Ubah Pola Pikir, Pemuda Kotim Kritisi Kesadaran Anti Korupsi

DISKUSI : IST/BERITA SAMPIT - Persatuan Pemuda Kotim (PPK) gelar diskusi daring "Membangun Kesadaran Anti Korupsi Bagi Generasi Muda Kotawaringin Timur (Kotim), Sabtu 20 Maret 2021.

SAMPIT – Kritisi kesadaran dan budayakan gerakan anti korupsi, sedikitnya 20 pemuda yang tergabung dalam Persatuan Pemuda Kotim (PPK), lakukan diskusi yang diinisiasi Bidang Sosial & Politik PPK, Kotawaringin Timur (Kotim), Sabtu 20 Maret 2021.

Mengusung tema, Membangun Kesadaran Anti Korupsi Bagi Generasi Muda Kotim, diskusi daring yang kedua kalinya dilakukan ini menghadirkan nara sumber, praktisi hukum dari Fakultas Hukum Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) Dio Ekie Ramanda.

Dalam paparannya, Dio menyebutkan, potensi bahaya korupsi bukan di episentrum kekuasaan, akan tetapi justru terjadi di daerah. Hal itu dikarenakan pengawasan pengelolaan keuangan sepenuhnya diserahkan ke daerah.

BACA JUGA:   Koperasi Baru Dibentuk ‘Wajib’ Adakan Penyuluhan, Ini Aturannya

“Disinilah peran dan tanggung jawab masyarakat diuji, terutama gerakan pemuda independennya,” katanya.

Menurut Dio, pengawalan harus dilakukan secara terukur, misalnya dengan melakukan riset kecil-kecilan.

“Pengelolaan dana daerah wajib dikawal oleh organisasi non pemerintah, seperti PPK ini. Tapi harus dilakukan based on data. Saat ini kan semua situs sudah open source ini sangat memudahkan kita,” imbuhnya.

Dio membuka pemaparannya dengan fakta getir mengenai hasil Survey Trancparency International tahun 2020 lalu menempatkan Indonesia di posisi 102 dengan skor 37. Skor ini turun drastis dari tahun sebelumnya, yakni 85.

“Realitanya ranking Indonesia terus turun. Berada diposisi 102 di tahun 2020, dimana berada diangka 85 ditahun sebelumnya. Ini menjadi salah satu preseden buruk dalam hal penegakan korupsi,” paparnya.

BACA JUGA:   Ratusan Pelajar SMAN 2 Sampit Antusias Ikuti Vaksinasi di Sekolah

Sementara, Nurrahmandani, salah seorang peserta, yang juga praktisi hukum di Kotim, menyoroti kondisi realitas sebagian pemuda di daerah ini.

Menurut Dani, kondisi sosial politik kurang mendapat perhatian pemuda Kotim.
Disebutkan, bahwa mengubah pola pikir para pemuda sudah menjadi sebuah keharusan.

“Pemuda dan mahasiswa khususnya, harusnya peka dalam hal ini. Mereka mempunya peran moral sebagai pengawas pemerintah. Mengubah pola pikir menjadi sebuah keharusan dilakukan saat ini,” tegasnya.

(jun/beritasampit.co.id)