayo bertanam Porang. Kami siap jika diminta untuk menjadi motivator dalam pengembangan porang di Kotim.

Sebab di Sampit baru ada beberapa pembudidaya ditambah di wilayah lainnya jumlahnya belasan petani. Semoga dengan adanya komoditas porang, pendapatan dan kesejahteraan masyarakat Kotim dapat ditingkatkan,” harapnya. (jun/beritasampit.co.id).