Bagian 5, Selesai : Lebih Dekat dengan Birute Mary Galdikas, 50 Tahun Melindungi Hutan dan Orangutan

Ilustrasi : Maman Wiharja.

Ditulis Oleh: Maman Wiharja ( Wartawan – Beritasampit.co.id).

Selama 50 tahun Prof Dr Birute Mary Galdikas, melindungi hutan dan orangutan memang bukan waktu singkat, setelah 25 tahun (1971-1996 ) Birute berhasil mewujudkan sebuah Klinik orangutan yang diberi nama ‘Orangutan Carre Centernd Quarantine (OCCQ) di Desa Pasir Panjang Kecamatan Arut Selatan Kabupaten Kobar-Kalteng.

Pada tanggal 26 Februari 1997 Program OCCQ telah ditandatangani nota kesepakatan (MoU) antara Orangutan Foundatioan International (OFI) dan Direktur Jenderal (Dirjen) PHK Departemen Kehutanan RI, kemudian tahun 1997 OCCQ mulai diaktifkan, sebagai sarana khusus perawatan orangutan.

Sampai sekarang, disekitar OCCQ yang hutannya masih original luas sekitar 80 hektar yang terdiri dari 40 persen hutan rawa dan hutan dataran yang bepasir masih memiliki vegetasi asli Kalimantan.

Pada tahun 2007 melalui Intruksi Surat Bupati Kobar H Ujang Iskandar, Nomor 126/III/2007. Hutan seluas 80 hektar telah ditetapkan sebagai Hutan Lindung dalam Kota, yang pada akhirnya dengan dicanangkannya Hutan Lindung Dalam Kota maka Kabupaten Kobar 2007 meraih Piala Adipura.

Untuk diketahui barangkali para pembaca ingin berkunjung ke Klinik Orangutan tersebut, mudah sekali yakni dari Bandara Iskandar Pangkalan Bun bisa ditempuh menggunakan taxi sekitar 10 menit. Dan dari Pelabuhan Panglima Utar Kumai, bisa ditempuh dengan taxi sekitar 30 menit.

Setelah OCCQ dinyatakan telah beroprasi di Desa Pasir Panjang, maka ribuan turis mancanegara dan domestic telah banyak yang berkunjung ke OCCQ . Bahkan, pernah mendapat kunjungan kehormatan dari mantan Presiden Amerika Bill Clinton, berwisata ke OCCQ pada 20 Juli 2014.

BACA JUGA:   Dandim Pangkalan Bun Beri Bingkisan ke Insan Pers

Menyusul pada hari Jumat pagi tanggal 5 Desember 2014 sekitar Pukul 08.00 WIB OCCQ dapat kunjungan dari Ibu Negara RI, yakni Ibu Iriana Joko Widodo, didamping dua anaknya Kaesang Pangarep dan Kahiyang Ayu, yang disambut Hj Walyati mewakili Birute Mary Galdikas.

Perlu diketahui, bahwa ribuan orangutan yang kini lestari berada dihabitatnya di hutan Taman Nasional Tanjung Puting (TNT), ternyata oleh Birute semuanya diberi nama dan tercatat pada buku agenda OFI.

Pengamatan penulis nama-nama orangutan kalau ditulis semuanya karena ribuan terlalu panjang. Penulis memberikan contoh saat meliput kegiatan Menhut RI Zulkifli Hasan, 21 Juni 2013, didamping Birute, Bupati Kobar H Ujang Iskandar, melepas liarkan 10 orangutan di Hutan TNTP Sub Seruyan.

Sebagai berikut nama-nama orangutan lengkap dengan umurnya : 1. Sandar (5,5), 2. Dayak (7). 3. Linda (14,5). 4. Widury (14). 5. Osbome (12). 6. Claire (13). 7. Karan (12). 8. Ruby (12), 9. Topan (12) dan 10. Kuntet (10,5).

Dalam perjalanannya selama 50 tahun, Birute juga sering disibukan dengan sejumlah pengalaman yang menyedihkan, seperti beberapa orangutan yang mati mengenaskan akibat kasus pemburuan orangutan oleh sejumlah oknum manusia dan oknum perusahaan yang tidak bertangtgung jawab. Dan kasus tersebut akhirnya berhasil ditangani pihak Kepolisian.

Birute selain melestarikan kehidupan orangutan juga melindungi lingkungan hutan, sebagai rumahnya orangutan dengan melaksanakan konservasi hutan dan alam, sesuai dengan tugas pokok dan fungsi yang telah diatur oleh Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA).

BACA JUGA:   PT Putra Mentaya Maju, Buka Budidaya Tanaman Jagung di Sukamara

Tujuannya melaksanakan konservasi hutan dan alam, untuk merumuskan dan melaksanakan kebijakan, dibidang perlindungan hutan, penanggulangan kebakaran di kawasan hutan, untuk menjaga dan merawat keanekaragaman hayati serta alam, sehingga bisa dijadikan manfaat untuk jasa lingkungan .

Adapun perlindungan hutan, tujuannya meliputi pengamanan hutan dan tumbuhan serta seluruh satwanya. Agar fungsi lindung, fungsi konservasi, dan fungsi produksi bisa tercapai secara oftimal dan lestari. Itulah Birute dalam melindungi orangutan, yang diwarnai Birute memberikan pendidikan kepada ratusan ‘Guide’ tentang tata cara menerima tamu (turis) dan tata cara memelihara dan melindungi hutan.

Kini diusia senjanya 75 tahun, Birute masih nampak segar bugar sehat, dan beliau masih aktif membuat sejumlah program OFI, seperti program penanaman bibit pohon, sekaligus ‘Kampanye Orangutan’, yang berkelanjutan.

Ilustrasi : Maman Wiharja.

Sebagai penutup dalam tulisan ini, maka berkat jasa-jasa Birute, Kalteng khususnya Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), telah memiliki Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) dan Suaka Margasatwa (SM) Sungai Lamandau, yang kini menjadi magnet wisata dunia.

Dengan munculnya nama Birute, telah menggoreskan sejarah baru di dunia adanya seorang tokoh ilmuan ‘Wanita’ yang sangat berjasa pada penyelamatan hutan dan pelestarian orangutan di tengah rimba hutan tropis Taman Nasional Tanjung Putting (TNT) Kabupaten Kobar-Kalteng.

Tentunya, banyak jasa yang diberikan Birute dalam melestarikan orangutan di Tanjung Puting tidak akan seperti sekarang, yang kini hidup bebas. Dan siapapun orangnya yang merusak hutan dan orangutan maka sanksi hukumnya cukup berat.